Reporte: Abi Abdul Jabar Siddiq
Editor: Fauzi
Dalam era yang serba digital, agar tidak ketinggalan seluruh bisnis tentunya juga harus mengikuti perkembangan. Hal ini lah yang menjadi alasan PT BPD Sulawesi Selatan dan Barat atau dikenal dengan Bank Sulselbar secara aktif terus mengembangkan produk dan layanan perbankan dengan dukungan teknologi digital untuk memudahkan kebutuhan nasabah dan masyarakat.
Memasuki usia ke-60 tahun (berdiri sejak 1961 .red) Bank Sulselbar telah melakukan investasi besar dalam hal transformasi digital demi kemudahan akses perbankan bagi nasabahnya. Transformasi digital yang dilakukan Bank Daerah milih Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat ini bahkan tak kalah dari bank-bank besar umum yang ada di Tanah air.
Strategi Bank Sulselbar dalam mendorong digitalisasi, salah satunya dilakukan dengan memperbanyak layanan digital di kantor-kantor cabang yang sebelumnya masih dilakukan menggunakan loket antrian, mengumpulkan dan menganalisa data untuk lebih memahami kebutuhan nasabah eksisting sambil melihat peluang untuk akuisisi nasabah baru dengan menunjukkan transformasi digital dari Bank Sulselbar yang sudah ramah dengan kalangan milenial.
“Target saat ini mengubah stigma masyarakat akan Bank Sulselbar yang saat ini hanya dilihat sebagai bank pengelola dana pemda, sehingga nantinya Bank Sulselbar lebih dikenal lagi di kalangan masyarakat karena besarnya transformasi digital di bank kami,” kata Muhammad Iqbal, Pemimpin Grup Divisi Teknologi Informasi Bank Sulselbar saat mengikuti sesi Penjurian TOP DIGITAL Awards 2020 secara online yang digelar Majalah IT Works, Senin, 25 Oktober 2021.
Iqbal mengatakan saat ini Bank Sulselbar telah memiliki beberapa solusi IT unggulan yang mendukung proses otomasi bisnis perbankan serta memiliki peran besar dalam menunjang kinerja bisnis bank, di antaranya:
Pertama, SIMPADA (Sistem Informasi Manajemen Pajak Dan Retribusi Daerah). SIMPADA adalah sebuah platform sistem yang mengelola Sistem Manajemen Pajak dan Restribusi Daerah yang diluncurkan pada awal Juni 2021 lalu.
“Dengan aplikasi SIMPADA, masyarakat dapat melakukan pembayaran pajak dan retribusi secara terintegrasi. Maksudnya, retribusi seperti jasa umum, usaha, perizinan, termasuk Izin Membangun Bangunan (IMB). Sementara terintegrasi yang dimaksud adalah potensi terjadinya selisih atau kesalahan pajak sudah tidak ada karena langsung terhubung dengan data Bapenda. Tidak hanya sebagai sistem pembayaran pajak, SIMPADA juga merupakan bentuk integrasi dari sistem monitoring, evaluasi dan pelaporan pajak,” kata Iqbal.
Menurut Iqbal kehadiran SIMPADA selain memberikan platform yang handal dalam pengelolaan Sistem manajemen Pajak dan Retribusi Daerah juga SIMPADA menguatkan peran perusahaan dalam misi mitra strategis Pemda dalam pembangunan daerah. SIMPADA, kata Iqbal, juga merupakan sebuah solusi IT yang menunjang elektronifikasi tata kelola penerimaan dan pengeluaran Pemda.
“Sistem elektronifikasi dana pemda ini banyak jenisnya dan sudah terkoneksi antara sistem kami dengan sistem TI di pemda sendiri. Baik untuk penerimaan maupun pengeluaran dana pemda. Hal ini tak hanya untuk mempermudah layanan menjadi lebih efektif dan efisien, sekaligus juga untuk mempermudah mitigasi risiko layanan. Dan topologi arsitektur TI kita juga digunakan oleh beberapa pemda lainnya,” tutur Iqbal.
Ia menambahkan inovasi sistem TI Bank Sulselbar yang sudah diintegrasikan di program Pemda antara lain: Program Transaksi Non Tunai (Sistem Pembayaran), Program Optimalisasi Penerimaan Daerah (Sistem Penerimaan), Program Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (eSamsat Lokal Sulselbar), Hospital Billing (sistem pembayaran/keuangan RS Daerah), Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sampai sistem transaksi penerimaan pembayaran PDAM.
Kedua, Mobile Banking Bank Sulselbar. Mobile Banking (M-Banking) Bank Sulselbar diluncurkan pada tahun 2018 lalu merupakan layanan perbankan berbasis aplikasi ‘smartphone’ yang memiliki banyak fitur terntegrasi untuk kemudahan transaksi perbankan. Layanan diluncurkan perusahaan berbasis kartu SIM provider seluler, lalu validasi secara langsung pada jaringan kantor fisik sehingga lebih menjamin kemanan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan berbasis digital.
Iqbal menyebut ada Sembilan fitur utama dari Mobile Banking ini, antara lain:
- Fitur informasi Rekening untuk melihat Saldo.
- Fitur History Transaksi untuk melihat riwayat transaksi yang telah dilakukan, fitur hostory layaknya seperti fitur inbox pada mobile banking lain.
- Fitur Mutasi rekening untuk melihat debit dan kredit di Rekening.
- Fitur Transfer untuk melakukan transfer antar rekening Bank Sulselbar dan Transfer antar rekening Bank Sulselbar ke rekening Bank lain.
- Fitur Pembelian untuk Pulsa Telkomsel, Tri, Smartfren, Mentari, IM3.
- Fitur Pembayaran untuk membayar tagihan kartu halo, Smartfren Postpaid, Matrix, listrik, PDAM, Pajak Bumi Bangunan, BPJS dan Pajak kendaraan.
- Fitur informasi lokasi untuk mengetahui lokasi ATM dan Kantor Cabang Bank Sulselbar terdekat.
- Fitur Transfer Virtual Account untuk melakukan transfer virtual Account.
- Fitur Pembayaran Kartu Kredit untuk melakukan pembayaran tagihan kartu kredit.
“Di saat pandemi ini, M-Banking Bank Sulselbar juga menyediakan Mobile Loan atau fasilitas mengajukan pinjaman dan kredit melalui Mobile Banking. Jadi, jika nasabah mau mengajukan permohonan fasilitas kredit tak perlu datang ke kantor bisa via Mobile Banking. Solusi ini mendukung anjuran pemerintah untuk tetap di rumah selama pandemi Covid-19 ini. Produk ini telah dikembangkan sejak tahun 2020,” papar Iqbal. Saat ini Aplikasi Mobile Banking Bank Sulselbar sudah di download lebih dari 100 ribu pengguna di Google Playstore.
Kinerja yang Meningkat
Iqbal mengatakan kehadiran produk digital yang dirilis Bank Sulselbar dinilai mendapat respons yang baik dari nasabah. Hal itu terlihat dari adanya peningkatan transaksi perbankan atau fee based income yang cukup besar. Pendapatan itu pun berkontribusi pada laba perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan yang diterbitkan Bank Sulselbar, laba bersih bank ini mencapai Rp 620,93 miliar pada 2020. Capaian tersebut naik 0,69% dari tahun 2019 sebesar Rp 616,6 miliar.
Kenaikan tipis laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 9,2% dari Rp 1,35 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp 1,48 triliun. Sedangkan pendapatan berbasis biaya dan komisi atau fee based income (FBI) Bank Sulselbar turun 13,3% dari Rp 285,4 miliar menjadi Rp 247,2 miliar di akhir tahun lalu.
Aset Bank Sulselbar meningkat 5,5% dari Rp 23,5 triliun tahun 2029 menjadi Rp 24,8 triliun tahun 2020. Ini sejalan dengan pertumbuhan kredit dan pembiayaan 6,5% dari Rp 18,4 triliun menjadi Rp 19,6 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 3,7% yoyo ke Rp 16,18 triliun.
Rasio kredit bermasalah atau Net Performing Loan (NPL) bank ini secara gross turun dari 1,25% tahun 2019 menjadi Rp 0,65% dan NPL net 0,94% menjadi 0,28%.














