Jakarta, Itech- Beberapa kali upaya BI intervensi pelemahan rupiah gagal karena hanya bergeming sedikit untuk kemudian terus melemah sejak awal tahun 2015, malahan menggerus cadangan devisa dan indikator ekonomi RI, seperti menyiram garam di laut. Bahkan dua kali upaya mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi dinilai gagal oleh pasar dengan indikasi Rupiah terus melemah hingga mendekati angka psikologis krisis Rp 15,000 yang dapat mengakibatkan banyak perusahaan besar yang bergantung pada hutang valuta asing gulung tikar.
Paket Kebijakan Ekonomi ketiga dikeluarkan bersamaan dengan Presiden Jokowi sebagai Inspektur Upacara pada Peringatan HUT ke 70 Tentara Nasional Indonesia (TNI) menuai momentum titik infleksi penguatan Rupiah yang luar biasa hingga dibawah Rp 13,869 (8/10/2015) posisi terkuat sejak 19 Agustus 2015, pasalnya Parade Militer akbar TNI diikuti oleh atraksi memukau Kekuatan TNI dalam Perang Modern, yang melibatkan puluhan pesawat tempur Angkatan Udara; 52 Kapal Perang; Kapal Selam dan puluhan Tank Angkatan Darat secara komprehensif. Deterrent force (kekuatan penangkal) memanfaatkan Minimum Essential Force (MEF) policy.
Puluhan peluru kendali yang ditembakkan dari kapal, pesawat, helicopter dan kendaraan artileri bertubi tubi ke laut mirip adegan perang di teater Hollywood yang jarang dapat dilakukan oleh Negara lain didunia, membuat HUT ke 70 TNI ini menjadi suatu momentum sejarah demonstrasi kekuatan Angkatan Bersenjata didunia yang unik. Ini tentu memberikan sentiment sangat positif dan berita segar bagi para Atase Militer serta DutaBesar Negara sahabat yang hadir pada acara HUT TNI untuk disampaikan kepada Negaranya bahwa kondisi politik, ekonomi RI sangat kondusif, stabil dan kompak untuk masuknya investasi dan modal dari Negara Negara sahabat.
Sebagai informasi, Lembaga pemeringkat Global Firepower memposisikan kekuatan militer RI diurutan ke 12 besar dunia setelah AS, Rusia, RRT, India, UK, Korea, Israel jauh diatas negara tetangga kita seperti Singapura, Malaysia bahkan Australia. Seusai peran Presiden Jokowi sebagai Inspektur upacara langsung turun panggung blusukan ditengah ratusan masyarakat yang mengelu-elukan ingin bersalaman dengan Presiden didepan panggung para diplomat yang merupakan fenomena langka seorang Presiden (, sejak presiden proklamator pertama) berani meninggalkan protokol pengamanan langsung bersalaman dengan masyarakat memberikan signal hubungan yang erat dan kepercayaan penuh Pemerintah dan Rakyatnya, apalagi diawali dengan defile Tank militer marinir dan TNI AD yang diikuti ratusan masyarakat yang ikut defile.
Dari bincang-bincang Rudi Rusdiah, yang juga Ketua Umum Apkomindo, Alumnus Lemhannas PPRA XLII/2008 dan anggota Desk Cyber, KemenPolhukam dengan beberapa Atase Pertahanan negara sahabat yang hadir, terlintas sebuah persepsi yang memberikan signal sangat positif mengenai kondisi RI yang sangat kondusif, kompak dan aman untuk investasi Global negara sahabat dan investor domestik berdampak sentimen positif bagi Pasar menyebabkan titik infleksi peningkatan rupiah selama seminggu ini. Suatu persiapan dan demonstrasi kekuatan TNI bersama rakyat yang memukau dunia melalui media cetak; elektronik dan sosial, yang berlangsung di Dermaga Indah Kiat, Cilegon Banten dipimpin oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bersama seluruh jajaran TNI AD, AL dan AU dengan komandan upacara Letnan Jenderal Edy Rahmayadi.
Belum lagi berita yang dipush dan merebak di Sosial Media seperti Twitter, Facebook dll tentu membuat signal positif di command centre dikantor pusat mereka di silicon valley seperti halnya fenomena twit atau kicau pada saat kampanye Presiden JKW; PM India atau berita gempa di Jepang pada era Big Data Analytics (BIDA) ini.
Harapan Rudi, sebagai pelaku industri Telematika, melalui Micronics Group, semoga momentum inflection point penguatan rupiah dan sentimen positif ini dapat terus bertahan hingga akhir tahun saat permintaan valuta biasanya meningkat karena pembayaran hutang.















