ItWorks.id- Bendera Merah Putih resmi berkibar di atas kapal perang KRI Sriwijaya-100 di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pengibaran bendera tersebut menandai babak baru kapal yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi, resmi bergabung dalam jajaran armada di TNI Angkatan Laut (TNI AL).
Prosesi reflagging menjadi bagian awal dari rangkaian peresmian yang dilanjutkan dengan shipnaming dan pengukuhan Komandan KRI Sriwijaya-100 yang berlangsung (24/9), di Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam prosesi upacara tersebur, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, bertindak sebagai Inspektur Upacara.
Perubahan identitas kapal perang tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI, khususnya dalam memperkuat kemampuan pertahanan laut Indonesia. “Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas dan posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan laut yang modern dan tangguh. Kehadiran KRI Sriwijaya di jajaran TNI AL merupakan wujud nyata modernisasi alutsista TNI,” ujar Agus dilansir dalam rilis pers, belum lama ini.
Menurut Panglima Agus Subiyanto, KRI Sriwijaya-100 tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari kekuatan tempur laut. Kapal tersebut juga diproyeksikan memiliki peran strategis sebagai pusat komando operasi laut, sarana diplomasi pertahanan, sekaligus pendukung misi bantuan kemanusiaan.
Dengan kemampuan tersebut, keberadaan KRI Sriwijaya-100 diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan berbagai penugasan TNI, baik dalam konteks nasional, regional maupun global.
KRI Sriwijaya-100 selanjutnya menjadi bagian dari Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL. Kapal tersebut akan mendukung berbagai penugasan, termasuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), penanggulangan bencana, hingga misi kemanusiaan.
Tempuh 6.870 Mil Laut
Sebelum tiba di Indonesia, kapal yang sebelumnya memperkuat Angkatan Laut Italia tersebut menempuh perjalanan sekitar 6.870 mil laut selama 25 hari dari Italia menuju Jakarta. Perjalanan tersebut melintasi sejumlah jalur maritim strategis, mulai dari Terusan Suez, Laut Merah, hingga Samudra Hindia, sebelum akhirnya memasuki perairan Indonesia dan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok.
Kehadiran kapal tersebut di Tanjung Priok sekaligus memperlihatkan posisi pelabuhan sebagai salah satu simpul penting aktivitas kemaritiman Indonesia. Dermaga 107 menjadi lokasi berlangsungnya rangkaian perubahan status dan identitas kapal hingga pengukuhan KRI Sriwijaya-100.
Prosesi tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi Indonesia dan Italia, antara lain Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Duta Besar Italia untuk Indonesia Roberto Colamine, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Wakil Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, serta Kepala Staf Angkatan Laut Italia Admiral Giuseppe Berutti Bergotto.
Dari jajaran Pelindo, hadir Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Achmad Muchtasyar, Executive Director 2 Pelindo Regional 2 Budi Prasetio, serta Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Yandri Trisaputra.
Dalam kesempatan tersebut, Admiral Giuseppe Berutti Bergotto menyampaikan harapan agar hubungan persahabatan antara Indonesia dan Italia terus terjaga. “Long live the friendship between Indonesia and Italy,” ujarnya.
Tanjung Priok Dukung Agenda Strategis Nasional
Bagi Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, penyelenggaraan prosesi pengukuhan KRI Sriwijaya-100 menjadi bagian dari peran pelabuhan dalam mendukung agenda nasional sekaligus aktivitas kemaritiman internasional.
Kesiapan operasional, keselamatan, keamanan, serta koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi aspek penting dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar.
Aktivitas tersebut sekaligus mempertegas fungsi Pelabuhan Tanjung Priok bukan hanya sebagai simpul logistik dan konektivitas perdagangan, tetapi juga sebagai bagian dari infrastruktur strategis yang mendukung berbagai kegiatan nasional di sektor kemaritiman. Peran tersebut sejalan dengan arahan strategis Danantara dalam mendorong BUMN memberikan kontribusi terhadap agenda-agenda strategis nasional.
Dengan dikukuhkannya KRI Sriwijaya-100, penguatan armada TNI AL kini mendapat tambahan aset yang memiliki fungsi tidak hanya untuk mendukung pertahanan dan keamanan laut, tetapi juga diplomasi pertahanan serta misi kemanusiaan. Sementara bagi Tanjung Priok, momentum tersebut kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu gerbang penting bagi aktivitas maritim strategis Indonesia.














