PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI mempercepat langkah transformasi digital untuk memperkuat layanan pelayaran nasional yang selama ini menjadi andalan konektivitas maritim Indonesia. Dengan jaringan trayek yang menjangkau seluruh pelosok negeri, perusahaan pelat merah ini menempatkan digitalisasi sebagai tulang punggung operasional pada lima tahun mendatang.
“PELNI merupakan satu-satunya perusahaan pelayaran nasional yang tugasnya menyediakan moda transportasi, baik itu penumpang maupun logistik, hanya kami yang melintasi wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT PELNI, Anik Hidayati, dalam paparan di hadapan dewan juri TOP Digital Awards 2025, Jumat (21/11/2025).
Pernyataan tersebut bukan sekadar gambaran peran strategis, melainkan fakta operasional. PELNI diketahui mengelola 82 kapal, termasuk 26 kapal penumpang dan 30 kapal perintis yang melayani wilayah terluar dan terpencil sebagai bagian dari penugasan Kementerian Perhubungan.
PELNI menetapkan ambisi besar dalam visi baru perusahaan tahun 2025-2029, yakni menjadi perusahaan pelayaran unggul dan berdaya saing global. Empat fokus utama—unggul, berdaya saing global, konektivitas, dan ekosistem logistik maritim—menjadi arah perubahan perusahaan.
“Visi itu diterjemahkan ke dalam 3 misi, yaitu (pertama) menjamin konektivitas antarpulau dan aksesibilitas masyarakat dengan mengelola angkutan laut untuk menenjang terwujudnya wawasan Nusantara serta (kedua) mengelola layanan angkutan pelayanan yang handal, terpercaya, dan aman melalui operasional dan layanan yang unggul serta inovasi yang berkelanjutan,” jelas Anik.
Adapun misi yang ketiga adalah memberikan kontribusi yang positif terhadap negara, meningkatkan kompetensi dan produktivitas karyawan serta mencapai pertumbuhan perusahaan yang berkesinambungan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, digitalisasi diposisikan sebagai fondasi. “Tema penilaian ini sangat relevan dengan misi kami nomor dua. Kami inginkan layanan itu handal, terpercaya, serta aman dengan operasional yang ekselen. Tentu ini tidak bisa diwujudkan tanpa transformasi digital,” tegas Anik.
Menguatkan Fondasi Tata Kelola TI
PELNI menyadari bahwa transformasi digital tidak akan berjalan tanpa tata kelola yang kuat. Karena itu, perusahaan mengadopsi COBIT-2019 sebagai kerangka pengelolaan teknologi informasi, melengkapi penyusunan kebijakan baru terkait perlindungan data pribadi serta berbagai pedoman keamanan.
Upaya ini terbukti dari peningkatan signifikan IT Maturity Level, yang naik dari level 2 pada 2023 menjadi level 3 pada 2024 setelah melalui asesmen eksternal. “Perkembangannya cukup signifikan dibandingkan 2023 yang masih di level 2,” kata Anik.
Selain itu, PELNI sukses meraih sertifikasi ISO 27001 pada 2024 dengan ruang lingkup sistem ticketing kapal penumpang, menegaskan komitmen perusahaan terhadap keamanan informasi.
Mengawal Operasional 82 Kapal dari Darat
Di era digital, tantangan terbesar PELNI bukan hanya menggerakkan kapal, tetapi juga memantau dan mengelolanya secara real time. Sebagai jawaban, perusahaan mengoperasikan Operation Room yang terhubung dengan seluruh kantor cabang, kapal, hingga lembaga eksternal seperti BMKG dan Basarnas.
Anik mengungkap terkait pentingnya peran IT dalam mendukung operasional kapal yang dimiliki PELNI mengingat trayek yang dilalui menghubungkan konektivitas wilayah Indonesia dari satu pulau ke pulau yang lain.
“Tentu di sini juga ada peran IT yang sangat penting. Bagaimana kita bisa mengkoneksikan seluruh kapal kami yang beroperasi 82 kapal itu bisa kami pantau, kami real time dengan kondisi-kondisi yang ada, baik itu performa kapal maupun bisnis yang mendukung bisnis penumpang dan lain-lain serta service yang meningkat yang bisa kami berikan kepada penumpang,” jelasnya.
“Dan ini kenapa sangat kami tekankan di sini, karena ini tanpa teknologi, tanpa digital tentu kami tidak akan tahu bagaimana tim kami yang di atas kapal itu memberikan layanan, menjaga keamanan, dan memberikan operasional yang sesuai dengan standar yang kami tetapkan,” sambungnya.
PELNI sudah memiliki sistem komunikasi kapal yang terhubung dengan satelit, CCTV 24 jam, 7 hari real time yang bisa pantau di atas kapal. Anik juga mengatakna bahwa perusahaan sudah menemukan teknologi bagaimana mengkompres video yang ada di hasil CCTV bisa di-relay dari Operation Room dan itu dengan menggunakan teknologi yang terkini Artificial Intelligence (AI) serta teknologi lainnya.
Selain itu, untuk meningkatkan kualitas konektivitas, PELNI juga melakukan lompatan besar: mulai 2025, komunikasi kapal beralih dari satelit GEO ke LEO. Perubahan ini memangkas latensi secara signifikan dan memperkuat kualitas jaringan, termasuk layanan wifi bagi penumpang yang kini bekerja sama dengan Starlink.
Inovasi Layanan
Salah satu proyek terbesar PELNI pada 2025 adalah New Commercial System – Passenger Management System (PMS), sistem generasi baru yang merombak total proses penjualan tiket hingga pengolahan data penumpang. Sistem ini dirancang dengan arsitektur microservices untuk memberikan fleksibilitas, percepatan pengembangan, serta peningkatan keamanan data.
“Kami merancang kembali sistem lama dengan menambahkan fasilitas baru dan menggunakan microservices agar lebih agile dan mudah menyesuaikan kebutuhan ke depan,” ujar Anik yang dalam sesi penjurian ini juga didampingi oleh Angga Krisosa (VP Teknologi Informasi), Muhammad Fauzan (Manajer Operasional IT), Ardian Paspal (Spv IT), dan Sony Baruna Putra (Spv IT).
Dampaknya terasa langsung bagi penumpang: penempatan kabin kini dapat mempertimbangkan kategori gender, keluarga, atau grup sehingga mengurangi keluhan terkait akomodasi selama perjalanan.
Inovasi lainnya adalah pengembangan AI untuk meminimalkan kesalahan transaksi dan potensi fraud melalui aplikasi AP Link PELNI. “Mudah-mudahan kesalahan dan fraud bisa dicegah lebih dini karena kami sudah menggunakan sistem yang merancang dan mencegah hal itu,” ucapnya.
Meski tidak terlihat di permukaan, proyek paling strategis dalam transformasi ini adalah pembangunan data warehouse baru. Infrastruktur ini menjadi dasar integrasi data keuangan, operasional, dan manajemen sehingga seluruh unit kerja bisa mengakses data kinerja secara cepat dan akurat.
“Data warehouse ini kami rancang untuk mendukung operasional PELNI dan memberikan visualisasi data kepada seluruh unit bisnis,” kata Anik.
Dengan pendekatan itu, PELNI bergerak menuju perusahaan berbasis data (data-driven enterprise), sebuah prasyarat penting bagi perusahaan pelayaran modern.
Kunci Keberhasilan Transformasi Perusahaan
Pada roadmap transformasi 2025–2029, PELNI menempatkan 2025 sebagai Foundation of Digital Excellence. Tahun-tahun berikutnya akan diisi implementasi sistem inti, percepatan teknologi, integrasi operasional internal, hingga penguatan resiliensi bisnis.
Perjalanan ini membutuhkan investasi besar, namun PELNI melihatnya sebagai kebutuhan strategis. Digitalisasi bukan lagi proyek tambahan — melainkan syarat untuk bertahan dan tumbuh di industri pelayaran yang semakin kompetitif.
“IT tidak hanya sebagai enabler, tetapi memegang kunci keberhasilan transformasi di PELNI,” tutup Anik.














