ItWorks,id-PT Astra Digital Arta (AstraPay), perusahaan layanan pembayaran digital dan penyedia solusi finansial technology, terus hadirkan inovasi untuk solusi pembayaran digital yang mudah, praktis dan aman. Tak terkecuali pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memperluas peran layanan pembayaran digital melalui fitur Split Bill yang memungkinkan pengguna membagi tagihan secara otomatis dengan memindai struk pembayaran.
Mendapat linsensi dan perizinan dari Bank Indonesia (BI) tahun 2020 dan resmi menghadirkan produk layanan pembayaran digital tahun 2021, PT Astra Digital Arta (AstraPay), terus hadirkan inovasiu layanan pembayaran digital nasional dengan jumlah user (pengguna) yang terus meningkat mencapai 18,5 juta, naik dari sebelumnya 16,7 juta. Tak pelak jika kehadirannya kian meramaikan layanan financial technology (fintech) ranah dompet digital di Tanah Air.
Berbagai inovasi terus dilakukan untuk kemudahan layanan pembayaran berbasis financial technology/ digital payment & financial solution bagi penggunanya. Salah satunya solusi AI yang kini menjadi salah satu solusi unggulan yang dipresentasikan AstraPay dalam penjurian TOP DIGITAL Awards 2026- melalui inovasi AI fitur Split Bill. Fitur Split Bill AstraPay mengintegrasikan teknologi pengenalan teks berbasis AI atau optical character recognition (OCR) untuk membaca rincian tagihan, menghitung pembagian biaya, hingga memfasilitasi pembayaran melalui aplikasi.
Presentasi dan wawancara penjurian disampaikanm Head of Product AstraPay, Anton Rifco Susilo, didampingi Muhamaad Bryan W Adityatama. Sesuai tema utama di ajang penjurian TOP Digital Awards 2026 “Driving Business and Government Excellence Through Trusted AI and Digital Innovation”, tim AstraPay membawakan materi presentasi berjudul: Inovasi pembayaran digital berbasis AI yang aman, terpercaya, dan mudah digunakan. Di antaranya menekankan pada pengembangan inovasi digital yang aman, tepercaya, dan mudah digunakan.
Sedangkan tim juri penilai terdiri, Prof. DR. Satya Arinanto (Guru Besar FH UI), Benyamin De Haan (Senior Advisor MSI Group-Komisaris LPK MSI Institut), DR. Ahmad Jumadi (Sekjen IDTUG), Kusuma Prabandari (CEO Dwika Consulting) yang dimoderatori oleh Ahmad Chury, Managing Editor ItWorks.id (MSI Group).
Dalam presentasinya Anton Rifco Susilo menjelaskan, Fitur Split Bill dirancang untuk menjawab persoalan yang kerap muncul ketika beberapa orang harus membagi tagihan makan atau pengeluaran bersama. Dengan inovasi ini, proses yang sebelumnya mengharuskan pengguna memasukkan nominal satu per satu, menghitung pajak dan biaya layanan secara manual, serta menagih pembayaran kepada masing-masing peserta, kini dapat dilakukan melalui satu alur digital.
“Pengguna cukup mengunggah foto struk dari kamera atau galeri ponsel. Teknologi AI kemudian membaca daftar barang, harga, pajak, dan biaya layanan yang tercantum dalam struk. Setelah itu, pengguna dapat memeriksa hasil pembacaan, mengoreksi informasi yang kurang tepat, serta menentukan siapa yang memesan setiap item,” terangnya kepada tim juri dalam wawancara penjurian secara daring pda (27/10/2026), yang dihelat Majalah ItWorks.
Dijelaskan, dengan dukiungan AI, sistem selanjutnya menghitung pembagian tagihan berdasarkan item yang dikonsumsi masing-masing orang, termasuk membagi pajak dan biaya layanan secara proporsional. Tagihan dapat dikirimkan kepada peserta untuk diselesaikan melalui aplikasi AstraPay.
Dengan pendekatan tersebut, AstraPay tidak hanya mengotomatisasi proses perhitungan, tetapi juga mengintegrasikan tahapan pencatatan pengeluaran, pembagian biaya, dan pembayaran dalam satu layanan. Inovasi fitur Split Bill berbasis pemindaian struk AI ini, mulai diluncurkan pada Oktober 2026 dan ditujukan bagi seluruh pengguna aplikasi AstraPay.
Pemindaian Dua Detik, Akurasi 97,2%
Salah satu aspek yang ditonjolkan AstraPay dalam presentasinya adalah efisiensi waktu melalui pemanfaatan AI. Berdasarkan riset internal yang dipaparkan perusahaan, proses pemindaian struk membutuhkan waktu rata-rata dua detik, dengan tingkat akurasi pembacaan sebesar 97,2%.
AstraPay juga mencatat waktu sekitar 30 detik untuk menyelesaikan proses dari pemindaian struk hingga pengiriman tagihan. Angka tersebut menggambarkan potensi efisiensi yang ditawarkan fitur ini dibandingkan metode pembagian tagihan secara manual.
Meski demikian, hasil pembacaan AI tidak langsung menjadi dasar pembagian tagihan tanpa pemeriksaan. AstraPay menerapkan mekanisme validasi yang memungkinkan pengguna meninjau dan mengedit setiap item sebelum tagihan dikirimkan.
Sistem juga memeriksa kesesuaian total item dengan jumlah keseluruhan pada struk. Jika ditemukan kekeliruan, pengguna dapat melakukan koreksi sebelum melanjutkan transaksi.
Pendekatan human in the loop tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan AI pada layanan keuangan digital. Teknologi digunakan untuk mempercepat pekerjaan, sedangkan pengguna tetap memegang kendali atas hasil akhir yang akan dikirimkan kepada pihak lain.
Mengedepankan Keamanan dan Tata Kelola AI
Di balik inovasi produk, aspek keamanan data dan tata kelola teknologi menjadi bagian dari pendekatan AstraPay dalam mengembangkan layanan digital. Perusahaan menyatakan pembatasan dan audit akses data diterapkan dalam kerangka pengamanan yang merujuk pada ISO 27001 dan ISO 27701.
Kedua standar tersebut berkaitan dengan sistem manajemen keamanan informasi dan pengelolaan informasi privasi. Dalam konteks fitur Split Bill, pengamanan data menjadi relevan karena proses pemindaian struk melibatkan informasi transaksi yang harus dikelola secara tepat.
AstraPay juga menerapkan mekanisme pemantauan atas akurasi pembacaan dan tingkat koreksi pengguna. Pengelolaan fitur berada di bawah tim produk dalam direktorat yang dipimpin Chief Product and Technology Officer (CPTO), sedangkan fungsi Plan-Do-Check-Act (PDCA) dan Risk Compliance Control Owner (RCCO) digunakan untuk memantau risiko serta kepatuhan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan AI tidak hanya berorientasi pada penambahan fitur, tetapi juga memerlukan pengendalian proses, pengawasan hasil, dan kejelasan tanggung jawab.
Pada tingkat organisasi, AstraPay memaparkan penerapan pertahanan keamanan berlapis yang mencakup lingkungan kerja, proses pengembangan, sistem produksi, serta pemantauan. Pengamanan tersebut meliputi pengendalian akses, keamanan jaringan dan surel, praktik pengembangan yang aman, pemantauan ancaman, pencatatan aktivitas sistem, serta respons terhadap insiden.
Perusahaan juga memaparkan rangkaian audit internal dan eksternal, termasuk pemeriksaan Bank Indonesia, audit manajemen risiko sistem informasi, pengujian penetrasi, serta proses sertifikasi dan sertifikasi ulang ISO yang dicantumkan dalam materi presentasi.
Bagi penyedia layanan pembayaran digital, pendekatan tersebut penting untuk menjaga keandalan sistem sekaligus mempertahankan kepercayaan pengguna. Semakin luas pemanfaatan teknologi dalam transaksi, semakin penting pula pengelolaan risiko keamanan dan privasi sejak tahap perancangan produk.
Didukung Ekosistem Pembayaran yang Luas
Pengembangan Split Bill berlangsung di tengah skala bisnis AstraPay yang telah menjangkau jutaan pengguna. Perusahaan mencatat 18,5 juta total pengguna, dengan 4,7 juta pengguna yang bertransaksi dalam setahun. Hingga September 2026, AstraPay juga mencatat nilai transaksi bruto atau gross transaction value sebesar Rp164 triliun dan jumlah transaksi 327,4 juta.
Dari sisi produk, AstraPay mengembangkan layanan untuk segmen konsumen atau business-to-consumer (B2C), sekaligus menyediakan solusi bagi pelaku usaha melalui skema business-to-business (B2B).
Layanan konsumen mencakup dompet elektronik, transfer bank, pengisian saldo, pembayaran tagihan, pembayaran melalui QRIS, pembayaran pinjaman, serta layanan pendukung seperti loyalitas, perjalanan, dan hiburan.
Sementara itu, solusi untuk segmen bisnis meliputi layanan QRIS bagi merchant, akun bisnis, agregator tagihan, pencairan dana atau disbursement, aplikasi merchant, serta kanal pembayaran. Dalam presentasinya, AstraPay menyebut telah mengakuisisi 28.000 merchant dan memiliki lebih dari 157 mitra strategis.
Ekosistem tersebut menjadi fondasi bagi pengembangan layanan pembayaran yang terintegrasi. Dengan menghubungkan fitur digital dengan kebutuhan konsumen dan mitra usaha, AstraPay berupaya memperluas kegunaan aplikasi melampaui fungsi dasar dompet elektronik.
Sebagai perusahaan yang sepenuhnya dimiliki Astra, AstraPay juga membawa visi menjadi penyedia solusi pembayaran digital dan keuangan terkemuka di Indonesia melalui ekosistem Astra maupun di luar ekosistem tersebut.
Investasi Teknologi untuk Skalabilitas dan Keandalan
Strategi inovasi AstraPay turut didukung investasi teknologi informasi yang diarahkan pada peningkatan skalabilitas platform, keandalan layanan, dan efisiensi operasional. AstraPay menempatkan pengembangan kompetensi talenta digital, efisiensi proses, serta penguatan infrastruktur sebagai tiga prioritas alokasi investasi teknologi informasi.
Perusahaan juga memaparkan pemanfaatan AI untuk mendukung dokumentasi, pengembangan dan analitik, peningkatan pengalaman pelanggan, otomatisasi OCR dan proses know your customer (KYC), serta deteksi ancaman.
Pada sisi tata kelola, pengambilan keputusan investasi teknologi dilakukan dengan mempertimbangkan keselarasan terhadap strategi dan target bisnis, perencanaan skenario teknologi, evaluasi berkala, serta penyesuaian rencana berdasarkan kebutuhan.
Selain inovasi yang langsung digunakan pelanggan, AstraPay memaparkan pemanfaatan Rovo AI Agent dalam Confluence untuk mendukung pengelolaan pengetahuan internal. Solusi tersebut digunakan untuk mencari dokumen lintas ruang kerja, menjawab pertanyaan dalam bahasa alami, dan merangkum dokumen proyek.
Pemanfaatan solusi tersebut diarahkan untuk mempercepat pencarian dokumen, mempertahankan pengetahuan ketika terjadi pergantian anggota tim, serta menjaga konsistensi dokumentasi proyek. AstraPay juga mencatat peningkatan 41% pada jumlah dokumen yang dihasilkan, termasuk root cause analysis (RCA), minutes of meeting (MoM), dan request for change (RFC).
Pengembangan ini memperlihatkan bahwa transformasi digital AstraPay tidak terbatas pada layanan pembayaran untuk pelanggan, tetapi juga mencakup peningkatan produktivitas dan pengelolaan pengetahuan di lingkungan internal perusahaan.
Terkait pengembangan dan investasi sistem IT, terdapat 3 prioritas untuk alokasi belanja teknologi informasi (IT Investment Spending Allocation), yakni people, process, dan technology. People atau SDM fokus untuk meningkatkan dan mempertahankan kompetensi talenta digital.
Adapun process terkait sistem leverage & efisiensi operasional perusahaan. Sedangkan tchnology, terutama memberikan keluasaan dalam pengembangan dan penguatan sistem aplikasi dan keandalan infrastrukturnya, termasuk sistem pertahanan keamanan (IT security).
Terkait sistem keamanan, AstraPay telah menerapkan serangkaian kontrol keamanan yang menciptakan kerangka kerja keamanan berlapis, yang secara efektif melindungi AstraPay dari berbagai ancaman dunia maya. Termasuk ancaman di tempat kerja, pengembangan, dan di lingkungan produksi, sehingga meningkatkan ketahanan secara keseluruhan.
Guna memastikan standar keamanan data pengguna sesuai regulasi yang berlaku, AstraPay telah mendapatkan lisensi sebagai Uang Elektronik dari Bank Indonesia sebagaimana surat keputusan No. 22/59/DKSP/Srt/B dan surat keputusan Transfer Dana No. 22/273/DKSP/100. Kemudian si sisi keamanan akses akun, AstraPay telah dilengkapi dengan mekanisme single device authentication untuk mendukung pengguna tetap aman bertransaksi di AstraPay.














