Saat ini, jumlah aplikasi TI sangat banyak jumlahnya. Bahkan, seringkali kita temukan, beberapa aplikasi yang mirip baik dari tampilan atau fungsinya. Sebagai orang awam, lalu timbul pertanyaan, bagaimana cara membedakan aplikasi asli dengan yang palsu.
Dalam hal ini, tips dari pakar TI dan ahli keamanan digital dari Swiss German University, Charles Lim, bisa kita gunakan
“Selalu mengunduh aplikasi dari toko aplikasi resmi, seperti Play Store milik Google dan App Store milik Apple. Ini dilakukan agar terhindar dari aplikasi palsu atau ilegal yang dapat membahayakan data pribadi,” kata Charles dalam konferensi pers virtual, Selasa, 13/10.
“Kemudian, perhatikan identitas pembuat aplikasi ini karena biasanya identitas dari pembuat aplikasi agak aneh kalau memang palsu,” tambahnya.
Perhatikan juga komentar ulasan pada aplikasi. Biasanya, aplikasi palsu didominasi dengan komentar yang baik tanpa kritik.
Jumlah total unduhan juga perlu untuk diperhatikan. Jika sebuah aplikasi populer hanya memiliki sedikit unduhan, maka perlu dicurigai bahwa aplikasi tersebut palsu.
“Kalau mau lebih aman lagi, ada satu tips lagi, yaitu kita unduh aplikasi yang sudah ditandatangani atau sudah certified,” jelas Charles.
Dengan adanya certified apps, maka aplikasi tersebut akan menjadi aplikasi yang bisa dipercaya.
Meski aplikasi dalam toko resmi relatif lebih aman, riset yang dilakukan Charles mengungkap sebanyak 30 persen aplikasi yang ada pada Play Store masih mengandung malware.
Malware tersebut dapat berupa dari yang sederhana, seperti menampilkan iklan, hingga yang paling parah dapat mengunci akses ke ponsel, yang artinya meminta uang tebusan yang biasanya dalam bentuk bitcoin.
Charles menyebut modus kejahatan siber tersebut sebagai Ransomeware 2.0.
“Kalau Anda tidak serahkan maka informasi yang ada dalam handphone tersebut, termasuk foto-foto kita, chatting kita itu mereka ancam tidak akan dikembalikan bahkan mereka akan ekspos ke publik,” ungkap Charles.
Ia menambahkan mendeteksi secara keseluruhan sebuah aplikasi bebas malware merupakan hal yang sulit, namun jika langkah proteksi dilakukan, maka dapat meminimalisir ancaman kejahatan siber.
Baca: Begini Perilaku Pengguna Aplikasi Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia














