ItWorks- Phantom Hacker Scam merupakan modus penipuan lanjutan dari tech support scam, dimana pelaku berpura-pura sebagai teknisi, pegawai bank, atau pejabat pemerintah untuk meyakinkan korban bahwa akunnya diretas. Dengan dalih melindungi aset, korban dibujuk untuk memindahkan uang mereka ke “rekening aman” milik penipu.
FBI memperingatkan kepada masyarakat terkait “Phantom Hacher SCAM” – penipuan dimana pelaku berpura pura sebagai pihak bank dan menipu korban. Mereka diminta mentransfer uang ke rekening yang dikatakan “aman” untuk menghindari hacker palsu. Penipu menggunakan nomor telepon palsu agar terlihat resmi dan membuat korban panik. FBI menegaskan bank tidak akan pernah meminta nasabah untuk memindahkan uang, sehingga panggilan semaca ini harus dianggap sebagai salah satu penipuan
Dalam hal ini, istilah “hacker” dalam kasus ini sebenarnya tidak menggambarkan peretas yang sesungguhnya, karena tidak ada serangan nyata yang terjadi. Semua hanyalah social engineering untuk memanipulasi korban. “Modus ini paling sering menargetkan seseorang yang sudah dapat dikatakan lanjut usia, lebih mudah panik, takut dan kurang paham teknologi, sehingga pelaku mudah menipu korban,” ungkap sumber Pusat Data dan Teknologi Informasi Komunikasi– Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dilansir melalui portal web resmi BSSN pada (16/10/2025).
Disebutkan modusnya dilakukan dengan membuat kepanikan target. Masyarakat dengan tingkat kesadaran keamanan (security awareness) yang rendah, termasuk kalangan lansia, menjadi sasaran empuk bagi pelaku tindakan scam ini. Kurangnya pemahaman terhadap ancaman siber, membuat kelompok ini lebih rentan tertipu dan menjadi target kejahatan di ruang siber.
“Halo, kami dari tim keamanan Bank …. TIPUTIPU. Kami deteksi akun Anda sedang diakses hacker luar negeri. Untuk melindungi dana Anda, kami bantu pindahkan sementara ke rekening aman atas nama Bapak sendiri. Mohon login ke aplikasi dan ikuti instruksi kami. Nah kasus diatas merupakan contoh nyata dari Phantom Hacker Scam, yaitu modus penipuan berlapis yang memanfaatkan kepanikan dan kepercayaan korban,” terangnya.
Disebutkan, pada 2023 yang lalu modus yang digunakan oleh para pelaku adalah menyebarkan file untuk instalasi aplikasi (APK) berbahaya. Aplikasi tersebut merupakan malware dengan berbagai varian yang digunakan untuk mencuri kredensial perbankan dan remote access pada perangkat korban. Sedangkan di 2025 ini para pelaku menggunakan modus yang berbeda yaitu melakukan panggilan video melalui aplikasi Whatsapp, korban diarahkan untuk mengaktifkan fitur berbagi layar. Pelaku memanfaatkan fitur tersebut untuk mengakses kredensial perbankan serta mencuri OTP.
Berikut ini beberapa tips agar terhindar dari serangan Phantom Hacker Scam:
- Hindari berbagi layar (screen sharing) di aplikasi WhatsApp, karena bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk mencuri data pribadi;
- Gunakan kanal resmi, jangan percaya panggilan dari nomor yang tidak dikenal dengan mengaku dari instansi tertentu;
- Tingkatkan security awareness dimulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar dengan cara meningkatkan literasi digital. Selengkapnya dapat diakses dan unduh disini.














