Jakarta, ItWorks- Dengan makin meluasnya kesenjangan digital di masa pandemi, ‘Pakar Perubahan’ akan menentukan masa depan. Menurut Accenture Technology Vision 2021 yang didapat dari riset, kepemimpinan menjadi sangat penting di saat semua bisnis menjadikan teknologi sebagai andalan.
Pada hari Rabu, 7 April 2021, Accenture di Indonesia menyelenggarakan Media Briefing untuk laporan Technology Vision tahunan yang ke-21, bertajuk “Leaders Wanted: Masters of Change at a Moment of Truth”. Laporan tersebut memprediksikan tren teknologi paling signifikan yang akan diterapkan perusahaan untuk dapat menguasai perubahan selama tiga tahun kedepan.
Media Briefing dipandu oleh Kher Tean Chen, Country Managing Director, Accenture in Indonesia dan Retno Kusumawati, Managing Director of Technology, Accenture in Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Kher Tean Chen, Country Managing Director, Accenture in Indonesia, mengungkapkan pandemi global menekan tombol percepatan yang sangat besar ke masa depan. Banyak organisasi memutuskan untuk menggunakan teknologi dengan cara-cara yang luar biasa agar bisnis dan komunitasnya tetap berjalan – dengan kecepatan yang tadinya mereka anggap tidak mungkin.
“Pandemi global mendorong perusahaan untuk melakukan percepatan ke masa depan. Banyak perusahaan termasuk di Indonesia memutuskan untuk menggunakan teknologi dengan cara-cara yang luar biasa, dengan kecepatan yang tadinya mereka anggap tidak mungkin, agar bisnis dan komunitasnya tetap berjalan,” papar Kher Tean Chen dalam keterangan tertulis yang dilansir dalam rilis pers, baru-baru ini.
Sementara itu Retno Kusumawati – Managing Director of Technology, Accenture in Indonesia, mengatakan, dalam kondisi seperti sekarang, perusahaan perlu memikirkan kembali bagaimana aplikasi dikembangkan dan diterapkan, serta bersaing pada arsitektur teknologi agar lebih gesit dan fleksibel. “Faktanya, hampir semua eksekutif (95%) di Indonesia menyatakan bahwa arsitektur teknologinya menjadi sangat penting demi kesuksesan perusahaan mereka secara keseluruhan,” ujarnya.
Accenture melakukan survei ke lebih dari 6.200 pemimpin bisnis dan teknologi untuk laporan Technology Vision, dan 92% mengungkapkan bahwa perusahaan mereka berinovasi karena dorongan dan keharusan untuk bertindak tahun ini. Dan 91% eksekutif setuju bahwa untuk menguasai pangsa pasar di masa depan, berarti perusahaan mereka harus menetapkan pasar itu sendiri.
Untuk membentuk masa depan, perusahaan harus menjadi penguasa perubahan dengan menerapkan tiga kunci yang sangat penting. Pertama adalah kepemimpinan teknologi. Berakhirnya era dimana hanya ada fast follower, perubahan yang berkesinambungan bersifat permanen. Pemimpin masa depan adalah mereka yang menaruh teknologi di lini depan strategi bisnisnya.
Kedua, pemimpin tidak menunggu kenormalan yang baru,mereka akan menata ulang, membangun realitas baru menggunakan pola pikir dan model yang sangat berbeda secara radikal. Terakhir, pemimpin akan mengemban tanggung jawab yang lebih besar sebagai masyarakat global, mendesain dan mengaplikasikan teknologi terencana untuk menciptakan dampak positif yang lebih besar, daripada hanya untuk perusahaannya demi menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan dan inklusif.
Dalam kesempatan ini juga dipresentasikan lima tren teknologi utama yang perlu diatasi oleh perusahaan di Indonesia selama tiga tahun ke depan, di antaranya:
Stack Strategically: Architecting a Better Future
Era baru kompetisi industri telah dimulai – dimana perusahaan bersaing dalam mendesain sistem IT mereka. Namun, membangun dan menggunakan susunan teknologi yang paling kompetitif, berarti berpikir berbeda tentang teknologi. Sehingga strategi bisnis dan teknologi menjadi tidak bisa dibeda-bedakan. 95% eksekutif di Indonesia percaya bahwa kemampuan organisasi mereka untuk membangkitkan nilai bisnis akan meningkat berdasarkan keterbatasan dan kesempatan dari desain teknologinya.
Mirrored World: The Power of Massive, Intelligent, Digital Twins
Pemimpin sedang membangun Digital Twins yang cerdas untuk menciptakan model nyata pabrik, rantai pasokan, siklus produk, dan lainnya. Menyatukan data dan kecerdasan yang mewakili dunia fisik di ruang digital akan membuka kesempatan baru untuk beroperasi, berkolaborasi, dan berinovasi. 65% eksekutif yang mengikuti survei memperkirakan bahwa invesitasi digital organisasi mereka untuk kembar digital yang cerdas akan meningkat selama tiga tahun ke depan.
I, Technologist: The Democratization of Technology
Kapabilitas yang luar biasa sekarang tersedia untuk siapa saja di seluruh fungsi bisnis, membuat lapisan akar rumput menjadi bagian dari strategi inovasi perusahaan. Sekarang, setiap karyawan dapat menjadi inovator, mengoptimalkan kerja mereka, memperbaiki masalah, dan menjaga bisnis tetap dekat dengan kebutuhan baru dan yang terus berubah. 88% eksekutif percaya bahwa demokratisasi teknologi menjadi sangat penting agar dapat memantik inovasi di seluruh organisasi mereka.
Anywhere, Everywhere: Bring Your Own Environment
Satu pergeseran tenaga kerja terbesar dalam satu masa membuat bisnis harus memperluas batasan tentang perusahaan. Ketika orang dapat “membawa suasana kerjamu sendiri”, mereka mempunyai kebebasan untuk bekerja dengan baik dari mana saja – baik itu di rumah, di kantor, di bandara, kantor mitra, atau tempat lainnya.
Dengan model seperti ini, pemimpin dapat memikirkan kembali tujuan bekerja di setiap lokasi dan mendorong kesempatan untuk membayangkan kembali bisnis mereka di dunia ini. 81% eksekutif setuju bahwa organisasi terdepan di industrinya akan mulai bergeser dari pendekatan tenaga kerja ‘Bawa Perangkatmu Sendiri’ menjadi ‘Bawa Suasana Kerjamu Sendiri’.
From Me to We: A Multiparty System’s Path Through Chaos
Permintaan untuk menelusuri kontak, pembayaran lancar, dan cara-cara baru membangun kepercayaan menjadi fokus penting dari apa yang belum berhasil dilakukan oleh ekosistem perusahaan yang telah ada. Sistem multipihak dapat membantu bisnis memiliki daya lenting dan kemampuan beradaptasi yang lebih baik; membuka cara-cara baru untuk mendekati pasar; dan menetapkan standar baru yang mengedepankan ekosistem untuk industrinya.
Sebanyak 92% eksekutif di Indonesia yang berpartisipasi dalam survei menyatakan bahwa sistem multipihak akan membuat ekosistem mereka mampu membangun fondasi yang lebih tahan banting dan mudah beradaptasi untuk menciptakan nilai baru bersama dengan mitra organisasi. (AC)














