Jakarta, Itech- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui tim lingkungan merekomendasi dari aspek teknologi untuk membuat sampah menjadi energi listrik dengan proses termal yaitu dengan menggunakan alat bernama Inicinerator. Incinerator adalah alat pembakar sampah secara organik. Dari pembakaran itu maka bisa dihasilkan energi pembangkit listrik. Sayangnya, energi yang dihasilkan kecil hanya 30kwh per ton sampah.
“Alat tersebut dapat mengubah sampah menjadi abu dan gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas. Sampah setelah menjadi gas kemudian harus dibersihkan dahulu dari polutan. Hal itu dilakukan sebelum gas tersebut dilepaskan ke atmosfer,” terang Wahyono, Peneliti Madya Persampahan BPPT di kantornya (10/2). Selain itu, alat ini sangat populer di beberapa negara seperti Jepang, Denmark dan Swedia.
Menurut Ketua Tim Lingkungan BPPT Rudi Nugroho bahwa untuk menyelesaikan masalah sampah kota, Indonesia mau tidak mau harus menggunakan teknologi thermal. Melalui proses ini, timbunan sampah dalam jumlah besar bisa ‘dibuang’ dengan cepat. Dengan proses ini, timbunan sampah dalam jumlah besar melalui proses thermal (panas) dapat diubah menjadi panas yang kemudian dikonvensikan menjadi energi dalam bentuk energi listrik.
Sementara itu, lanjut Rudi, dengan proses bio dengan digester anaerobic atau pemanenan gas TPA (landfil) yang menghasilkan biogas dan juga menghasilkan listrik .Proses bio sudah diterapkan di di beberapa TPA yaitu diantaranya TPA Bantar Gebang Bekasi, TPA Sukawentan Palembang, dan TPA Suwung Denpasar. Sistem bio memiliki kelebihan yaitu ramah lingkungan. Sayangnya, dibutuhkan waktu lama sekitar 20 hari per ton untuk memproses sampah ini menjadi bio gas.
Lebih lanjut Rudi menjelaskan, untuk proses landfill 1 ton sampah hanya menghasilkan 1 KwH listrik. Sedangkan dengan alat insenerator hingga menghasilkan 30 KwH. Terkait kapasitas insenerator, untuk kapasitas 1000 ton sampah diperlukan lahan 15 hektare dengan investasi awal sekitar Rp 1,3 triliun yang digunakan untuk membuat tungku berkapasitas 1.000 ton per hari.
Dijelaskan Rudi, meski prosesnya cepat, metode Thermal ini memiliki banyak risiko. Salah satunya emisi gas dan biaya yang tinggi. Sebab tungku pembakar harus mencapai suhu ideal 1.000 derajat Celsius agar tak melepaskan gas beracun, seperti dioksin dan sulfur, ke udara, Belum lagi, sampah yang dihasilkan masyarakat, 60-70 persen merupakan sampah basah dan organik. (red)














