Jakarta, ItWorks- Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur dengan difasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kabupaten Kutai Karta Negara (Kukar), menyelenggarakan pelatihan digitalisasi bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menuju 4.0. Pelatihan ini di antaranya bertujuan untuk mengenalkan UMKM dengan berbagai media digital sebagai instrumen bisnis.
Para pelaku UMKM dari berbagai desa di wilayah Kabupaten Kukar –Kalimantan Timur antusias mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Kukar, belum lama ini. Dalam kesempatan itu, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah mengatakan, pada era digital sekarang, memang perlu dilakukan pelatihan digitalisasi termasuk UMKM, guna pengembangan usaha. Sehingga dengan pelatihanini diharapkan bisa bisa membuka wawasan terhadap promosi dan pemasaran produk secara digital atau online.
Bupati Edi Damansyah berharap, agar kegiatan seperti ini bisa terus dilanjutkan secara berkala, agar bisa menyentuh seluruh pelaku UMKM yang ada di Kukar. Pemanfaatan teknologi informasi dan digital di era revolusi industri 4.0, akan menjadi kekuatan baru untuk mendorong pengembangan UMKM dan ekonomi masyarakat. Peluang ini masih sangat besar bagi pelaku usaha dimanapun, termasuk dipelosok daerah.
“Selama ini, kami telah berhasil dalam penguatan kelembagaan UMKM-nya dan sumber daya manusianya, sehingga produknya pun berkualitas. Mendorong UMKM untuk masuk pasar digital merupakan salah satu upaya Pemkab Kukar bersama BI dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, terutama melalui pelaku UMKM. Pelatihan ini bagian dari penguatan yang dilakukan BI, khususnya dalam hal transaksi,” ujarnya dilansir dalam rilis pers, belum lama ini.
Sementara itu Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kaltim Tutuk SH Cahyono menambahkan, pelatihan tersebut merupakan yang kedua kalinya dilaksanakan di Kukar. Tujuannya untuk penguatan UMKM di era digital dan di masa pandemi Covid-19.
Disebutkan, BI ingin menguatkan UMKM tidak hanya berbisnis secara online, tapi juga melakukan pembayaran secara online menggunakan telepon genggam. Sehingga aktivitas bisnis tetap bisa dilakukan walau dari rumah saya. Tidak lagi kontak secara langsung dan barang bisa dikirim atau diantar melalui jasa pengiriman ke konsumen. “Tak hanya itu, pengenalan sisi produk dan pembayaran, ujungnya juga harus bisa membuka kesempatan akses pembiayaan dari perbankan, karena transaksi akan tercatat oleh perbankan,” ujarnya. (AC)














