Hanya 14% UKM Yang Siap Hadapi Ancaman Cyber

Penulis Churry

Jakarta, ItWorks- Ancaman kejahatan siber di era transformasi digital kian tinggi, termasuk menyasar para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Sayang hingga kini kesadaran pelaku usaha dalam mengantisipasi adanya serangan siber masih rendah, 14% yang sudah mempersiapkan diri menghadapi ancaman tersebut.

Era Revolusi Industri 4.0 menuntut para pelaku usaha, termasuk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk memahami dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Pelaku UKM juga harus bisa mendigitalisasi layanan dengan memanfaatkan platform online dalam mengembangkan usaha dan memasarkan produknya untuk dapat bersaing dengan pengusaha dari seluruh dunia.


Pemerintah melalui kementerian terkait, juga mendorong pelaku UKM di Indonesia untuk Go Digital melalui program UKM Go Online dengan cara memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan potensi bisnisnya. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menyatakan, sebanyak 3,79 juta UKM sudah memanfaatkan platform online dalam memasarkan produknya.

Namun di sisi lain tantangan yang dihadapi ketika mulai go digital juga kompleks, tidak hanya terkait pemasaran, tetapi juga terkait dengan ancaman serangan siber “Menurut Verizon 2019 Data Breach Investigations Report, 43% dari serangan siber menarget UKM dab hanya 14% UKM yang sudah mempersiapkan diri menghadapi ancaman tersebut,” ujar Deputi Bidang Proteksi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Akhmad Toha, saat membuka webinar Bimtek OnlineBatch I bertema “Penerapan Keamanan Informasi E-Commerce bagi Pelaku UKM” pada (27/7/2020), dilansir Bagian Komunikasi Publik, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat –BSSN.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Proteksi Informasi Perdagangan Berbasis Elektronik BSSN, Baderi, mengatakan, Indonesia merupakan pasar terbesar e-commerce di Asia Tenggara. Berdasarkan data Euromonitor tahun 2014 lanjutnya, nilai penjualan online Indonesia mencapai US$ 1,1 Miliar. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan nilai penjualan online Thailand dan Singapura. Euromonitor memperkirakan rata-rata pertumbuhan tahunan penjualan online Indonesia selama 2024-2017 mencapai 38%.

“Di Asia Tenggara Indonesia memimpin dengan pertumbuhan e-commerce sebesar 78% pada 2018, hal tersebut dipengaruhi oleh jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta jiwa. Bisa diperkirakan nilainya bila sekitar 50% dari penduruk Indonesia melakukan perdagangan secara elektronik, tentu sudah akan membuat nilai penjualan Indonesia sangat besar,” jelas Baderi.

Namun sayangnya nilai penjualan yang sangat besar itulah yang menjadi faktor penarik aktor jahat melakukan serangan siber menargetkan UKM. Karena itu, untuk menghindari insiden siber tersebut, sejak dini pelaku UKM yang sudah menggunakan media online dalam menjalankan bisnisnya, harus dibekali dengan pemahaman dan praktik keamanan informasi/siber.

Pengolah Data Keamanan Siber BSSN Eko Tulus dalam kesempatan tersebut berharap masyarakat memiliki pengetahuan tentang keamanan informasi. BSSN lanjutnya, juga telah melakukan berbagai terobosan untuk membangun security awareness dan memberikan bimbingan teknis kepada masyarakat.

“Diperlukannya solusi cerdas yang dapat digunakan seluruh lapisan masyarakat secara efektif menunjang keamanan siber mereka. BSSN telah menyusun Panduan Mandiri Keamanan Informasi (Paman Kami) yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku UKM. Paman Kami merupakan tools penilaian mandiri keamanan informasi yang berfokus pada 25 langkah keamanan informasi,” ujar Eko.

Paman Kami dapat digunakan sebagai mekanisme awal mengukur tingkat keamanan informasi sistem informasi yang dimiliki pelaku UKM. Diharapkan secara bertahap pelaku UKM dapat memenuhi seluruh tahapan keamanan informasi sehingga risiko keamanan dapat diminimalisir sehingga pelaku UKM dapat membangun dan mengembangkan usahanya dengan lancar dan aman dari serangan siber,”ujarnya. (AC)

BACA JUGA

Leave a Comment