Pentingnya penguasaan teknologi dan manajemen usaha untuk meningkatkan daya saing petani tambak garam. Tuntutan pengusaan teknologi tersebut seiring harga jual garam krosok atau kasar yang terus merosot sehingga belum mampu mengangkat taraf perekonomian petambak garam di Madura. Saat ini, Produk yang berlimpah menyebabkan harga garam menjadi murah.
Demikian disampaikan Direktur Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Budi Sulistiyo dalam Temu Media bertema ‘Membangun Industri Garam Nasional Berbasis Inovasi’ yang diadakan Masyarakat Penulis Iptek (Mapiptek), bekerjasama dengan Balitbang Kelautan Perikanan dan Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta.
Menurut Budi, pada 2009 lalu, Badan Litbang Kelautan dan Perikanan telah berhasil membuat paket teknologi Pemurnian Garam secara mekanis. Teknologi tersebut baru diterapkan di 18 titik di Tanah Air, seperti seperti Cirebon, Demak, Indramayu dan lainnya. Kemampuan produksi teknologi tersebut mencapai dua ton per hari dan memberi nilai tambah Rp500 hingga Rp1.000 per kilogramnya.
“Proses teknologi itu diawali dengan penghancuran butiran garam krosok menjadi garam lembut. Lalu dicuci dengan air yang telah dituakan. Proses ini berfungsi memisahkan kotoran ikutan garam krosok.
Hasil cucian dikeringkan dengan mesin peniris, kemudian dikeringkan. Butiran garam itu selanjutnya diproses dalam penyemprot yodium lalu dikemas,” paparnya.
Sementara itu, Ditjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan Sudirman Saad menilai pentingnya dukungan inovasi dan teknologi untuk meningkatkan produksi garam nasional. Pihaknya mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengolahannya. “Apabila teknologi kita kuasai, maka bisa memperkuat swasembada garam,” jelasnya.
Berdasarkan catatan, salah satu dukungan inovasi dan teknologi yang diperlukan terkait proses produksi garam itu adalah menyangkut sistem informasi yang menyajikan prakiraan musim panen garam dan prakiraan produksi. Pun, inovasi dan teknologi terkait dengan lahan, seperti teknologi geomembran, teknologi ulir filter dinilai akan mendukung upaya industrialisasi garam nasional. Juga, inovasi dan teknologi pengolahan garam yang menghasilkan nilai tambah produk garam
Sebelumnya, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pengembangan Usaha Kementerian Kelautan dan Perikanan Riyanto Basuki menuturkan, Indonesia ditargetkan dapat menjadi negara pengekspor garam pada 2015-2019. Saat ini, empat negara penghasil garam terbesar dunia adalah China, Amerika Serikat, Jerman, dan India. (red/ant/ju)














