PT Bank SeaBank Indonesia merupakan salah satu bank digital papan atas nasional yang mulai beroperasi sejak tahun 2021 lalu. Dengan mengandalkan ekosistem Sea Group, seperti Shopee dan Garena, terbukti digitalisasi di SeaBank Indonesia telah berkolerasi positif ke kinerja Perusahaan.
Hal ini terungkap saat SeaBank Indonesia mengikuti penjurian TOP Digital Awards 2024 yang diselenggarakan Majalah It Works. Hadir dalam penjurian kali formasi lengkap di SeaBank yakni Sasmaya Tuhuleley selaku Direktur Utama, Junedy Liu sebagai Wakil Direktur Utama, Dono Boestami menjabat Komisaris Utama, dan Yosua Santoso sebagai Kepala Subdirektorat Digital & Teknologi.
Dengan melakukan penjurian ini, SeaBank berhak menjadi salah satu finalis penerima penghargaan TOP Digital Awards 2024 yang sudah mengalahkan banyak nominasi lainnya.
“Bagaimana impact di bisnis kami setelah kami melakukan transformasi digital? Jadi, kami itu melakukan layanan digital kami itu mulai kuartal III-2021. Dan bagaimana kami bisa mengubah transformasi (digital) ini yang sebelumya itu merugi langsung bisa meraih untung di full year 2022, atau satu tahun setelah kami melakukan layanan aplikasi kami,” terang Direktur Utama Sea Bank Indonesia, Sasmaya Tuhuleley itu membahas soal digitalisasi di SeaBank.
Bahkan, kata dia, dengan digitalisasi di banknya yang memang sebagai bank digital itu ternyata bisa bertumbuh signifikan hingga lima kali dari sisi raihan laba tahun berjalan dari 2022 ke tahun 2023.
“Jadi ini merupakan perubahan yang menurut kami sangat accelerated dan juga sustainable. Karena kami masih mempertahankan performa finansial kami hingga saat ini di 2024 ini. Baik itu dari aspek pendapatan operasional, beban operasional, juga pertumbuhan dari sisi akuisisi nasabah, DPK (dana pihak ketiga), dan juga kredit kami, semua itu ditopang oleh perubahan digital dan implementasi sistem yang kami terapkan di dalam keseharian operasional kami,” kembali dia menerangkan.
Untuk diketahui, hingga kuartal III-2024 sendiri, kinerja SeaBank sangat mengagumkan. Perseroan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 291,53 miliar hingga September 2024. Nilai ini tumbuh 31,97 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara dari sisi fungsi intermediasi, SeaBank Indonesia telah menyalurkan kredit hingga Rp50 triliun. Kredit tersebut utamanya dikucurkan ke segmen portofolio rendah, yakni mencapai Rp19,7 triliun.
Meski banyak disalurkan ke portofolio rendah, namun tetap rasio kredit bermasalah (NPL) dapat ditekan di angka rendah. “Karena prinsip kehati-hatian tetap menjadi prioritas SeaBank. Sehingga telah trerjadi perbaikan NPL ke angka 1,6 persen,” ujar Sasmaya.
Kinerja positif ini tak lepas dari sinergi dengan ekosistem SeaBank Group. Seperti sinergi dengan ekosistem Shopee telah terbukti mempercepat pertumbuhan bisnis bank. Juga ada akuisisi nasabah yang dilakukan dari berbagai entry point pada aplikasi Shopee untuk mendorong akuisisi pelanggan tersebut.
Ada juga Pinjaman Digital, berupa penawaran produk kredit kepada pengguna dan penjual Shopee. Dan dari sisi segmen pembayaran (payment) juga sudah lengkap. Melalui virtual account untuk belanja & pembayaran pinjaman, Direct Debit untuk top-up ShopeePay, dan lainnya. Plus untuk penarikan saldo penjual bisa dilakukan dengan mudah, murah, dan instant.
“Jadi melalui ekosistem Shopee itu kita terus tingkatkan untuk bersinergi dengan ekosistem untuk menjangkau dan melayani segmen unbankable. Lalu ada juga penempatan banner digital di aplikasi Shopee untuk meningkatkan brand awareness, adanya integrasi platform SeaBank dengan Shopee, ShopeePay, Saldo Penjual, dan Pinjaman Digital, juga mendukung digitalisasi ekosistem UMKM untuk menyederhanakan akses terhadap layanan keuangan,” ujarnya.
Digitalisasi di SeaBank
Sebagai bank digital, SeaBank Indonesia tentu sangat lekat dengan proses digital yang tentu saja di level yang tinggi. Baik itu dalam hal keamanan siber (cyber security) atau pun terkait pengembangan produk yang berbasis kecerdasan buatan (AI).
Peran cyber security dalam digital banking SeaBank, kata dia, itu dilihat dari infrastruktur keamanan–endpoint-nya. Hal itu bisa dilihat dari sisi URL Filtering, yaitu melindungi jaringan Bank dari situs berbahaya, meningkatkan keamanan, serta memastikan kepatuhan terhadap kebijakan akses internet.
Dari aspek Endpoint Management, dengan mengamankan perangkat pengguna agar tetap sesuai dengan kebijakan keamanan bank, mengurangi risiko, memastikan produktivitas, dan kepatuhan dalam lingkungan kerja di bank.
Lalu dari aspek Anti-Tampering, untuk melindungi perangkat pengguna dari ancaman keamanan seperti malware dan virus, serta menjaga integritas data dan keamanan jaringan perusahaan. Termasuk juga terkait Data Prevention Loss, yaitu mencegah kebocoran data sensitif dan memastikan keamanan serta kepatuhan data perusahaan.
Sementara untuk AI, untuk penggunaannya dalam perbankan digital itu berupa SeaBank meningkatkan customer experience serta efisiensi proses melalui teknologi berbasis AI yang dikembangkan secara in-house. Yaitu untuk Facial Verification, Chatbot, Credit Scoring, dan OCR.
Untuk facial verification ini berupa pemanfaatan Supervised Machine Learning untuk model training pada fitur Facial Verification Bank. “Dan facial verification itu merupakan salah satu metode otentikasi yang sangat akurat dalam memastikan legitimasi user sebagai pemilik akun,” kata Sang Dirut.
Selanjutnya, kata dia, pemanfaatan AI atau bot untuk memberikan resolusi terhadap inquiry nasabah. “Chatbot ini dapat meningkatkan efisiensi customer inquiries dari pelanggan dan meningkatkan ketersediaan layanan selama 24 jam. Penggunaan chatbot juga untuk memberikan layanan nasabah yang cepat dan efektif, terutama dalam menjawab pertanyaan umum dan sederhana,” ucap dia.
Kemudian, bank terus mengembangkan mekanisme kredit scoring yang berbasis big data dan dapat menggunakan machine learning. Dan penggunaan machine learning dalam pembentukan model ini digunakan untuk menghitung internal score Bank.
“Meningkatkan akurasi proses underwriting ini dalam menentukan penerimaan aplikasi pinjaman yang berdampak langsung terhadap penerimaan revenue Bank,” katanya.
SeaBank juga memanfaatkan image processing untuk membaca data dari KTP. Chatbot dapat meningkatkan efisiensi customer inquiries dari pelanggan dan meningkatkan ketersediaan layanan selama 24 jam.
Editor: Fauzi














