ItWorks.id- Menjelang akhir 2026, Ingram Micro, perusahaan penyedia solusi ekosistem IT, kembali menyelenggarakan Ingram Micro Innovation Day 2025 dengan mengusung “Navigating Intelligent Growth & Harnessing AI in the Digital Landscape.” Melalui gelaran ini, Ingram Micro menegaskan komitmennya mendukung percepatan inovasi pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang mencakup perangkat dan komputasi edge, hingga pusat data, cloud, dan keamanan siber.
Dalam kegiatan ini, Ingram Micro Innovation Day 2025 menghadirkan rangkaian diskusi bersama sejumlah pemerhati serta pelaku teknologi lintas sektor seperti Dr. Indrawan Nugroho dan CEO & Founder EPSINDO, Rene Indiarto Widjaja. Bersama President Director Ingram Micro Indonesia, Mulia Dewi Karnadi, mengatakan, pihaknya sengaja mendatangkan para pakar tersebut untuk berbagi perspektif dan wawasan mereka tentang tren pasar serta tantangan dalam implementasi adopsi AI berskala besar.
“AI hari ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup, bukan lagi sesuatu yang jauh dari keseharian kita. Kalau organisasi tidak ikut beradaptasi, maka cepat atau lambat akan tertinggal,” ujar President Director Ingram Micro Indonesia Mulia Dewi Karnadi, dalam Media Briefing Ingram Micro Innovation Day 2025, pada (9/12/2025), di Jakarta.
Ingram Micro Innovation Day merupakan platform yang dihadirkan untuk mendukung organisasi berinovasi secara lebih cepat dan aman. “Kami menyadari bahwa inovasi merupakan kunci survival di era digital yang kompetitif, dinamis, dan penuh tantangan ini, dengan adopsi teknologi sebagai motor perubahannya,” ujarnmya.
Dewi menekankan dampak transformatif AI terhadap analisis data dan pengambilan keputusan dalam organisasi. Ia menggambarkan peran Ingram Micro sebagai orkestrator ekosistem: mengintegrasikan perangkat, infrastruktur, dan keamanan untuk memastikan pelanggan dapat bergerak melewati tahap percontohan (pilot project) menuju tahap produksi dengan capaian bisnis yang terukur sekaligus memenuhi standar keamanan.
Para pembicara mengakui adanya tantangan yang terus-menerus di lapangan, termasuk tekanan efisiensi, kekurangan talenta, fragmentasi data, kompleksitas infrastruktur AI, maupun risiko siber. Namun mereka juga mencatat bahwa peluang yang ada masih terbuka luas. Dari sektor manufaktur hingga layanan keuangan, ritel, pemerintahan, dan pendidikan telah mendapatkan manfaat dari otomatisasi dan model bisnis berbasis data.
Menguatkan pandangan pasar, Rene Indiarto Widjaja menggambarkan bagaimana kebutuhan industri telah beralih dari tahap eksperimen menuju implementasi nyata. “Pasar menuntut tata kelola data sejak fase desain, integrasi vendor, hingga pencapaian hasil yang cepat dan terukur,” ujarnya.
Rene menilai bahwa AI bukanlah tujuan akhir, melainkan alat pendorong efisiensi dan inovasi lintas sektor. Di dunia pendidikan misalnya, pemanfaatan AI mendukung riset di laboratorium, proses pembelajaran mahasiswa, hingga otomatisasi layanan administrasi di kampus, yang seluruhnya menuntut tata kelola big data, privasi, serta pagaretika yang solid.
Dr. Arnaldo Marulitua Sinaga S.T., M.InfoTech, Rektor Institut Teknologi Del (IT Del), Sumatera Utara, menyampaikan sudut pandang kampus. “Sejak kami memperbarui kemampuan komputasi superkami dengan dukungan AI pada Agustus 2025, kemampuan riset di IT Del telah meningkat secara signifikan. Pemrosesan big data untuk penelitian genomik, hortikultura, dan herbal kini dapat dilakukan secara jauh lebih cepat dan presisi, sehingga mahasiswa dan dosen dapat menuntaskan riset yang sebelumnya terkendala oleh keterbatasan komputasi.” ujarnya.
Arnaldo menambahkan, AI juga membuka jalan bagi pengembangan metode pembelajaran berbasis data, termasuk penerapan metode Gasing yang dikembangkan Prof. Yohanes Surya, sehingga pembelajaran matematika dan fisika dapat dibuat lebih adaptif dan otomatis. Di bidang pariwisata, transformasi ini juga memungkinkan IT Del mempersonalisasi sistem informasi kawasan wisata Danau Toba melalui pengembangan layanan tanya jawab berbasis chatbot, hingga dukungan elektronifikasi layanan pembayaran bersama mitra terkait, seperti Bank Indonesia.
“Organisasi kami memanfaatkan kemampuan komputasi super untuk mendorong riset dan pembelajaran berbasis AI dengan tata kelola, etika, serta keamanan sebagai fondasinya,” lanjutnya. Menurut dia, forum seperti Ingram Micro Innovation Day dapat menjadi jembatan antara kampus dan dunia industri untuk mendorong adopsi AI yang bertanggung jawab.
Melalui rangkaian diskusi panel dan sesi kolaborasi pada Innovation Day 2025 ini, Ingram Micro menegaskan kembali posisinya sebagai mitra strategis organisasi lintas sektor yang ingin mempercepat transformasi digital berbasis AI secara aman, efektif, dan sesuai dengan standar regulasi, untuk mendukung percepatan inovasi yang relevan bagi kemajuan Indonesia yang berkelanjutan.














