Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Iskak Tulungagung terus melangkah maju sebagai pelopor inovasi digital di sektor layanan kesehatan daerah.
Di bawah kepemimpinan dr. Zuhrotul Aini, Sp.A, M.Kes, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Tulungagung ini menegaskan komitmennya mengembangkan teknologi cerdas untuk mendorong efisiensi operasional, transformasi bisnis, dan peningkatan keselamatan pasien.
“Semua inovasi yang kami kembangkan selalu berorientasi pada keselamatan pasien dan mutu pelayanan. Itu prinsip yang selalu kami gandengkan di setiap langkah transformasi digital,” ujar dr. Zuhrotul dalam presentasinya di sesi penjurian TOP Digital Awards 2025, Rabu (5/11/2025).
Hadir pula Dr. Desy Lusiana Wardhani, SKM, M. Kes (Wakil Direktur Umum dan Keuangan), Astuti Ningrum SE, ME (Ketua Tim Kerja Akuntansi Dan Keuangan), dan Heru Eko Susanto (Ketua Tim Kerja Analisa dan Monitoring Pelayanan). Tim RSUD dr. Iskak Tulungagung ini membawakan materi presentasi berjudul “Teknologi Cerdas untuk Katalis Inovasi, Efisiensi Operasional, dan Transformasi Bisnis”.
Sejak Januari 2025, RSUD dr. Iskak resmi naik kelas dari rumah sakit tipe B pendidikan menjadi rumah sakit tipe A pendidikan, dengan visi menjadi rumah sakit rujukan dan pendidikan yang handal, terjangkau dalam pelayanan..
Pada periode 2024–2025, rumah sakit ini mencatat total pendapatan sebesar Rp 425 miliar, dengan alokasi anggaran IT mencapai Rp3,6 miliar atau 0,87%. Pada 2025, proporsi anggaran IT turun menjadi 0,42% seiring meningkatnya kemandirian sumber daya manusia di bidang teknologi informasi.
“Pada 2024, biaya besar terserap untuk infrastruktur dan pengembangan SDM. Tapi pada 2025, SDM kami sudah mandiri, sehingga biaya berkurang signifikan. Mulai 2026, sesuai roadmap, investasi IT akan kami tingkatkan kembali,” terang dr. Zuhrotul.
Pada 2025 ini, dari total 1.915 pegawai, sebanyak 31 orang merupakan SDM khusus bidang IT. Mereka kini mampu mengembangkan berbagai kebutuhan sistem informasi rumah sakit secara mandiri tanpa ketergantungan pada pihak eksternal.
Dua Arah Transformasi Digital
Menurut dr. Zuhrotul, transformasi digital RSUD dr. Iskak difokuskan pada dua arah utama, yaitu Pengembangan dan Integrasi Sistem Layanan Kesehatan RS, dan Pembangunan Layaan dan Ekosistem Teknologi Kesehatan menuju konsep “hospital without walls”.
Digitalisasi di rumah sakit ini sudah dimulai sejak 2005, mencakup rekam medis IGD, rawat jalan, rawat inap, hingga sistem penagihan (billing system). Kini, seluruh proses back office mulai dari perencanaan, penganggaran, pengadaan barang dan jasa, akuntansi, hingga SDM sudah terintegrasi dalam sistem digital.
Sistem IT RSUD dr. Iskak juga sudah terkoneksi dengan BPJS, BPKAD, Kementerian Kesehatan (Satu Sehat), rumah sakit lain, serta aplikasi nasional seperti PeduliLindungi. “Dengan integrasi ini, kami menghasilkan data mutu pelayanan yang akurat, mutakhir, dan lengkap,” ujar dr. Zuhrotul.
Selain itu, ada tiga pilar utama menjadi fondasi pengembangan teknologi inovasi di RSUD dr. Iskak, yaitu dukungan top manajemen, kolaborasi pengguna, dan kapasitas SDM TI. Manajemen menyiapkan regulasi, sarana-prasarana, dan anggaran; pengguna terlibat aktif sejak awal pengembangan aplikasi; sementara tim TI menjalankan fungsi analisis, pemrograman, dan dukungan teknis dengan pembagian kerja yang jelas.
Untuk menjaga keberlanjutan, rumah sakit menanamkan budaya digital berbasis Plan–Do–Check–Action (PDCA) dan prinsip continuous improvement (Kaizen). Proses inovasi mencakup digitalisasi rekam medis elektronik (EMR), tanda tangan elektronik, hingga otomasi pelayanan pasien.
Roadmap Digital
RSUD dr. Iskak memiliki IT Master Plan yang mencakup digitalisasi layanan, back office, serta konektivitas antarinstansi. Fokus ke depan adalah memperkuat keamanan siber dan tata kelola data.
Sejak 2022, rumah sakit telah menyusun beragam pedoman dan kebijakan TI, mulai dari panduan EMR, tanda tangan elektronik, standar infrastruktur, hingga downtime management dan aplikasi unggulan seperti Simanset (aset rumah sakit) dan Simonik (monitoring kinerja).
Sesuai IT Master Plan, RSUD dr. Iskak menetapkan peta jalan lima tahun ke depan mencakup tiga fase. Fase 1 (2026–2027) dengan penguatan pondasi, audit keamanan siber, pembentukan tim incident response, dan integrasi penuh dengan Satu Sehat Kemenkes. Selanjutnya Fase 2 (2028–2029) masuk modernisasi infrastruktur dan sistem keamanan data.
Kemudian Fase 3 (2030) adalah peningkatan efisiensi operasional, penurunan insiden keamanan, dan peningkatan kepuasan pasien.
Pengelolaan SDM TI
Dalam pengelolaan SDM TI, RSUD dr. Iskak menerapkan sistem rekrutmen selektif, lingkungan kerja kolaboratif, serta pelatihan berkelanjutan melalui mentoring dan coaching. Karyawan TI mendapatkan penghargaan dalam bentuk gaji, tunjangan, jasa pelayanan, promosi, dan apresiasi publik.
Semua proses pengembangan aplikasi dilakukan secara internal dengan prinsip continuous improvement. Unit pengguna dapat mengusulkan pengembangan, yang kemudian dikaji dan diuji coba melalui prototype sebelum diimplementasikan penuh.
Untuk menjaga kualitas pengembangan, tim TI memanfaatkan GitLab sebagai source code management tool serta aplikasi SAMPIT (Sistem Manajemen Permintaan Layanan IT) untuk pelaporan gangguan, penugasan staf, dan penyelesaian masalah TI secara digital.
Sistem Terpadu dari Layanan Hingga Farmasi
Pemanfaatan sistem IT di RSUD dr. Iskak kini mencakup hampir seluruh lini pelayanan. Dengan sistem ERP dan EMR yang terintegrasi, proses administrasi dan pelayanan menjadi jauh lebih efisien.
“Kalau dulu kami harus rapat manual untuk perencanaan unit, sekarang cukup satu kali pertemuan karena semua sudah terinput di sistem. Bahkan pengadaan barang dan jasa, terutama obat dan bahan medis, sudah otomatis by system. Dua minggu sebelum stok obat habis, sistem memberi alarm, sehingga pengadaan bisa langsung dilakukan tanpa surat permintaan manual,” ujar dr. Zuhrotul.
Pasien juga merasakan manfaat besar. Pendaftaran dilakukan secara online, resep elektronik langsung tersinkronisasi ke apotek, dan pasien dapat memilih layanan SI KARISMA, layanan antar obat ke rumah yang dipantau oleh sistem Public Safety Center (PSC). “Pasien bisa langsung pulang setelah periksa, dan obatnya diantar dengan cepat dan aman,” tambahnya.
Dengan 85–90% pasien merupakan peserta BPJS, sistem digital berperan penting dalam efisiensi klaim pembiayaan. Melalui integrasi EMR, pengkodean penyakit dilakukan otomatis sehingga meminimalkan kesalahan klaim.
“Kesalahan kecil di pengkodean bisa menyebabkan rugi klaim. Dengan sistem digital, semuanya jadi cepat, akurat, dan efisien. Ini bukan hanya menguntungkan rumah sakit, tapi juga masyarakat luas,” tegasnya.
Inovasi Digital Unggulan
RSUD dr. Iskak dikenal sebagai rumah sakit daerah yang produktif melahirkan inovasi berbasis teknologi. Beberapa inovasi unggulan antara lain:
- Public Safety Center (PSC) 119 Kabupaten Tulungagung. Ini merupakan aplikasi web dan mobile terhubung ke 32 puskesmas untuk layanan darurat terpadu. Aplikasi ini terintegrasi dgn Polres, Kodim, BPBD, Damkar, Pol PP Kabupaten Tulunggagung.
- SIMRS Web-Based atau sistem informasi manajemen rumah sakit yang dikembangkan internal dan terintegrasi dengan BPJS, Dukcapil, Satu Sehat, e-resep, dan fingerprint.
- Emergency Button Solution in My Hand (EB-SOLIH). Aplikasi ini merupakan tombol darurat digital di aplikasi mobile yang langsung terhubung ke PSC.
- Sistem Kirim Obat Sampai Rumah Tanpa Antri Secara Aman, Cepat dan Akurat (SI KARISMA) atau layanan antar obat gratis ke rumah pasien, dilengkapi sistem pelacakan.
- Google Form Untuk Mengatasi Kendala (GOENDALA) atau aplikasi pemeliharaan sarana dan prasara alat medis dan nonmedis RS.
- Sistem Informasi Mutu Rumah Sakit (SIMUTU) atau sistem informasi mutu rumah sakit untuk pemantauan kinerja.
- Sistem Informasi Manajemen Risiko Rumah Sakit (MANRISK) yakni aplikasi manajemen risiko untuk seluruh unit kerja.
RSUD dr. Iskak sedang mengembangkan Business Intelligence Layanan PSC-119 yang akan memanfaatkan data EMR, mutu, dan risiko untuk menganalisis tren kesehatan masyarakat secara regional maupun nasional.
Selain itu, rumah sakit juga tengah menyiapkan AI generatif untuk membantu proses coding penyakit dan diagnosis. “Target kami sistem AI ini bisa digunakan pada 2026,” ungkap dr. Zuhrotul optimistis.
Keamanan Data dan Tantangan TKDN
Ketua Tim Analisa dan Monitoring Pelayanan RSUD dr. Iskak, Heru Eko Susanto, menambahkan bahwa pengembangan Large Language Model (LLM) untuk AI tengah dilakukan dengan kehati-hatian tinggi terkait kerahasiaan data medis.
“Data medis adalah data yang dijamin negara, jadi kami berhati-hati agar pelatihan AI tidak melibatkan data pribadi pasien,” ujarnya.
Heru menegaskan bahwa keamanan TI di RSUD dr. Iskak berpedoman pada tiga aspek utama: teknologi, manusia, dan proses. Sistem firewall monitoring, data backup, multi-factor authentication, serta edukasi siber secara rutin diterapkan.
Meski demikian, Heru mengakui masih ada tantangan pada aspek manage supplier sesuai standar COBIT, terutama dalam pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk perangkat keamanan TI.
“Untuk perangkat firewall, hampir tidak ada produk TKDN yang sesuai kebutuhan kami. Padahal kami harus menyimpan data medis pasien selama 25 tahun. Ini dilema yang masih kami hadapi,” jelasnya.
Melalui berbagai inovasi dan strategi keamanan yang ketat, RSUD dr. Iskak terus menegaskan posisinya sebagai pionir digitalisasi rumah sakit daerah di Indonesia.
“Kami ingin teknologi hadir bukan hanya untuk efisiensi, tetapi juga untuk memberikan layanan yang lebih manusiawi, aman, dan cepat bagi masyarakat,” tutup dr. Zuhrotul.
Editor: Fauzi














