ItWorks.id- Sebagai pintu gerbang utama perdagangan ekspor-impor Indonesia, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta yang juga bagian dari ekosistem penting logistik nasional, akan terus ditingkatkan daya saingnya. Salah satu strateginya melalui implementasi Business Continuity Management System (BCMS) untuk memastikan operasional tetap berjalan saat terjadi gangguan, termasuk penguatan cyber security (keamanan siber) menyusul kian banyak implementasi teknologi digital di ekosistem layanan kepelabuhanan.
“Ada tiga rencana prioritas dalam waktu dekat yang saat ini disiapkan oleh Kantor Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok untuk keberlangsungan dan daya saing Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pintu gerbang utama ekspor -impor nasional. Di antaranya yakni penerapan Busness Continuity Management System (BCMS), Kerjasama dengan Kantor Imigrasi terkait Penerbitan Buku Pelaut, dan Satu Komando terkait Penanganan Tumpahan Minyak (Oil Boom),” ungkap Kepala KSOP Utama Tanjung Priok Capt.Heru Susanto saat menyampaikan sambutan pada acara pembukaan kegiatan Orientasi Wartawan bertema ‘Peluang dan Tantangan Bisnis di Pelabuhan Tanjung Priok 2026” yang selenggarakan Indonesia Port Editor Club (IPEC), Selasa (9/12/2025), di Kelapa Gading- di Jakarta.
Penerapan BCMS adalah implementasi sistem manajemen untuk memastikan kelangsungan bisnis di Pelabuhan, utamanya Tanjung Priok agar saat terjadi gangguan, termasuk serangan siber, manajemenm bisa aksi cepat mengidentifikasi dan mengatasinya, sehingga aktivitas dan operasional kepelabuhan cepat pulih dan berjalan dengan baik. Implementasi ini menunjukkan komitmen untuk mitigasi risiko dan ketahanan operasional di salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia. Dalam hal ini juga perlu dukungan dari semua ekosistem yang terkait, baik unsur pemerintah, swasta, operator, pengguna jasa, dan pihak lainnya.
“Ke depan untuk daya saing, penggunaan teknologi digital di jasa layanan kepelabuhanan dan yang terkait, akan makin tinggi. ImplementasiBCMS itu juga berkaitan dengan penanganan cyber security di Pelabuhan. Sehingga tren digitalisasi ini juga harus diperkuat dengan aspek cyber security-nya,” ungkap Heru Susanto.
Ditambahkan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun yang menantang dan dinamis bagi bisnis logistik, terutama di pelabuhan besar seperti Tanjung Priok. Beberapa tantangan seperti terkait dinamika regulasi ke depan yang bakal makin dinamis sesuai dengan tren dan tuntutan global, di mana hal ini dapat dihadapi melalui transformasi dari berbagai aspek layanan, termasuk penggunaan teknologi digital. “Pelabuhan Tanjung Priok juga sedang mengalami transformasi besar untuk menciptakan daya saing sebagai pelabuhan internasional,” ujarnya.
Acara ini juga dihadiri oleh Executive General Manager (EGM) Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputera, Ketua DPP Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Juswandi Kristanto, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Adil Karim, Ketua DPW APBMI DKI Jakarta, Suwondo, serta Ketua Indonesia National Shipowners Association (INSA) Jaya Andi Pattonangi. Selain itu juga dihadiri Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta Dharmawan Witantom dan Ketua Indonesia Shipping Agencies Association (ISAA) Aris Hartoyo.
Prospek Dan Tantangan
Dalam sambutannya, Capt Heru juga menyinggung prospek bisnis, peluang dan tantangan di tengah dinamika yang kian berkembang, termasuk dampak global yang akan mempengaruhi kegiatan di pelabuhan yang juga membutuhkan antisipasi cepat dari para pelaku usaha yang ada saat ini. Seperti pelaku usaha pelayaran, bongkar muat, jasa pengiriman barang atau ekspedisi muatan (freight forwarder), angkutan truck, dan lainnya.
“Tentunya akan selalu ada dinamika baru yang berkembang, bisa menjadi peluang namun juga tantangan. Karenannya rekan-rekan wartawan (media), menjadi bagian penting untuk memberikan informasi adanya dinamika barun yang berkembang ini. Oleh sebab itu, kegiatan yang diadakan IFEC tema – Peluang dan Tantangan Bisnis di Pelabuhan Tanjung Priok 2026- ini menjadi penting. Apalagi Pelabuhan Tanjung Priok sedang alami transformasi besar dalam menciptakan daya saing sebagai pelabuhan internasional,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh EGM Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputera. Ia mengatakan, bahwa saat ini pelabuhan Tanjung Priok masih menjadi andalan utama dari kapal-kapal untuk pengangkutan ekspor impor, mauopun dalam negeri. Saat ini Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok mengandle hingga 65% kargo ekspor impor ataupun domestik. “Tentu dengan peran vital ini, jangan sampai aktivitas pelabuhan terganggu, karena hal ini bisa berdampak luas terhadap bisnis di Tanah Air,” ungkapnya.
Diakui di tengah dinamika yang terus berkembang, tantangan ke depan juga makin kompleks. Namun pihaknya optimistis bahwa tahun 2026 tetap berpotensi untuk mencapai pertumbuhan lebih sejaklan dengan dinamikan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dia juga mengatakan, bahwa manajemen Pelindo Tanjung Priok tidak alergi atau anti kritik dan masukan, termasuk dari kalangan awak media untuk mendorong kemajuan layanan jasa kepelabuhanan yang lebih baik di Tanjung Priok ini.
Presiden IPEC, Ridwan Said saat menyampaikan laporan dan sambutan dalam diskusi ini mengatakan, tema ini sengaja dipilih karena Pelabuhan Tanjung Priok dari dulu hingga saat ini, masih menjadi barometer dan andalan bagi kelancaran arus perdagangan dan logistik nasional, di mana lebih dari 70%, ekspor impor Indonesia diangkut melalui pelabuhan ini.
Di sisi lain, dinamika baru juga terus berkembang, seperti masalah kemacetan lalu lintas yang makin tinggi, tuntutan kecepatan sistem layanan Pelabuhan, layananm Bea Cukai, pelayaran dan lainnya yang melibatkan banyak pihak. “Artinya pelung dan tantanng baru, termasuk aspek bisnios juga akan terus berkembang yang juga membutuhkam solusi dan antisipasi bersama ke depan. Melalui forum diskusi ini, IPEC sebagai insan Pers ingin berkontribusi menjembatani mencari solusi bersama, untuk mewujudkan kelancaran arus logistik dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok yang tentunya juga akan berdampak luas bagi kelangsungan ekonomi dan bisnis di Tanah Air,” ungkapnya.
Ketua INSA Jaya, Andi Pattonangi dalam kesempatan itu mengatakan, diperlukan modernisasi, kolaborasi dan strategis yang tepat, Tanjung Priok dapat menjadi lokomotif pertumbuhan logistik dan pelayaran Indonesia menuju 2026 sehingga peluang bisnis yang terintegrasi tetap tumbuh dengan baik.
Sementara Ketua ALFI DKI Jakarta Adil Karim dalam sesi diskusi menyatakan , peluang aktivitas logistik tahun 2026 masih cerah , lantatan aktivitas transportasi dan pergudangan akan menjadi penopang potensi pertumbuhan ekonomi 2026 yang didorong kebutuhan e-commerce dan rantai pasok.
Hal ini lanjutnya juga selaras dengan data Badan Pusat Statistik (BPS), di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga Oktober 2025 sebesar 5,05%. Adapun pertumbuhan sektor logistik tahun 2025 di proyeksi postif dengan pertumbuhan 12,53% untuk subsektor transportasi dan pergudangan.“Pertumbuhan itu juga didorong oleh pembangunan infrastruktur, digitalisasi dan pesatnya pertumbuhan e-commerce,” ujar Adil Karim.
Disisi lain, ia juga menyinggung isu lingkungan yang kini menjadi relevan, dan peluang bisnis muncul dengan layanan logistik yang ramah lingkungan seperti penggunaan kendaraan listrik untuk pengiriman last-mile, optimasi rute untuk mengurangi emisi. Adapun tantangannya saat ini, kata Adil, regulasi dan kebjiakan terutama berkaitan dengan kendaraan over dimension dan overload (ODOL), pembatasan angkutan barang saat Hari Raya dan Nataru.
“Kendala lainnya adalah, keterlambatan adaptasi teknologi dan kurangnya infrastruktur digital, ketidakpastian geopolitik serta yang berkaitan dengan kompetensi sumber daya manusia atau SDM. Tentu ini menjadi tantangan yang harus segera di antisipasi,” tandasnya.















