ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Ini Hasil Riset Solusi Manajemen Kejahatan Finansial Lembaga Keuangan Di Asia-Pasifik

Teguh Imam Suyudi
7 November 2021 | 11:00
rubrik: Digital, Research
Ini Hasil Riset Solusi Manajemen Kejahatan Finansial Lembaga Keuangan Di Asia-Pasifik

Next-Gen Financial Crime Management: APAC Finance, Banking, and Ecommerce

Share on FacebookShare on Twitter

GBG, perusahaan teknologi global dalam bidang identitas digital, yang membantu berbagai perusahaan mencegah fraud dan memenuhi syarat kepatuhan, mengumumkan diterbitkannya studi IDC InfoBrief “Bangun, Beli, atau Sewa: Mengevaluasi Strategi yang Efektif untuk Memerangi Meningkatnya Kejahatan Finansial dan Penipuan di Asia/Pasifik“.

Lembaga keuangan (LK) di seluruh Asia-Pasifik terus menyesuaikan strategi dan investasi manajemen kejahatan keuangan mereka, antara lain mengambil kepemilikan penuh dan membangun sistem internal, membeli solusi, atau memanfaatkan layanan yang dikelola oleh penyedia solusi.

Infobrief IDC bekerjasama dengan GBG, disusun sebagai panduan konsultatif untuk membantu lembaga keuangan melakukan uji tuntas dalam mempertimbangkan parameter-parameter penting dan mengambil keputusan terkait solusi anti-penipuan generasi berikutnya.

GBG menugaskan IDC untuk melakukan riset pasar bertajuk “Next-Gen Financial Crime Management: APAC Finance, Banking, and Ecommerce” melibatkan lebih dari 800 responden di 8 pasar utama di Asia-Pasifik termasuk Singapura, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Thailand, Hong Kong, Australia, dan Filipina.

Penelitian ini menemukan bahwa satu dari empat (26 persen) LK di Asia-Pasifik saat ini menggunakan sistem manajemen fraud originasi/aplikasi yang dibuat sendiri. Namun, kecenderungan untuk membangun solusi anti-penipuan internal diperkirakan akan menurun, sebab hanya 21 persen responden memilih strategi membangun sendiri sistem penipuan originasi generasi berikutnya.

Di Indonesia, tren penurunan membangun sendiri solusi internal ini bahkan lebih jelas terlihat. Setidaknya 25 persen LK di Indonesia saat ini menggunakan sistem manajemen fraud originasi/aplikasi yang dibangun sendiri, namun, hanya 15 persen LK di Indonesia yang memilih strategi membangun sendiri sistem manajemen fraud originasi generasi berikutnya, menunjukkan penurunan 10 persen, dibandingkan dengan 5 persen di wilayah Asia-Pasifik.

Tren penurunan kecenderungan untuk membangun sendiri solusi ini juga terlihat untuk sistem fraud transaksi generasi berikutnya, platform manajemen kejahatan keuangan hulu ke hilir, solusi anti pencucian uang (AML)/kepatuhan, Know Your Customer (KYC)/solusi verifikasi identitas, machine learning/AI, serta solusi orkestrasi.

BACA JUGA:  IDC Prediksi Pasar Komputer PC Terus Lemah Tahun ini

Dalam keterangannya, 04/11/2021, Dev Dhiman, Managing Director, APAC at GBG menjelaskan, “Membangun, membeli, atau menyewa adalah dilema yang sejak dulu dihadapi oleh perusahaan rintisan maupun lembaga keuangan yang sudah mapan. Masalah ini semakin mencuat disebabkan oleh pandemi yang mempercepat digitalisasi dan mengubah proses manajemen risiko fraud.”

Ia menambahkan, “Kita sekarang berada di era teknologi cerdas dan hiperkonektivitas, sehingga kompleksitas dan kecanggihan fraud serta kejahatan keuangan juga meningkat. Seiring dengan semakin mudahnya akses ke teknologi baru dan meningkatnya waktu yang dihabiskan di perangkat seluler, penipu dapat memanfaatkan taktik-taktik baru serta inovatif yang dapat membahayakan konsumen dan berbagai institusi.”

“Lembaga keuangan perlu mempertimbangkan strategi investasi manajemen kejahatan keuangan mereka dengan lebih hati-hati. Pada dasarnya, perlu adanya pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam hal sumber daya TI, skalabilitas yang cepat untuk menumbuhkan saluran dan model bisnis baru, mampu mengelola kompleksitas tipologi fraud saat ini dan yang akan datang, serta seimbang agar dapat memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik,” lanjut Dhiman.

Di antara LK di Asia-Pasifik yang telah membangun sendiri solusinya, 85 persen melaporkan bahwa mereka akan mengganti sistem yang telah mereka bangun dalam waktu tiga tahun — dan satu dari empat perusahaan menunjukkan siklus penggantian setiap 12 bulan.

Di Indonesia, ada lebih banyak LK yang akan mengganti sistem internal mereka dalam jangka pendek – 86 persen LK yang disurvei berencana untuk mengganti solusi yang telah mereka bangun dalam waktu tiga tahun, sedangkan satu dari tiga LK akan mengganti sistem yang mereka bangun setiap 12 bulan.

Solusi kejahatan keuangan biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menetapkan ritme deteksi dan pencegahan fraud setelah fase penerapan selesai. Organisasi biasanya akan terus memperluas pencegahan penipuan ke lebih banyak layanan atau saluran dan mengoptimalkan efektivitas akurasi deteksi penipuan serta meminimalkan friksi pelanggan.

BACA JUGA:  Mayoritas Perusahaan Indonesia Belum Prioritaskan Teknologi Digital

Untuk sistem yang memanfaatkan machine learning, dibutuhkan waktu untuk melatih kembali model deteksi tipologi penipuan baru. Dilakukannya pengaturan sistem inti secara berulang kali akan menciptakan kesenjangan yang membuat manajemen fraud kurang efektif.

Michael Araneta, Associate Vice-President, IDC Financial Insights mengatakan, “Lembaga keuangan sekarang beroperasi di pasar konsumen yang terdigitalisasi dengan cepat, dan mereka menghadapi risiko-risiko baru dalam kejahatan keuangan dan fraud. Mereka harus merespon dengan cara baru, agar dapat merespons dengan cepat dan efektif untuk mengurangi dampak yang merugikan bagi institusi maupun pelanggannya. Untuk mencapai kecepatan dan efektivitas ini, mereka perlu mengumpulkan serangkaian solusi teknologi, keterampilan, dan kecerdasan dari mitra teknologi yang tepercaya.”

“Pilihan untuk membangun, membeli, atau menyewa solusi ini tergantung pada bank berdasarkan kebutuhan bisnis, tetapi upaya yang diambil harus lebih intens dari sebelumnya, agar dapat mengatasi kejahatan keuangan modern dengan lebih efektif,” imbuhnya.

Untuk mengunduh IDC InfoBrief “Bangun, Beli, atau Sewa: Mengevaluasi Strategi yang Efektif untuk Memerangi Meningkatnya Kejahatan Finansial dan Penipuan di Asia/Pasifik”, klik di sini

Baca: GBG Masuk Daftar 100 Teratas IDC FinTech Rankings

Tags: GBGIDC
Previous Post

Simak Cara Manfaatkan WhatsApp untuk Bisnis Bagi UKM

Next Post

Indodana dan J Trust Bank Kembangkan Bisnis Pembiayaan Digital

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

TOP Digital Awards 2026: Concentrix Perkuat Digital Trust melalui Tata Kelola AI dan Keamanan Siber

TOP Digital Awards 2026: Concentrix Perkuat Digital Trust melalui Tata Kelola AI dan Keamanan Siber

Agus Haryanto
8 October 2026 | 08:34

TOP Digital Awards: PA Salatiga Mantapkan Transformasi Digital Menuju Trusted Digital Justice

TOP Digital Awards: PA Salatiga Mantapkan Transformasi Digital Menuju Trusted Digital Justice

Ahmad Churi
7 October 2026 | 15:25

phe-andalkan-ai-dorong-transformasi-digital-bisnis

TOP Digital Awards 2026: PHE Dorong Bisnis Hulu dengan AI dan Inovasi Digital

Teguh Imam Suyudi
7 October 2026 | 10:00

TOP Digital Awards 2026: SANTRIMO Jadi Platform Unggulan Layanan Digital Pengadilan Agama Jakarta Timur

TOP Digital Awards 2026: SANTRIMO Jadi Platform Unggulan Layanan Digital Pengadilan Agama Jakarta Timur

Ahmad Churi
5 October 2026 | 22:48

TOP Digital Awards 2026: Bank Jombang Pacu Transformasi Digital, AI Perkuat Analisis Kredit

TOP Digital Awards 2026: Bank Jombang Pacu Transformasi Digital, AI Perkuat Analisis Kredit

Ahmad Churi
5 October 2026 | 21:13

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Xiaomi Redmi S2 Usung Snapdragon 625 dengan Banderol Rp2 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lenovo EdVision, Platform Bertukar Ide dan Belajar Penggunaan Teknologi Bagi Tenaga Pengajar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hadir di Indonesia, realme 15T 5G Usung Baterai 7000mAh, Desain Stylish dan Looks Great

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Resmi Diperkenalkan, Ini yang Ditawarkan Lenovo Qira

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

Survei: 80% Perusahaan Nyatakan AI Masih Terhambat oleh Tantangan Akses Data

Agen AI Menguji Asumsi Keamanan Perusahaan

Fauzi
2 October 2026 | 15:36

Oleh: Carolyn Duby, Field CTO dan Cybersecurity Lead, Cloudera ItWorks.id - Pembahasan keamanan siber seputar AI sering kali berpusat pada...

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Ahmad Churi
24 September 2026 | 16:30

Oleh: Sheila S. Fauzi Regional Marketing Manager, Concentrix. Dewasa ini perkembangan penggunaan atau adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto