ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

AESI Desak Regulasi Pemanfaatan Teknologi Listrik Surya

Ahmad Churi
2 July 2018 | 11:53
rubrik: E-Gov
AESI  Desak Regulasi  Pemanfaatan Teknologi Listrik Surya
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, Itech- Kebijakan Energi Nasional (KEN) Indonesia menargetkan adanya peningkatan bauran energi terbarukan menjadi 23% dalam bauran energi primer Indonesia di tahun 2025. Target ini dijabarkan lebih rinci dalam Perpres No. 22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) khususnya untuk pembangkitan listrik dari energi terbarukan sebesar 45GW atau diperlukan tambahan sekitar 36 GW dari kapasitas pembangkit yang ada.

Saat ini, pembangkit Listrik Tenaga Surya ditargetkan mencapai 6,4 GW pada tahun 2025. Kebijakan ini sejalan dengan komitmen pemerintah pada Conference of Parties (COP) 21, atau dikenal dengan sebutan Konperensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Untuk Perubahan Iklim (UNFCCC)untuk mengurangi emisi gas rumah kaca khususnya CO2 sebesar 29% pada tahun 2030. Hingga kini kapasitas pembangkit energi terbarukan baru mencapai 9 GW, dan kapasitas pembangkit surya total masih dibawah 100 MWp dengan potensi nasional yang mencapai 560 GWp.

Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) terus mendorong pengembangan energi surya di Indonesia. Upaya ini disebutnya sejalan dengan target capian energi baru terbarukan (EBT) yang dicanangkan dalam KEN. “Pencapaian target pengembangan energi surya akan mendorong pengembangan EBT di Indonesia. Saat ini, energi surya baru tercapai 900 megawatt (MW), sedangkan targetnya dalam delapan tahun ke depan sebesar 6,5 gigawatt (GW),” ujar Ketua Dewan Pakar AESI, Nur Pamudji, dalam sebuah diskusi bertajuk Memanen Potensi Listrik Surya Atap Untuk Mencapai Target EBT, Sabtu (29/6).

Menurut Nur Pamudji, target energi surya sebesar 6,5 GW dapat tercapai dengan cara menggenjot pengembangan listrik surya atap (solar rooftop). Pembangunan listrik surya atap dapat dilakukan di rumah pribadi, gedung pemerintah, gedung komersil, rumah ibadah, atap pabrik, kawasan industri serta fasilitas publik lainnya. “Ini sejalan dengan apa yang dicanangkan dalam Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap dengan mendorong pemanfaatan teknologi surya mencapai kapasitas terpasang 1 GW pada tahun 2020,” paparnya.

BACA JUGA:  Bangun Satu Data Pangan Nasional, National Food Agency Kandidat Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2023

Tak hanya itu, saat ini terdapat gerakan global oleh perusahaan-perusahaan multinasional termasuk yang memiliki investasi di Indonesia untuk berkomitmen menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan mencapai 100 persen yang dinamakan RE100.

Nur Pamudji menambahkan, dengan memanfaatkan energi surya atap merupakan salah satu cara bagi perusahaan-perusahaan tersebut untuk memenuhi komitmen dan target mereka karena dapat langsung dipasang di atap fasilitas produksi, atap rumah, atap gedung di mana sebagai tempat bekerja. Namun untuk mendorong terbangunnya secara masif, surya atap di Indonesia perlu regulasi untuk memudahkan pelanggan memasang energi surya atap tersebut tanpa harus membebani anggaran pemerintah maupun PLN. “Untuk memasang energi surya atap ini pada dasarnya cukup mudah. Hanya perlu regulasi atau izin yang memudahkan pelanggan,” katanya.

Hal senda juga disampaikan Direktur Institute For Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa. Fabby menyarankan agar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera merumuskan regulasi yang mendorong pemanfaatan teknologi listrik surya atap secara ekonomis. “Adanya regulasi yang memadai dapat mendorong perkembangan pasar teknologi photovoltaic di Indonesia, yang pada akhirnya dapat menurunkan biaya teknologi dan investasi, serta membuka lapangan kerja,” paparnya.

Fabby menilai, pemerintah wajib mendorong pengembangan energi surya atap. Kementerian sebaiknya segera merumuskan regulasi guna mendorong perkembangan pasar teknologi energi listrik surya atap (photovoltaic) di Indonesia. Adanya regulasi yang mudah dapat menurunkan biaya teknologi investasi serta membuka lapangan kerja. “Seperti kita lihat di banyak negara pengembangan energi surya di dorong sangat masif karena lebih murah dibandingkan dari batubara. Dengan investasi yang rendah maka dapat menurunkan biaya pembangkit listrik,” kata Fabby.

Dia menjelaskan, potensi potensi energi surya atap sangat besat di Indonesia. Berdasarkan laporam IRENA pada 2017 lalu potensi tenaga surya di Indonesia mencapai 3,1 GW per tahun di mana, sekitar 1 GW merupapakan potensi listrik surya atap dan 2,1 GW untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

BACA JUGA:  TOP Digital Awards 2022: TI di Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang Hadirkan Layanan Pelanggan yang Mengalir Tiada Henti, Melayani Sepenuh Hati

Namun sayangnya, belum ada regulasi yang memadai untuk mendorong pengembangan listrik surya atap. Bahkan Permen ESDM No 1/2017 justru menghambat pemanfaatan teknologi listrik surya atap khususnya untuk bangunan komersil dan industri serta fasilitas publik. Regulasi tersebut secara tidak langsung menghambat pemilik gedung dan pabrik serta kawasan industri memasang PLTS di atap bangunan karena secara ekonomi lebih mahal dengan adanya ketentuan membayar kapasitas kepada PLN. “Padahal berdastkan potensi ini target PLTS dan surya atap dapat tercapai dengan cepat jika di dukung dengan regulasinyang memadai,” jelas Fabby.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum AESI, Andhika Prastawa, memaparkan bahwa solusi listrik surya atap juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan konservasi energi di Indonesia. Pengembangan energi listrik surya atap dapat mengurangi penggunaan energi fosil sebagaimana telah dijanjikan oleh Presiden Joko Widodo di COP 23 Paris pada tahun 2025 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca khususnya CO2 sebesar 29 persen pada tahun 2030.

Dengan demikian, jelas Andhika, perlu adanya dorongan dan regulasin yang memudahkan baik dari pemerintah pusat hingga ke daerah. “Regulasi yang mudah dan tidak berbelit dapat mendorong animo tinggi masyarakat memasang energi surya atap. Saat ini jumlah listrik surya atap yang tersambung dengan jaringan PLN lebih dari dua kali lipat dalm enam bulan terakhir. Tren tersebut dapat dilihat melalui pemasangan listrik surya atap di gedung perkantoran, bangunan komersial serta perumahan yang dikembangkan developer,” katanya.

Dalam kaitannya untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian (awareness) tentang pembangkit listrik surya atap, AESI juga akan menyelenggarakan pameran peralatan pembangkit surya yang disebut INDOSOLAR Expo & Forum 2018 di JIExpo – Kemayoran, Jakarta, pada 11-13 Juli 2018. Bersamaan dengan pameran ini akan dilaksanakan Seminar dengan tema: “Tantangan dan Peluang Pengembangan Energi Surya Atap (Roof Top PV) Untuk Mencapai 1GWp Pertama Pada Tahun 2020” serta pelatihan instalatur PV Rooftop dengan instruktur dari RENAC Jerman. Seminar diharapkan akan membahas kebijakan dan regulasi untuk mendukung Pemanfaatan Pembangkit Listrik Surya Atap serta menghadirkan pembicara yang telah sukses menerapkannya. (red)

BACA JUGA:  Kominfo Paparkan Capaian Program Ekonomi Digital 2021 Pemerintah
Tags: Asosiasi Energi Surya Indoneia (AESI)
Previous Post

Pemilik ponsel Android sekarang dapat mengirim pesan teks dari browser web

Next Post

Jasindo Siapkan Aplikasi Digital untuk Asuransi Tani

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BRIN Dan UNSRI Perkuat Riset Keamanan Siber dan Blockchain

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal IPOT, Aplikasi Super untuk Investasi dari Indo Premier

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perluas Portofolio Home Appliances, Acerpure Hadirkan Lini Air Conditioner Acerpure Chill di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cloudera dan VAST Data Berkolaborasi Hadirkan Platform Data AI di Mana Saja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

CEO Rimini Street, Seth Ravin, Paparkan Prospek Agentic AI ERP

CEO Rimini Street, Seth Ravin, Paparkan Prospek Agentic AI ERP

Ahmad Churi
14 July 2026 | 23:20

ItWorks.id- Teknologi Agentic AI ERP diproyeksikan menjadi generasi baru sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang akan mendorong percepatan transformasi digital...

Zebra dan Salesforce Perkenalkan Solusi POS Ritel Berbasis Cloud di Android

Dari Logistik hingga Limbah Tekstil: Mengubah Wajah Industri Ritel melalui RFID dan Digital Product Passport

Fauzi
30 June 2026 | 16:58

Oleh: Eric Ananda, Country Manager Indonesia, Zebra Technologies Industri pakaian dan tekstil merupakan motor penggerak utama bagi perekonomian Indonesia. Sepanjang...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto