ItWorks.id- Pameran tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara, Indo Intertex & Inatex 2026, siap kembali hadir untuk ke-22 kalinya pada 15–18 April 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Tak hanya menghadirkan inovasi produk, bahan baku tekstil produk tekstil (TPT), garmen, tren desain, dan ekosistem pendukung, pameran ini juga akan menghadirkan inovasi teknologi terbaru, mesin canggih, hingga teknologi printing mutakhir) yang relevan dengan tuntutan digitalisasi di era industri 4.0.
Tuntutan menuju industri 4.0 juga telah menjadi atensi besar pemerintah untuk mendukung penguatan dan daya saing manufaktur nasional di kancah global. Tak terkecuali bagi pelaku atau sektor TPT dan garmen agar makin berdaya saing tinggi. Industri 4.0 di sektor tekstil (Tekstil 4.0) akan mengintegrasikan teknologi digital seperti IoT, AI, robotika, dan big data untuk menciptakan smart manufacturing (pabrik pintar), yang akan meningkatkan efisiensi, dan memungkinkan kustomisasi massal. Teknologi memungkinkan peningkatan dan kecepatan produksi, menurunkan cost (biaya) operasional, dan mempercepat respons terhadap tuntutan pasar yang kian dinamis.
“Pameran ini kami hadirkan sebagai platform strategis untuk mempertemukan pelaku industri tekstil dari hulu ke hilir. Indo Intertex dan Inatex merupakan satu-satunya pameran di Indonesia yang menghadirkan seluruh rantai nilai industri secara komprehensif, mulai dari mesin, produk tekstil, hingga teknologi printing dan bahan kimia untuk tekstil. Tujuan utamanya adalah mendorong pertumbuhan industri melalui koneksi bisnis, transfer teknologi, dan membuka peluang ekspor,” ungkap Presiden Direktur PT Peraga Expo, Paul Kingsen, selaku penyelenggara pameran dalam jumpa pers (08/4/2026), di Jakarta.
Dengan area seluas lebih dari 35.000 meter persegi, pameran akbar ini akan diramaikan oleh lebih dari 800 peserta yang mewakili 1.500 merek global terkemuka. Target 35.000 pengunjung profesional dari 29 negara diharapkan hadir, menjadikan ajang ini sebagai pusat kolaborasi internasional untuk adopsi teknologi terbaru dan perluasan jaringan bisnis.
Indo Intertex & Inatex tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga berperan dalam memperkuat ekosistem industri tekstil nasional dengan mempertemukan pelaku usaha melalui program business matching yang membuka peluang kerja sama dan transaksi bisnis secara langsung. Selain itu, pameran ini turut mendorong masuknya investasi serta pemanfaatan teknologi terkini untuk meningkatkan efisiensi produksi, kualitas produk, dan daya saing di pasar global. Setiap penyelenggaraannya pun menghadirkan dampak komersial yang nyata, mulai dari potensi transaksi hingga terbentuknya kemitraan jangka panjang yang memperkuat rantai pasok dan memperluas akses pasar.
Momentum positif ini kian menguat seiring penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang memberikan fasilitas tarif impor nol persen bagi produk tekstil dan garmen Indonesia melalui skema tariff-rate quota (TRQ). Kebijakan ini dinilai mampu meningkatkan daya saing produk nasional di pasar Amerika Serikat yang jauh lebih besar dibandingkan pasar domestik, sekaligus menopang sekitar 4 juta tenaga kerja dan memberi dampak ekonomi bagi hingga 20 juta masyarakat Indonesia. Dengan nilai ekspor saat ini sekitar USD 4 miliar, industri tekstil nasional pun membidik pertumbuhan signifikan hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade ke depan.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, menambahkan, penerapan tarif nol persen melalui kesepakatan ini memberikan optimisme baru bagi industri tekstil nasional. Akses ke pasar global pun semakin terbuka, sehingga memperkuat daya saing Indonesia di momentum yang tepat.
“Kami berharap ini dapat menjadi titik awal kebangkitan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), dengan mendorong masuknya investasi, meningkatkan kinerja ekspor, serta menggerakkan kembali seluruh ekosistem industri. Tentu adanya konflik timur tengah belakangan ini, juga menjadi tantangan dan mudah-mudahan ini segera teratasi. Tapi secara umum, kita tetap optimistis karena kita ini punya potensi dan ekosistem yang lengkap TPT dan garmen ini,” ujarnya
Sejumlah program unggulan juga dihadirkan pada pemnran kali ini untuk memperkaya wawasan sekaligus memberi nilai tambah bagi pelaku industri tekstil dan garmen. Seminar dan Workshop interaktif akan menghadirkan para ahli dari luar negeri, praktisi guna membahas tren, strategi, serta tantangan terkini di industri tekstil dan garmen. Di sisi lain, isu keberlanjutan dan sirkularitas tekstil menjadi sorotan, mendorong pelaku industri untuk semakin memahami dan menerapkan praktik berkelanjutan yang kian relevan di pasar global.
Hadir juga nara sumber lainnya dalam jumpa pers ini, Sekjen Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFi) –Farhan Aqil Syauqi mewakili Ketum -Redma Gita Wirawasta, Ketua Umum Komunitas Digital Printing Indonesia (KOPI) Usman Batubara, serta Aryo Utomo Director of APR (mewakili exhibitor).
Dalam pameran ini, pengunjung juga dapat menyaksikan Trunk Show yang menampilkan karya-karya kreatif desainer dari Indonesia Fashion Chamber (IFC), menghadirkan inspirasi sekaligus hiburan yang mencerminkan dinamika perkembangan industri fesyen nasional.
Dengan menghadirkan platform terpadu, Indo Intertex & Inatex 2026 menawarkan pengalaman industri yang komprehensif. Ajang ini tidak hanya membuka peluang bisnis, tetapi juga memperluas wawasan serta mendorong pelaku industri untuk terus beradaptasi, berinovasi, dan meningkatkan daya saing di tengah dinamika pasar global.














