Jakarta, Itech- Badan Pengkajian dan Penarapan Teknologi (BPPT) sebagai pusat unggulan teknologi akan terus mengfokuskan pada inovasi bukan sekadar penelitian. Inovasi tersebut tidak selalu penelitian dasar. Namun bagaimana mengubah barang lebih bermanfaat dengan sentuhan teknologi.
Selain fokus dalam tiga bidang teknologi, yakni energi, kemaritiman, dan pangan, BPPT juga melaksanakan kegiatan perekayasaan dan riset teknologi bidang farmasi dan kesehatan, sumber daya alam, lingkungan, kebencanaan, material, transportasi, hankam, serta mewujudkan Program Nasional untuk Pembangunan Taman Sains dan Teknologi (Science and Technopark).
“Untuk meningkatkan inovasi dan layanan teknologi. BPPT fokus pada pengembangan lima dari sembilan STP akibat adanya efisiensi anggaran. Kelima STP tersebut yakni Palalawan, Bantaeng, Pekalongan, Baron Technopark dan Lampung,” ungkap Kepala BPPT, Unggul Priyanto pada acara Refleksi BPPT 2016 di Gedung BPPT Jakarta, Senin (15/8).
Disisi lain, BPPT menargetkan perolehan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) lebih dari Rp160 miliar hingga akhir tahun 2016. Setiap tahunnya, PNBP yang diperoleh BPPT mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada 2014, PNBP capai lebih dari Rp 120,637 miliar, sedangkan di 2015 mengalami kenaikan menjadi lebih dari Rp 140,344 miliar.
Nilai kontrak yang diperoleh BPPT dari Pusat Pelayanan Teknologi (Pusyantek) atau Badan Layanan Usaha (BLU) pun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2013, BPPT mengantongi 52 kontrak dengan total nilai mencapai Rp44 miliar, sedangkan 2014 jumlah kontrak mencapai 78 dengan total nilai mencapai Rp46 miliar. Jumlah tersebut meningkat hampir dua kali lipat di 2015 dengan jumlah kontrak mencapai 134 dengan total nilai kontrak mencapai Rp 74 miliar. Sementara itu, hingga Agustus 2016 jumlah kontrak mencapai 64 dengan total nilai Rp 55 miliar.
Masih menurut Unggul, hasil capaian BPPT 2016 antara lain adalah berhasil melakukan inovasi teknologi untuk bidang pangan seperti sistem produksi Ikan Nila Salina yang mampu hidup di air payau dengan tingkat salinitas (keasinan) 20-25 ppt. “Bidang farmasi, BPPT juga telah berhasil menghasilkan inovasi garam farmasi sebagai bahan baku obat nasional, dimana selama ini garam sebagai bahan baku obat masih diimpor dari luar negeri,” ujar Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB BPPT
Bidang teknologi informasi, energi dan material telah berhasil melakukan inovasi di bidang teknologi energi, bidang teknologi kelistrikan ditandai dengan produk inovasi PLTP skala kecil tipe flash yang saat ini telah mencapai tahapan sinkronisasi dengan jaringan PLN. “Bidang TIK, juga telah dilakukan Inovasi Sistem Navigasi Penerbangan Nir-Radar berbasis ADS-B yang sedang diproduksi oleh PT INTI, dan proses sertifikasi oleh Dirjen Hubud, Kementerian Perhubungan,” ujar Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material, Hammam Riza.
Bidang teknologi material telah berhasil mencipta inovasi produk implan tulang SS 316L dan Bioceramics Hydroxiapatite berbahan baku lokal sebagai subtitusi impor yang menghemat devisa untuk aplikasi kedoteran orthopedic. “Bidang teknologi pengembangan sumber daya alam telah melakukan inovasi dan layanan teknologi modifikasi cuaca untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan di Sumatera. Bidang teknologi lingkungan juga aktif dalam isu sampah nasional terkait teknologi pengolahan sampah guna mereduksi volume sampah dan pemusnahan sampah menghasilkan bonus energi,” tegas Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Prof Wimpie Agung Nugroho.
Bidang teknologi industri rancang bangun dan rekayasa juga telah berhasil melakukan inovasi teknologi pesawat udara Nir Awak. “Kedeputian Pengkajian dan Kebijakan Teknologi, juga terus berupaya mewujudkan program nasional pengembangan Technopark, serta Technical Assistance Pengembangan perkuliahan technopreneurship, dan pengenbangan pusat-pusat inovasi dan layanan bersama,’ tutur Deputi Kepala BPPT bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi, Tatang A.Taufik (red/ju)














