Hari ini majalah It Works mengelar It Works Webinar Series 2021, serial seminar online yang membahas isu-isu strategis di bidang TI, TELCO dan teknologi digital. Tema yang diangkat hari ini: “IT Security: A Strategic Key of Public Services and Business success in New Normal”. Tema tersebut sangat relevan dengan perkembangan era digital saat ini juga sesuai dengan kebutuhan korporasi dan instansi pemerintahan di Indonesia.
Dalam It Works Webinar Series hari ini, Edwin Lim, Country Director, Fortinet, Indonesia menjelaskan bahwa sejak tahun 2020 transformasi digital berproses lebih cepat, terlebih lagi seiring pandemi Covid-19. “Hampir semua aspek kehidupan seperti bekerja, belanja, belajar dilakukan secara online. Hal itu, otomatis meningkatkan risiko terjadinya insiden keamanan siber yang datang dari 4 hal terkait transformasi digital.”
“Pertama, transformasi digital sendiri yang melahirkan permukaan baru (edge, aplikasi, ekosistem) yang berpotensi jadi sasaran serangan siber. Kedua, kebijakan berkerja dari rumah (working from home) melahirkan teleworkers atau pekerja jarak jauh (yang menggunakan routers kelas rumahan, berbagi VPN, minimnya pemahaman dan kesadaran terkait keamanan siber) yang jadi sasaran empuk para penjahat siber.”
“Ketiga, penggelaran 5G yang menawarkan bandwith internet lebih tinggi, juga membawa risiko serangan siber yang lebih tinggi berupa arsitektur serangan yang datang dari segala penjuru (distributed), serangan siber yang datang lebih cepat, sedikitnya waktu yang tersedia untuk memberi respon serangan siber yang datang. Keempat, makin maraknya pemanfaatan komputasi awan juga membawa risiko yang meningkat terkait data integrity, kepatuhan pada peraturan (compliance), dan data privacy,” terang Edwin.
Memperhatikan keempat hal tersebut, Edwin menjelaskan, “Fortinet meramalkan 3 transformasi terkait keamanan siber di tahun 2021 ini. Pertama, adanya konvergensi antara Network dan Security yaitu transformasi digital membuat kegiatan mengakses dan menghantarkan data dan aplikasi dapat dilakukan dari mana saja. Kedua, adanya kebebasan memilih di lingkungan komputasi awan dengan cyber sovereignity (kedaulatan siber) jadi hal yang paling diutamakan. Ketiga, Edge (LAN, WAN, OT, Cloud, Home, Data) makin mengemuka dan dominan. Serta aplikasi-aplikasi baru lahir dengan cepat.”
Transformasi terkait keamanan siber itu, menurut Edwin, pada gilirannya membuat pemilihan penyedia keamanan siber yang mumpuni bagi suatu organisasi harus memperhatikan 3 syarat penting.
“Pertama, memiliki jangkauan yang luas. Yaitu, kemampuan monitoring dan melindungi seluruh permukaan digital yang rawan terhadap serangan. Sehingga dapat mengelola risiko dengan lebih baik. Kedua, terintegrasi yaitu solusi yang ditawarkan harus dapat mengurangi keruwetan manajemen pengelolaan keamanan siber. Solusi itu juga harus mampu menginformasikan secara cerdas terkait hadirnya ancaman. Ketiga, memiliki kemampuan otomatisasi yaitu solusi keamanan siber dengan jaringan yang mampu “mengobati diri sendiri” dan dilengkapi perlindungan berbasis teknologi AI. Untuk mendukung operasional organisasi dengan cepat dan efisien.”
Baca: It Works Webinar Series”: Berkat “Lalakisajabar”, Pemprov Jabar Sukses Mengelola Cyber Security
Edwin mengklaim Fortinet, dengan rangkaian produk yang memberikan perlindungan lengkap di seluruh permukaan digital terhadap serangan, memiliki kelebihan dibandingkan penyedia solusi keamanan siber yang lain. “Kami memiliki solusi FortiGuard Services dengan rangkaian produk lengkap yang dapat digunakan di lingkungan aplikasi, virtual machine, Cloud, SaaS, dan Software.”
Edwin mengatakan kehandalan solusi Fortinet terbukti dari pengakuan yang diberikan lembaga riset Gartner di tahun 2020 lalu sebagai Leader dalam 2 Magic Quadrant Reports untuk kategori Network Firewalls dan WAN Edge Infrastructure.
Menurut Edwin, pengakuan sebagai Leader di industri keamanan siber itu, diraih Fortinet berkat 4 pilar yang dijalankan dalam memberikan layanan keamanan siber bagi klien-klien level enterprise.
“Pilar pertama aspek Keuangan, dengan memberikan penghematan CapEx, pengurangan TCO, mitigasi risiko, dan pilihan solusi lengkap mulai dari fisik, virtual dan Cloud.”
“Kedua, apek Teknis meliputi punya kinerja terdepan di industri, Operating Systems yang ada dimana-mana, API yang lengkap, dan memberikan perlindungan yang efektif.”
“Pilar ketiga, aspek Operasional dengan adanya teknik pengaturan dan otomatisasi, manajemen terpusat, dan dukungan kelas enterprise bagi organisasi.
“Terakhir, Transisi berupa optimalisasi kebijakan, layanan perubahan ke otomatisasi, dan penyediaan layanan yang minim sentuhan.”
Dalam kesempatan ini kepada para peserta Webinar, Edwin juga membagikan tips Membangun Strategi Keamanan Siber untuk tahun 2021 bagi organisasi.
“Pertama dan paling penting, mulailah dengan karyawan anda sendiri sebagai pondasi strategi keamanan siber anda. Mereka dapat dikelompokan dalam 3 kategori berdasarkan kriteria yang disusun menurut kepentingan organisasi anda, yaitu General users, Power users, dan Super users.
“Kedua, tingkatkan keterhubungan dalam organisasi anda sebagai bagian dari rencana keamanan siber yang strategis. Prioritaskan traffic bisnis yang penting, amankan jalur koneksinya, dan pusatkan teknik pengaturannya”
“Terakhir, bangun budaya keamanan siber dengan melatih karyawan anda untuk selalu dalam kondisi siaga. Caranya, beri pemahaman dasar terkait keamanan siber, berkomunikasi secara efektif, dan ukurlah kemajuan yang dicapai organisasi dalan hal keamanan siber,” tutup Edwin.














