Reporter: Fauzi
Mengusung tema paparan ‘IT Digitalization as Enabler in Sasa Business Transformation Journey’, PT Sasa Inti (Sasa) mengungkap hal menarik seputar peran IT dalam proses transformasi bisnis di perusahaan tersebut.
Transformasi bisnis merupakan sebuah keniscayaan, terlebih bagi perusahaan dengan perjalanan waktu yang cukup panjang seperti Sasa. Ada beberapa poin yang membuat Sasa harus bertransformasi. Hal itu seperti diungkap Ridwan Nurfalah, Head of IT PT Sasa Inti, di hadapan Dewan Juri TOP Digital Awards 2021 pada sesi penjurian yang digelar Majalah It Works secara virtual.
Dikatakan Ridwan, hal pertama yang membuat Sasa harus melakukan transformasi bisnis adalah adanya perubahan dan pergeseran tren yang berkembang saat ini. Selain menghadapi perubahan, hal lain yang juga menjadikan Sasa harus bertransformasi adalah adanya ancaman (industry threats), lalu ambisi bisnis (business ambition), dan market expectation yang diharapkan semakin berkembang ke depannya.
“Untuk mencapai (tujuan) itu, kita memiliki strategi untuk menghadapi perubahan, ancaman industri yang berkembang, kemudian ambisi bisnis (yang) kita harus upayakan seperti apa. Nah, berdasarkan dari referensi yang kita punya, kita harus memperbaiki, pertama adalah dari sisi direction, kedua dari sisi customers, ketiga dari Innovation, keempat operation, dan talent,” ungkap Ridwan.
Lima poin itulah yang disebut Ridwan menjadi strategi atau frame work yang akan dilakukan dan menjadi acuan bagi IT untuk melakukan upaya untuk mendukung perubahan atau transformasi bisnis yang dilakukan di PT Sasa Inti.
“Nah, dari posisi yang kita rumuskan oleh manajemen kita akan masuk ke poin-poin yang di mana kita menjadi istilahnya enabler (pengaktif) dari posisi itu. Sehingga dari peran yang IT akan berikan nantinya bisa ber-impact ke dalam business transformation yang dilakukan oleh Sasa. Pertama, adalah dari sisi direction. Kita sudah memiliki visi dan misi, di mana visi dan misi ini harus kita implementasikan ke dalam satu strategi budaya yang kita bisa lakukan di internal environment-nya Sasa di mana ini sudah kita lakukan peran serta karyawan Sasa pada khususnya, dan umumnya secara keseluruhan di level manajemen juga sudah memberikan arahan yang jelas dan lugas, sehingga perubahan yang dihadapkan ke depan sudah disiapkan juga di internal kita. Sehingga dengan kondisi tersebut proses perubahan itu bisa berlangsung secara baik. Ini yang sudah kita lakukan dari sisi direction,” kata Ridwan.
Selanjutnya dari sisi customer. Dalam hal ini Ridwan tak menampik bahwa sebelum tahun 2019, masyarakat di Indonesia pada khususnya itu sangat mengenal Sasa sebuah sebuah perusahaan MSG, sehingga pemikiran ini menjadi semacam stigma yang akan terus menerus melekat di brand Sasa.
“Apa yang dilakukan oleh Sasa, setelah itu adalah melakukan perubahan (dan) yang harus dilakukan adalah kita mengubah persepsi yang tadinya dari MSG Company menjadi Kitchen Food Company atau Kitchen Food Company from Indonesia dari tahun 2019 sampai sekarang dengan tema yang lebih fun, modern, young, dynamic, credible, inspiring, legendary, itu yang akan kita susun ke depannya. Nah, dari situ kita juga ingin menge-adjust dari sisi milenial dengan menghadirkan target audiens yang lebih muda. Orang mengenal Sasa itu adalah produk yang dekat dengan anak muda. Sehingga future market kita ke depan itu akan lebih menyasar ke anak-anak muda yang produktif. Di mana kita ingin menargetkan di tahun 2021 spesifik ke customer atau konsumen Sasa itu di antara usia 18 – 35 tahun,” beber Ridwan.
Adapun dari sisi inovasi, Ridwan menyebut saat ini Sasa telah memiliki program-program yang mendukung aktivitas New Product Development (R&D). Dari sini, Sasa bisa menghadirkan produk-produk yang berkualitas dengan didukung sistem e-NPD yang telah dimiliki saat ini.
Lebih lanjut, masih dari sisi inovasi, khususnya dalam hal transformasi digital, Sasa telah memiliki sejumlah aplikasi, di antaranya Sasa Apps yang dipakai di internal perusahaan, lalu ada pula e-NPD dan Sasa Portal. ”Nah, Sasa Portal ini yang nantinya akan banyak dimanfaatkan oleh aktivitas operasional Sasa,” tandas Ridwan.
Hal lain yang juga tak luput dilakukan Sasa adalah melakukan peningkatan (improvement) untuk IoT (Internet of Things) dan data management yang menurut Ridwan, ke depannya bisa dimanfaatkan juga oleh marketing dan sales. Berkaitan dengan dukungannya terhadap industry 4.0, dalam hal ini Sasa juga sudah atau dalam proses pengembangan beberapa teknologi atau aplikasi pendukung. Seperti Augmented Reality (AR) untuk packaging serta mengaktifkan Live Scoring OEE Manufacture di pabrik yang kini sudah bisa dilakukan secara langsung. Dengan Live Scoring OEE Manufacture, jajaran manajemen Sasa bisa memonitor perkembangan di lantai produksi.
Ridwan mengatakan dari sisi operation, Sasa yang memiliki 3 cabang (pabrik), yakni Sasa Cikarang, Gending dan Minahasa, saat ini sudah membangun infrastruktur yang terintegrasi di satu sama lain. “Jadi, kita sudah menggunakan Fiber Optic, Network Optimation, dan pengembangan DC dan DRC yang sudah berjalan. Kemudian dari sisi operation kita juga (telah mengembangkan supply chain, dari sisi core kita sudah menggunakan SAP, tapi dari sisi operation kita didukung dengan Sasa Apps juga dan Sasa e-Bidding yang saat ini juga digunakan di lingkungan supply chain,” ungkap Ridwan.
Terakhir dari sisi talent, dalam hal Ridwan mengatakan bahwa Sasa juga sangat berperan aktif untuk terus melakukan sosialisasi Sasa Care Support System yang dilakukan oleh tim HR dan kita sudah lakukan secara bertahap dan berkesinambungan.
“Kemudian yang tidak kalah penting adalah performance management system. Nah, ini juga sebenarnya kita sudah membangun sistem ini untuk mengukur efektivitas dan perubahan culture yang dilakukan dengan Sasa Care itu, berapa besar yang sudah terjadi di karyawan Sasa. Kita juga mendukung program tersebut di HR dengan adanya Sasa Care, Shure System, Sasa Portal dan sebagainya,” tutup Ridwan.














