Bangsa Indonesia, khususnya generasi mudanya, harus memiliki kemampuan dalam bahasa pemrograman komputer atau coding untuk menghadapi era industri 4.0. Karena di masa depan ada dua hal yang akan membentuk peradaban manusia, yakni, penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan blockchain di berbagai bidang kehidupan
Hal itu dikatakan Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Yandra Arkeman di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/8).
Coding atau pengkodean dalam bahasa program adalah bagaimana cara manusia memberikan instruksi kepada komputer.
“Di luar negeri, anak-anak usia sekolah dasar sudah diajari bahasa ‘coding‘. Kita harus mulai, kalau tidak kita akan ketinggalan,” katanya. Saat ini, lanjutnya, alatnya banyak tapi ahli coding-nya sedikit, hal ini yang jadi masalah.
“Kita harus mulai menyiapkan manusia cerdas. Revolusi industri 4.0 kita harus kejar, tapi akan ada inovasi di bidang kecerdasan buatan yang akan menyebabkan terjadinya revolusi industri 5.0? Kapan itu akan terjadi?” katanya.
Lebih lanjut ia memaparkan, revolusi Industri 5.0 mungkin perlu waktu 100 tahun lagi, tetapi yang jelas manusia Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk era setelah 4.0. Yakni era perkembangan teknologi kombinasi antara `blockchain` dan AI (kecerdasan buatan).
“Di luar negeri, para pakar kecerdasan buatan sudah mengarah ke sana,” paparnya.

Pembentuk peradaban berikutnya, ujar dia, adalah perkembangan agroindustri secara masif untuk ketahanan pangan, energi dan pengembangan biomaterial.
Menurutnya, dalam upaya memaksimumkan nilai tambah suatu produk, agroindustri juga harus mulai menggunakan kecerdasan buatan.
“Teknologi ini, harus digunakan dalam seluruh rantai pasok,” katanya.
Prof Yandra menambahkan, saat ini dirinya sedang bekerja sama dengan IPB untuk mengembangkan ‘drone‘ (pesawat kendali jarak jauh) dengan menggunakan kecerdasan buatan.
“Drone ini akan ditambahkan penglihatan dan navigasi cerdas sehingga bisa terbang sendiri tanpa operator,” katanya.
Aplikasi teknologi ‘drone’ di pertanian ini untuk mendeteksi keanekaragaman hayati.
Untuk agroindustri, lanjutnya, IPB akan segera meluncurkan agrologistik atau agroindustri digital. Yakni agroindustri yang memanfaatkan ‘blockchain‘ yang berguna agar rantai suplai agroindustri lebih dapat dilacak, transparan, efisien, dan tidak mudah dimanipulasi.
“Kami akan mengembangkan ‘blockchain‘ untuk komoditas coklat, daging dan bawang merah,” katanya.
Baca juga:
Perusahaan Indonesia Paling Banyak Adopsi AI di Asia Tenggara














