Perusahaan global penyedia solusi digital, Zebra Technologies Corporation, menancapkan tajinya dengan membidik sektor manufaktur di Indonesia.
Zebra, perusahaan teknologi yang berdiri sejak tahun 1969 ini diketahui telah banyak membantu perusahaan-perusahaan di dunia dan perusahaan top di Indonesia dalam meng-empower mereka, terutama di sisi ‘front line workers’.
“Jadi, Zebra itu devices, apakah itu scanners, printer, mobile computer, tablet, RFID, digunakan oleh para pekerja di lapangan. Jadi, bukan para pekerja yang di belakang layar, misalnya Admin atau sebagainya, namun ini benar-benar digunakan untuk para front line workers untuk melakukan pekerjaan mereka sehari-hari untuk membantu perusahaan untuk mewujudkan tentunya financial goals mereka juga goals-goals yang lain,” ujar Eric Ananda, Country Lead Indonesia, Zebra Technologies, dalam acara Media Briefing Zebra Manufacturing Vision Study 2024, Rabu (18/9/2024).
Secara umum, Eric mengungkap bahwa produk Zebra telah digunakan di banyak industri, antara lain industry manufaktur, pergudangan, government public sector, health care, transportation logistics, field operation, dan industri hospitality.
“Jadi, devices-nya Zebra ini walaupun purpose built, adalah enterprise devices yang purpose built, tentunya tetap masih bisa digunakan di banyak sekali industri di Indonesia,” ujar Eric.
Sebagai perusahaan teknologi, Zebra bisa dibilang memiliki komitmen yang tinggi terhadap inovasi. Hal ini terlihat dari tingginya porsi yang disisihkan perusahaan untuk research and development (R&D). Di mana perusahaan menyisihkan 10% dari pendapatan perusahaan untuk urusan R&D.
“Jadi, ini berarti bahwa teman-teman (jurnalis/media) saat ini berbicara dengan suatu perusahaan yang sangat commited terhadap inovasi. Jadi, Zebra selalu yang terdepan di dalam inovasi, karena 10% dari revenue ini sesuatu jumlah yang tidak sedikit, dan juga kami memiliki banyak sekali (ribuan) paten, karena itu kami selalu terdepan merevolusi teknologi itu sendiri,” tandas Eric.
Adapun untuk menggenjot pelaku bisnis di sektor manufacturing serta mendukung program ‘Making Indonesia 4.0’ yang dicanangkan pemerintah, Eric menilai pentingnya mempercepat adopsi teknologi untuk meningkatkan throughput mereka.
“Biasanya kalau throughput-nya mau banyak, maka cost-nya akan lebih besar, tapi dengan teknologi itu bisa dibantu, bagaimana mereka bisa running proses manufacturing, tetapi juga memproduksi lebih banyak lagi dan lebih besar lagi, baik untuk domestic market maupun untuk ekspor,” jelas Eric.
Nah, adapun terkait dengan ‘Making Indonesia 4.0’, khususnya di sektor manufaktur, Eric menilai bahwa kalau tidak didukung oleh pemerintah, terutama dari sisi teknologinya maka kita akan ketinggalan dari negara-negara lain, seperti India, Vietnam, dan sebagainya.
“Jadi, kita mesti dukung, dan tentunya pemerintah sendiri tidak bisa mendukung semua tipe manufacturing. Makanya mereka juga sudah mencanangkan ada lima macam manufacturing yang akan didukung, yaitu food and baverage, tekstil, otomotif, elektronik, dan chemical,” ujarnya.
“Jadi, lima industri ini adalah menjadi fokusnya Zebra di Indonesia, di mana kita akan mengembangkan bisnis kita. Karena itu, kita berkesimpulan bahwa dengan teknologi yang tepat guna itu mampu untuk membantu para pelaku manufacturing itu untuk meng-improve mereka punya productivity, throughput dan sebagainya, supaya untuk mengejar market share ekspor itu. Yang nota bene rebutan dengan negara lain. Jadi kita harus lebih cepat dari negara lain,” tutupnya.














