PT BPR Delta Artha (Perseroda) kembali mencuri perhatian. Pada sesi penjurian TOP Digital Awards 2025, Kamis (20/11/2025), BPR ini menunjukkan bahwa inovasi digital bukan monopoli bank besar. Tanpa basa-basi, Direktur Kepatuhan Dedy Setiawan menegaskan bahwa Delta Artha bukan sekadar ikut arus digitalisasi—mereka memimpin dan memaksa industri BPR berpikir ulang soal masa depan layanan keuangan daerah.
“Transformasi digital bukan proyek sesaat. Ini strategi besar untuk menjaga relevansi dan mengakselerasi bisnis,” tegas Dedy. Pernyataan yang seolah mendorong BPR lain agar tidak berkutat pada pola kerja konvensional.
Aplikasi Non Tunai Desa: Inovasi yang Mengubah Peta Transparansi Keuangan
Jika ada inovasi yang membuat Delta Artha sulit disaingi, itu adalah Aplikasi Non Tunai Desa. Bukan sekadar aplikasi, tapi game-changer yang kini digunakan seluruh desa di Kabupaten Sidoarjo. Setiap transaksi bisa dipantau real time—transparan, rapi, dan bebas ruang gelap anggaran.
Inovasi ini dengan jelas membuktikan satu hal: BPR daerah mampu “menggendong” modernisasi tata kelola publik.
Tidak heran jika Dedy mendorong BPR lain untuk meniru. Sebuah “tantangan terbuka” yang menegaskan kepercayaan diri Delta Artha.
Mobile Banking Pintar: Bukti BPR Kecil Bisa Bermain di Liga Besar
Delta Artha tidak berhenti di inovasi desa. Mereka menggebrak melalui Mobile Banking Delta Artha, aplikasi yang fiturnya bahkan menyaingi bank umum.
Transfer? Ada.
Pembayaran dan pembelian? Lengkap.
Integrasi e-money? Siap.
Pengajuan kredit digital? Tinggal klik.
Inilah bukti bahwa BPR tidak harus menunggu tren—BPR bisa menciptakan tren.
Di balik layar, sejumlah aplikasi internal seperti BERDASI, SINTA, SIPINTER, dan EIS memperkuat operasional. Ditambah sistem pendeteksian risiko transaksi dan rekomendasi kredit perangkat desa, Delta Artha memperlihatkan betapa seriusnya mereka membangun ekosistem digital dari hulu ke hilir.
Keamanan Siber Berlapis: Delta Artha Tidak Main-main
Transformasi digital tanpa keamanan adalah bom waktu. Namun Delta Artha sadar betul akan hal ini. Dengan IT Governance yang rinci, analisis risiko ketat, hingga struktur TI profesional, perusahaan memastikan setiap kebijakan digital terukur.
Mereka membentengi sistem menggunakan:
- autentikasi berlapis
- otorisasi berbasis kewenangan
- enkripsi database
- VPN antar-cabang
- firewall multilayer
- monitoring log ketat
- uji Disaster Recovery berkala
Dan semuanya mengacu pada standar keamanan internasional ISO 27001.
Dedy menutup presentasi dengan lugas: “Data nasabah bukan untuk dipertaruhkan.”
Sebuah pernyataan yang secara tidak langsung mengingatkan lembaga keuangan yang masih abai pada keamanan data.
Sebagai ajang penghargaan digital terbesar di Indonesia, TOP Digital Awards bukan sekadar seremoni. Ini arena di mana inovator diuji—dan Delta Artha datang bukan untuk sekadar tampil, tapi mengukuhkan diri sebagai BPR yang berani bergerak cepat.
Editor: Teguh IS.














