PT Pertamina Hulu Energi atau PHE, merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero) yang menjalankan bisnis fokus pada sektor eksplorasi minyak bumi dan gas (migas). Apiknya, tak hanya jago dalam urusan mengelola sektor upstream atau hulu, PHE tapi juga sangat andal dalam menerapkan digitalisasi di perusahaan.
Tak tanggung-tanggung, kiprah PHE dalam digitalisasi ini juga sangat sukses dengan berhasil mengembangkan 1.300 aplikasi. Kendati memang, disebut pihak PHE lagi, keberhasilan dalam transformasi digital itu tak semata-mata diukur dari banyaknya aplikasi yang dikembangkan. Karena pada akhirnya, digitalisasi ini mestinya akan bermuara pada pertumbuhan kinerja bisnis PHE sendiri.
Adapun sepak terjang PHE dalam digitaliasi, tergambar jelas dalam proses penjurian TOP Digital Awards 2024 yang dilakukan PHE secara daring, pada Selasa (26/11/2024). Proses penjurian ini dilakukan dan akhirnya menjadikan PHE sebagai salah satu finalis penerima penghargaan TOP Digital Awards 2024.
Disebutkan VP Information Technology PHE, Akbar Yudha Putera, sejatinya transformasi digital di PHE ini dimulai dari April 2021. Dan dalam rentang waktu tersebut, PHE sudah mengembangkan total sebanyak 1.300 aplikasi. “Aplikasi ini nantinya kita arahkan menjadi sebanyak 200-300 aplikasi saja. Tadinya malah kita memiliki 2.500 aplikasi, dan kita turunkan lagi dan kita tutup (di angka itu),” ungkap Akbar di depan dewan juri.
Akbar yang begitu lihai dalam menjabarkan digitalisasi di PHE itu melanjutkan, selain pengembangan aplikasi, PHE juga memiliki 3.331 server, 6.511 nas storage (TB), 2.451 san storage (TB), juga ada 26.596 VPN pengguna saat ini, 18.300 seat management, 57.434 lisensi untuk productivity, 99 lokal breakouts, ada 2 tier 3 data centers, 68 firewalls, dan lain-lainnya.
Meski berhasil dengan angka-angka yang fantastis itu, Akbar mengaku, bahkan keberhasilan dari sebuah transformasi digital ini tak melulu soal pengembangan aplikasi. “Bagi saya kalau orang bicara transformation digital, orang itu terjebak terkait pengembangan aplikasi. Pengembangan aplikasi (yang banyak) itu bukan berarti digital transformation itu sudah berhasil. Makanya kami di PHE membuat sendiri terkait transformation digital framework,” tutur dia.
Karena pada akhirnya, lanjut Akbar, digitalisasi itu harus selaras dengan bisnis. Dan ini pun yang sudah terjadi di PHE. “Pada akhirnya, itu (digitalisasi) harus bisa menghasilkan business impact yang bisa di-expect (sesuai ekspektasi), yaitu mulai berdampak increase production (produksi naik), increase security (keamanan meningkat), mengurangi masalah down, meng-increase lifting, dan akhirnya bisa meng-increase revenue (pendapatan),” tandas Akbar.
Untuk diketahui, PHE merupakan Perusahaan hulu migas papan atas dengan memiliki Visi: Menjadi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Kelas Dunia dan Kebanggan Bangsa. Dengan Misi: Melaksanakan Pengelolaan Operasi dan Portofolio Usaha Sektor Hulu Minyak dan Gas Bumi Secara Profesional Dan Berdaya Laba Tinggi Serta Memberikan Nilai Tambah Bagi Stakeholders.
Dengan anak usahanya adalah PT Pertamina Hulu Rokan, PT Pertamina EP, PT Pertamina Hulu Indonesia, PT Pertamina EP Cepu, PT Pertamina EP Cepu ADK, PT Pertamina Internasional EP, PT Pertamina Drilling Services Indonesia, PT Elnusa Tbk, PT Pertamina East Natuna, dan PT Badak LNG.
Digitalisasi di PHE
Sejauh ini, kata dia, PHE bukan hanya mengoperasionalkan bisnisnya di eksplorasi dan produksi migas, akan tetapi sudah mulai merambah ke investasi dan akuisisi kilang-kilang lainnya.
Lantas, bagaimana cara melakukan itu? Kata Akbar, melalui tiga pilar. Pertama, pilar energy security atau securing energy, yaitu mengamankan energi. Kedua, energy transition (transisi energi); dan ketiga, new business and strengthening enablers.
Dan dari aspek itu, salah satu yang membanggakan adalah, kata dia, peran digital transformation itu menjadi salah satu pilar pendukung dari tiga pilar tersebut. “Dan dalam hal ini, pihak top manajemen sudah memahami bahwa digital transformation ini adalah satu cara bagi kita untuk mempertahankan bisnis ini sampai ke beberapa belas tahun ke depan,” tegasnya.
Makanya, kenapa saya sebut belasan tahun? Ya kita sama-sama tahu. Kita bilang ke teman-teman PHE ini sebagai perusahaan upstream, di mana secara nature itu pasti akan alami degradasi dengan produksi rate-nya.
“Makaya dengan kondisi itu jangan sampai kita over claim, sehingga kita terjebak dalam IT bad debt. Saya katakan ini berkali-kali. Dan agar tak terjebak caranya bagaimana? Ya melalui tiga hal, digital transformation, inovation, dan culture yang kita bangun.”
Tiga hal tersebut yang pada akhirnya bisa mengusung lima aspek IT yang tengah dikembangkan oleh PHE. Adapun lima IT yang dikedepankan Perseroan adalah, pertama, Enterprise Cyber Security & System Resilience, Integrated System & Standardization Management, Leveraging Industry 4.0 & Society 5.0, Integrated Information Technology Framework, dan Customer Experience Management.
“Lima item ini yang akan menjadi soko guru atau guidance maupun guideline bagi seluruh IT di PHE, termasuk untuk anak usahanya itu,” kata dia.
Proses digitalisasi juga memang tak pernah melupakan cyber security-nya. Apalagi memang selama ini di sektor hulu migas, tetap banyak serangan siber yang membahayakan. Dia memberi contoh beberapa kasus cyber attack di dunia.
Beberapa hal kejadian yang pernah terjadi adalah, adanya serangan Ransomware yang terjadi pada Colonial Pipeline di Amerika Serikat tahun 2021 lalu. Kemudian adanya serangan siber terjadi pada tahun 2022 berdampak pada fasilitas penyimpanan dan refinery minyak di Eropa. Juga pernah ada malware yang menyerang Saudi Aramco.
“Kemudian pada tahun 2012, 2016, dan 2017 juga pernah terjadi serangan malware besar-besaran di area industri migas Saudi Arabia. Dan terakhir, adanya serangan yang ditujukan pada sektor migas di area Norwegia pada tahun 2014 lalu,” tegasnya.
Kembangkan AI
Sementara itu terkait pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), disebutkan Akbar, tahun ini di PHE adalah tahun pengembangan AI. Sebelumnya, PHE telah membuat digital ecosystem di tahun 2023, termasuk juga membangun environment ecosystem-nya. Mulai membangun, security-nya, data center, hubungan antarpulaunya, antara lain terkait pembangun firewall dari setiap pulau itu, dan lain sebagainya.
“Dan Alhamdulillah, di tahun ini atau mulai medio tahun ini, kita kembangkan Ai ini dan sudah men-deliver banyak hal. Sehingga di tahun depan, ketika kita tetap menggunakan untuk men-deliver AI itu, sudah bisa terhubung dengan ekosistem di luar PHE,” katanya.
Salah satu contoh pegembangan AI adalah inovasi digital AI untuk melakukan fungsi pengawasan otomatis melalui CCTV yang tersebar di Rig. Dan dari situ akan menginformasikan, jika ada perilaku tidak selamat kepada Command Center. Sebagai contoh, tidak menggunakan helm, safety glove, dan sebagainya.
“Kondisi itu tak lepas dari adanya permasalahan peningkatan aktivitas rig (yaitu pengeboran dan well service), sehingga secara langsung berdampak pada resiko keselamatan. Serta memerlukan supervisi yang memadai untuk memastikan aspek keselamatan kerja itu diikuti. Dengan begitu, ada peluang di PHE dengan adanaya ketersediaan CCTV yang mencukupi di rig, namun kekurangan sumber daya untuk fungsi pengawasan. Sehingga melahirkan inovasi digital berbasis AI itu,” pungkas dia, menjelaskan.
Editor: Fauzi














