ItWorks- Dalam upaya memperkuat pertahanan digital nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) resmi menjalin kerja sama strategis di bidang keamanan siber dan sandi. Kolaborasi ini mencakup riset dan inovasi di bidang kriptografi, keamanan siber, dan sinyal, serta implementasi Rencana Aksi Nasional Keamanan Siber (RAN Kamsiber).
Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman yang dilakukan oleh Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dan Kepala BSSN, Nugroho Sulistyo Budi, pada (12/09/2025), di Kantor BSSN, Ragunan, Jakarta. Kedua pihak juga sepakat memperkuat kapasitas teknologi informasi dan komunikasi, pemanfaatan data dan informasi, serta pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas untuk menghadapi tantangan digital yang semakin kompleks.
Dalam kesempatan yang sama, turut ditandatangani Perjanjian Kerja Sama oleh Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN, Boediastoeti Ontowirjo, dan Deputi Bidang Strategi dan Kebijakan Keamanan Siber BSSN, Sandi R. Tjahjo Khurniawan. “Perjanjian ini menjadi langkah konkret untuk menyusun strategi dan rekomendasi kebijakan riset, teknologi, dan inovasi di bidang kriptografi dan keamanan siber,” ungkap Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dilansir melalui portal web BRIN, belum lama ini.
Pihaknya menegaskan komitmen BRIN mendukung tugas dan fungsi BSSN. Ia yang memahami betul sejarah pembentukan BSSN dan perkembangannya. Ia berharap agar data hasil riset BRIN dapat bermanfaat bagi BSSN, salah satunya dengan melibatkan para taruna. “Harapannya, riset BRIN lebih maju lagi untuk memperkuat ekosistem yang dibangun,” tegasnya.
Sementara, Nugroho menjelaskan, di dalam pelaksanaan tugas dan fungsi BSSN, ada tiga aspek yang selalu dijaga, yaitu perbaikan teknologi, tata kelola, dan SDM. Apalagi, diakuinya, perkembangan di bidang teknologi sangat cepat dan masif.
Maka, pihaknya perlu sistem keamanan yang kuat, dengan istilah perlu sistem keamanan yang berlapis. Apalagi era sekarang, era masuknya Artificial Intelligence (AI), juga masuknya platform komputasi. “Salah satu hal yang sering menjadi fokus kami adalah bagaimana kami bisa mengembangkan peralatan dan sistem secara mandiri. Karena saat sekarang ini sebagian besar tidak hanya dari BSSN, banyak dari kementerian/ lembaga lain, yang banyak bergantung pada teknologi luar,” urainya.
Termasuk juga lisensi dari luar. Pengembangan melalui open source, juga perekayasaan peralatan, menurutnya juga membutuhkan tantangan yang luar biasa.“Sehingga besar harapan kami atas kerja sama dan dukungan dari BRIN. Ini merupakan sesuatu yang akan memberikan kontribusi data bagi pelaksanaan tugas, peran, dan fungsi BSSN untuk melaksanakan amanah yang diberikan oleh negara di bidang keamanan siber seperti saat ini,” ujarnya.














