ItWorks.id-IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) terus memperkuat perannya dalam mendukung daya saing perdagangan Indonesia di pasar global melalui pelayanan perdana layanan pelayaran South China Java X-Press (SCJX) milik X-Press Feeders. Kehadiran layanan baru ini dinilai strategis untuk memperkuat konektivitas perdagangan intra-Asia, khususnya jalur Indonesia–Tiongkok yang terus tumbuh positif.
Pelayanan maiden voyage dilakukan terhadap kapal MV WANTAI yang dioperasikan X-Press Feeders dengan agen pelayaran Ben Line Agencies. Kapal tersebut sandar di Terminal Operasi 3 IPC TPK pada Rabu, 27 Mei 2026 pukul 16.20 WIB. Acara seremoni penyambutan layanan perdana SCJX digelar pada Kamis, 28 Mei 2026 dan dihadiri Plt Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis IPC TPK Yanuar Evyanto bersama perwakilan manajemen Ben Line Agencies.
Corporate Secretary IPC TPK, Daniel Setiawan, mengatakan kehadiran layanan baru ini menjadi bukti kepercayaan shipping line global terhadap kesiapan operasional IPC TPK. “Dengan dukungan layanan terminal yang terintegrasi dan kesiapan operasional yang optimal, IPC TPK siap mendukung kebutuhan shipping line dalam menghadirkan konektivitas yang lebih efisien. Kehadiran layanan baru ini tidak hanya memperkuat jaringan pelayaran internasional, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi pengguna jasa melalui pilihan layanan yang lebih kompetitif,” ujar Daniel dalam rilis pers, di Jakarta, baru-baru ini.
Kapasitas 2.902 TEUs.
MV WANTAI memiliki panjang 210 meter dan lebar 32 meter dengan kapasitas angkut mencapai 2.902 Twenty foot Equivalent Units (TEU’s). Dalam kunjungan perdananya di Jakarta, kapal berbendera Liberia itu tercatat melakukan aktivitas bongkar muat sebanyak 1.577 box.
Layanan SCJX melayani rute pelayaran Yantian – Xiamen – Nansha – Jakarta – Surabaya – Yantian. Kehadiran rute direct service South China–Indonesia tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi distribusi logistik dan memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan perdagangan regional Asia.
Momentum ini juga menjadi maiden voyage internasional pertama yang dilayani IPC TPK sepanjang 2026. Kehadiran layanan baru tersebut sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelayaran global terhadap kesiapan infrastruktur dan kualitas layanan terminal petikemas nasional.
Penguatan konektivitas perdagangan dengan Tiongkok dinilai penting mengingat negeri tersebut masih menjadi mitra dagang utama Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari–Maret 2026, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok mencapai US$16,50 miliar atau sekitar 25,94 persen dari total ekspor nonmigas nasional.
Sementara itu, impor nonmigas dari Tiongkok tercatat sebesar US$22,02 miliar atau sekitar 41,56 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia pada periode tersebut masih mencatat surplus sebesar US$5,55 miliar dengan total ekspor mencapai US$66,85 miliar.
Pertumbuhan perdagangan tersebut didorong oleh sektor industri pengolahan, termasuk komoditas besi dan baja, produk nikel, elektronik, consumer goods, hingga bahan baku industri yang memiliki hubungan perdagangan kuat dengan pasar Tiongkok.
IPC TPK menilai meningkatnya perdagangan intra-Asia memerlukan dukungan layanan pelayaran yang efisien dan memiliki konektivitas langsung. Kehadiran layanan SCJX diharapkan mampu meningkatkan arus petikemas internasional melalui penambahan vessel call baru, optimalisasi utilisasi dermaga dan lapangan penumpukan, serta memperluas cakupan pasar terminal terhadap operator feeder internasional.
Selain itu, layanan baru tersebut juga memberikan keuntungan bagi eksportir dan importir nasional karena menawarkan alternatif pengiriman yang lebih kompetitif dengan transit time yang lebih efisien dan fleksibilitas rantai pasok yang lebih baik.














