ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi menggandeng PT Soho Industri Pharmasi (SIP) dalam sebuah inisiatif strategis untuk meneliti dan mengembangkan tanaman kratom (Mitragyna Speciosa) menjadi obat modern. Kratom adalah sejenis pohon tropis yang banyak ditemukan di Kalimantan dan telah digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat setempat.
Kolaborasi antara BRIN dan PT SIP ini berfokus pada potensi kratom sebagai obat pereda nyeri, langkah yang didasari oleh hasil riset BRIN yang telah berjalan sejak 2022. Kegiatan penandatanganan kerja sama dan kunjungan fasilitas pabrik ekstrak dilaksanakan (07/10), di kantor PT Soho Industri Pharmasi, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta.
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko dalam sambutannya menekankan pentingnya pemanfaatan hasil riset sehingga bisa berdampak secara konkret bagi kemaslahatan masyarakat. Handoko menjelaskan mekanisme joint development yang dapat dilakukan oleh BRIN untuk mendukung mitra industri dalam kaitannya dengan penelitian dan pengembangan produk.
“BRIN sangat terbuka untuk berkolaborasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D) produk dengan industri, sehingga tidak perlu investasi besar di bidang itu. Hal ini kita lakukan supaya pengembangan produk berbasis riset di industri lokal kita semakin kuat,” ujarnya dilasnir portal web BIRN, baru-baru ini.
Sementara itu Eng Liang Tan, presiden komisaris PT Soho Industri Pharmasi, menyatakan bahwa kolaborasi antara lembaga riset dan industri ini sangat penting untuk dapat memanfaatkan secara optimal kekayaan biodiversitas luar biasa yang dimiliki Indonesia. “Tidak hanya pada kratom saja, banyak hal yang bisa kita lakukan bersama. Ke depannya, kami berharap dapat juga berkolaborasi dengan BRIN untuk uji praklinis dan uji klinis karena kami belum memiliki fasilitasnya,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN, Masteria Yunovilsa Putra, menjelaskan bahwa kolaborasi BRIN – PT SIP ini merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah yang meminta BRIN, untuk mengkaji secara mendalam baik sisi negatif maupun positif dari tanaman kratom. “Berdasarkan riset yang telah dilakukan, kratom ditemukan memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai anti-inflamasi, analgesik, anti-kanker, dan anti-diabetes,” terangnya.
Diungkapkannya, BRIN telah memaparkan hasil penelitian kratom kepada Badan Perlindungan Obat dan Makanan (BPOM). Berdasarkan arahan BPOM, BRIN dapat melanjutkan hasil penelitian kratom ini ke uji praklinis dan uji klinis, sekaligus untuk hilirisasinya.
Lebih lanjut, Masteria menjelaskan terkait ruang lingkup kerja sama yang mencakup transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dari BRIN ke PT SIP, khususnya terkait metode ekstraksi kratom yang sangat unik dan berbeda dari proses ekstraksi herbal pada umumnya. BRIN akan berbagi pengetahuan mengenai proses ekstraksi yang sesuai dengan publikasi riset yang telah dilakukan setelah teknologi ekstraksi dikuasai, kolaborasi akan berlanjut ke tahap Co-Development, yaitu pengembangan formulasi obat secara bersama-sama. “Awalnya, kami diminta oleh BPOM untuk fokus pada analgesik dulu. Untuk tahap awal, kami akan melakukan Co-Development formula untuk analgesik dengan PT SIP, berdasarkan data in vitro dan in vivo yang kami miliki.” pungkasnya.














