Jakarta, ItWorks- Meski masih banyak tantangan, seperti terkait kode etik dan juga regulasi, namun tren adopsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia terus meningkat dan diprediksi adopsinya akan makin meningkat di 2025, termasuk sektor financial. Bahkan beberapa perusahaan telah memasukkan AI generatif ke dalam alur kerja mereka, baik untuk popularitas brand, sales, dan juga hubungan layanan pelanggan.
“Memang tantangannya masih banyak ya, baik kesiapan dari pelaku usaha itu sendiri, terkait pengelolaan dan tata kelola data, sistem perlindungan keamanan data, dan aspek terkait termasuk infrastruktur digital. Sebab bicara AI, salah satu kuncinya adalah di pengelolaan data. Harus aman, dan terjamin apalagi terkait data-data pribadi seperti data nasabah. Tantangan lain juga terkait regulasi. Misalnya terkait data ada UU PDP (Perlindungan Data Pribadi yang harus sinkron, karena jika melanggar ada konsekuensi hukum. Saya kira ini memang beberapa yang masih jadi challenge (tantangan). Namun demikian, kami optimistis adopsi AI di Indonesia ke depan bakal makin cepat, apalagi banyak manfaat yang ditawarkan dalam mendukung kelangsungan bisnis yang hal ini juga sudah menjadi tren global,” ungkap Bunga Sugiarto, Regional Director, Salesforce Indonesia menjawab ItWorks di acara media briefing (19/05/2025), di Jakarta.
Dalam media briefing ini, Salesforce penyedia solusi AI untuk CRM, membahas mengenai Lima Tren AI yang akan Mengubah Industri Perbankan dan Jasa Keuangan di Indonesia. Dalam sesi ini, dipaparkan tren yang sedang berkembang, tantangan utama, serta peran AI dalam meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan pengalaman pelanggan, dan membangun kepercayaan di tengah ekonomi digital yang terus berkembang dewasan ini.
“Adopsi AI yang proaktif, berkomitmen menggunakan prinsip-prinsip AI yang bertanggung jawab, dan tetap fokus pada kepatuhan terhadap peraturan, akan memungkinkan industri ini untuk memanfaatkan teknologi transformatif seperti Agentforce untuk melayani nasabah dengan lebih baik, meningkatkan akses ke layanan keuangan di seluruh nusantara, serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Adapun lima tren yang diungkap Salesforce, sebagai pengembang solusi bidang AI CRM, Pertama, Lembaga Keuangan Bangun Dasar Transformasi AI Lewat Integrasi Data, dan mereka makin menyadari peran AI memiliki potensi besar dalam industri. AI prediktif sudah membantu aktivitas perbankan sehari-hari, seperti chatbot untuk menjawab pertanyaan rutin dan dasbor agen call center. McKinsey memperkirakan bahwa secara global, bank bisa menambah nilai hingga US$1 triliun per tahun dengan memanfaatkan AI secara strategis.
Kedua, Agen AI akan Dorong Terwujudnya Inklusi Keuangan yang Lebih Luas. Agen AI diprediksi akan secara signifikan meningkatkan akses layanan keuangan di Indonesia, mendorong inklusi keuangan dan menjangkau masyarakat yang belum terlayani secara optimal. Data Kemenko Perekonomian menunjukkan 76,3% penduduk memiliki rekening bank, namun hampir 25% populasi dewasa masih belum terjangkau layanan perbankan. Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan inklusi keuangan 98% pada 2045 melalui RPJMN. Dengan kemampuan memberikan layanan finansial yang dipersonalisasi dalam bahasa lokal, agen AI membantu mengatasi hambatan literasi dan bahasa.
Ketiga, Agen AI mengantarkan era hiper-personalisasi untuk pengalaman pelanggan yang lebih baik. Agen AI akan membuka babak baru dalam dunia perbankan Indonesia melalui hyper-personalisasi yang mengubah cara bank berinteraksi dengan pelanggan. Seiring meningkatnya tuntutan pelanggan akan interaksi yang lebih personal, bank dapat memanfaatkan agen AI yang bahkan dapat melampaui ekspektasi tersebut. Berdasarkan laporan Connected Financial Services global dari Salesforce, sebagian besar konsumen (46%) bersedia tetap loyal pada institusi keuangan yang menawarkan pengalaman pelanggan terbaik, meskipun ada kenaikan biaya.
Keempat, Inovasi AI Jadi Motor Penggerak Kemajuan Fintech di Indonesia. Fintech menjadi kekuatan utama yang mengubah wajah ekosistem keuangan Indonesia. Tak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, fintech juga membuka akses layanan keuangan di kota-kota kecil dan berkembang serta mengubah pola perilaku konsumen. Dengan lebih dari 300 perusahaan fintech yang beroperasi di Indonesia saat ini, lanskap fintech menjadi sangat kompetitif.
Untuk menghadapi persaingan ini, perusahaan fintech mulai mengandalkan AI sebagai kunci membangun model bisnis yang tahan lama. Teknologi AI digunakan tidak hanya dalam layanan pelanggan, tapi juga di balik layar, seperti untuk otomatisasi penilaian kredit, deteksi penipuan, serta berbagai proses AI dan machine learning lainnya agar operasional lebih efisien dan keuntungan lebih optimal.
Kelima, Pemimpin Industri BFSI Terus Dorong Penerapan AI yang Etis dan Bertanggung Jawab. Seiring Indonesia mengadopsi inklusi keuangan digital, fokus kuat pada kepatuhan regulasi dan perlindungan data menjadi kunci untuk membangun ekosistem digital yang aman dan tepercaya bagi konsumen maupun industri keuangan. Adopsi AI yang bertanggung jawab akan terus menjadi prioritas utama bagi para pemimpin sektor BFSI. Prinsip-prinsip AI yang bertanggung jawab seperti akurasi, keamanan, transparansi, dan pemberdayaan menjadi dasar dalam mengembangkan AI yang adil dan tanpa bias dalam penilaian kredit, deteksi fraud yang transparan, serta personalisasi yang etis, sambil tetap mematuhi regulasi.
Dalam hal ini, lanskap regulasi yang terus berkembang, dipandu oleh OJK dan Bank Indonesia, akan berperan penting dalam menetapkan pedoman penerapan AI yang etis serta memastikan perlindungan data yang ketat. Kolaborasi erat antara regulator, institusi BFSI, dan penyedia teknologi, yang berlandaskan pada AI bertanggung jawab dan komitmen terhadap keamanan data, sangat krusial untuk mewujudkan masa depan keuangan digital Indonesia yang tangguh dan tepercaya. (AC)














