Jakarta, ItWorks- Sebagai langkah awal memasuki era industri 4.0, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X juga terus melakukan terobosan inovasi berbasis teknologi digital, baik di sistem manajemen maupun operasional bisnis. Melalui strategi ini, keberadaan IT (information technology) bukan lagi sekadar enabler, namun mampu menciptakan peluang bisnis baru untuk daya saing dan kinerja perusahaan yang lebih baik sesuai strategi pengembangan bisnis berkelanjutan.
Sejalan dengan tuntutan era industri 4.0, PTPN X dibawah kepeminpinan /CEO Dr. Ir. Aris Toharisman, MAppSc., PT PN X juga terus melakukan inovasi-inovasi baru berbasis teknologi digital. Salah satu inovasi baru yakni dengan mengembangkan platform digital “Investani”.
Investani merupakan terobosan untuk permodalan bagi petani tebu mitra PTPN X dengan menawarkan pola pendanaan bersama (crowdfunding) kepada investor yang tertarik di sektor perkebunan. Inovasi karya anak bangsa ini, juga telah sukses memperoleh “Second Runner Up Business Strategy Category” di ajang “Millenial Innovation Summit 2020” yang diselenggarakan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
“Sistem ini sudah dicoba di beberapa lahan, dan respons masyarakat sangat positif. Pada tahap pertama, kami berhasil menghimpun pendanaan dengan kisaran sekitar Rp400 juta. Memang masih belum besar, tetapi kami optimistis prospeknya sangat besar. Itulah makanya, layanan crowdfunding Investani ini akan terus diperkuat. Saat ini kami juga sedang melakukan penguatan kelembagaan dan sistem dari produk Crowdfunding ini ke Otoritas Jass Keuangan (OJK). Di awal ini modal masih dalam pembentukan (seed funding), namun selanjutnya tak tertutup untuk modal seri A dan B bisa bekerjasama dengan Venture Capital,” ujar Kepala Urusan TI PTPN X, Andhika Dhyta Vernanda di dampingi Tim IT (M. Syaiful Rizal, Ikhwan Krisnadi, dan IDG Indra Kusuma-Kepala Urusan Humas dan Protokoler dalam presentasi dan wawancara penjurian “Top Digital Awards 2020” yang berlangsung Selasa (10/11) yang dihelat secara virtual oleh Majalah ItWorks bekerjasama dengan Konsultan Independent, dan didukung sejumlah Asosiasi TI & TELCO Indonesia.

Ditambahkan, layanan crowdfunding (Financial Technology) ini memungkinkan bagi siapapun untuk investasi di bidang perkebunan secara transparan dengan pola bagi hasil. Dalam pelaksanaannya, setelah dana terkumpul, bisnis dijalankan oleh tim operasional. Adapun mekanisme investasi, investor cukup membukanya melalui aplikasi web yang disediakan. Setelah itu, investor bisa memilih menu proyek yang diinginkan. Kemudian melakukan pembayaran ke rekening bersama Investani. Setelah itu, investor akan mendapat kontrak investasi. Sedangkan untuk memantau perkembangan kebun dari investasi yang mereka tanamkan, investor juga akan diberikan laporan bulanan.
“Sistemnya bagi hasil, untuk investor akan mendapat 70%, pengelola 24%, Investani 5%, dan ada koperasi 1%. Ini patokan secara umum, namun komposisinya bisa berubah sewaktu-waktu, sesuai dengan situasi dan konsidi. Tahun 2020 ini ada projek Investani di antaranya untuk perkebunan tebu di Sambiroto-Mojokerto,” ujarnya di hadapan dewan juri (Tendri Supriatno-Advisor Majalah ItWorks, Tody Siburian- Sinergi Nusantara Bersatu, Ashwin Sasongko-Dewan Riset Nasional, Melani Hariman-Melani K Harriman Associate, dan Febrizal Effendi –Aspiluki).
Ditambahkan, bagi perusahaan pola crowdfunding ini akan memberikan fleksibelitas dalam hal mendapatkan dukungan permodalan tanpa melalui prosedur yang rumit. Sehingga bisa diperkuat sebagai alternatif pemodalan tanpa menambah hutang atau mengorbankan ekuitas. Bagi investor, mereka bisa berinvestasi dalam jumlah yang tidak harus besar di banyak bisnis (diversifikasi), di mana nilai minimum pendanaan hanya Rp.500.000.
Dalam presentasinya terkait dengan kegiatan usaha perkebunan ini, Andhika Dhyta Vernanda menyatakan bahwa PTPN X juga telah melakukan transformasi dengan menerapkan IT dalam setiap proses bisnisnya. Salah satu inovasi baru TI yang sudah diterapkan di lingkungan PTPN yakni adanya Office Automation untuk sistem persuratan. Dengan aplikasi ini, seluruh karyawan dapat mengakses surat menyurat dimanapun berada secara digital.
Untuk sistem manajemen terdapat aplikasi Enterprise Resource Planning (ERP) dari SAP. Aplikasi dari SAP telah terimplementasi dan menjadi data utama laporan keuangan PTPN X sejak 2016 s/d saat ini yang meliputi proses: On Farm (PEMS On Farm), Off Farm (PEMS Off Farm, Production Planning, Plant Maintenance), Pemasaran (Sales Distribution), SDM (HCM & PEMS Payroll), Pengadaan & Persediaan (Material Management), Keuangan & Akuntansi (Project System Finance & Controlling).
Untuk dukungan operasional usaha perkebunan, PTPN X juga telah menerapkan aplikasi e-Farming. E-Farming merupakan aplikasi Precision Agriculture berbasis GIS (Pemetaan lahan sesuai geospatial) yang memfasilitasi pendaftaran lahan tebu secara online dan memberikan kemudahan dalam monitoring lahan dan verifikasi data. Sistem aplikasi ini telah diterapkan untuk perkebunan tebu dan produksi gula yang juga dapat digunakan untuk komoditi lainnya.
Selain itu, untuk kegiatan operasional terdapat aplikasi Core Sampler untuk analisa rendeman dengan sistem kerja yang lebih cepat dan hasil yang akurat. Manfaat CoreSampler(Liquid):memudahkan analisa pol dan brix pada sample“nira tebu” yang dikirim ke Pabrik Gula dan selanjutnya akan diketahui rendemen-nya.
Core Sampler juga bermanfaat untuk memberikan pelayanan kepada petani yang semakin transparan terkaiuntuk penetapan bagi hasil tebu PTR. “Ini sudah mulai diterapkan di PG Ngadiredjo tahun 2016 dengan sistem analisa liquid (analisa Nira) sebanyak 4 unit coresampler dan 3 unit NIRS Liquid. Kemudian di PG Pesantren Baru mulai tahun 2017 dengan sistem analisa tebu cacah sebanyak 3 unit coresampler dan 3 unit NIRSSolid. Sedangkan PG Gempolkrep mulai mengunakan coresampler tahun 2018,”ujarnya.
Untuk mendukung oprasional di lapangan juga ada aplikasi Naradda 2.0 untuk sistem pengawasan pasok tebu TRM-LL antara pos legalisasi sampai dengan pos pintu masuk PG yang diharapkan memudahkan control dan pengawasan.
Melalui transformasi digital, selain kinerja yang makin optimal dan efisien, juga mampu mendatangkan penghematan cost (biaya). Misalnya dengan penggunaan Office Automation (OA) sebagai sistem persuratan dan dokumentasi perusahaan, maka PTPN X sudah tidak lagi menggunakan kertas (paperless). Hal ini menjadi komitmen PTPNX untuk mendukung kebijakan EcoGreenTechnology dilingkungan PTPNX. Selain itu, penggunaan OA dapat menekan biaya operasional secara signifikan. Informasi dan pengambilan keputusan juga cepat karena teknologi yang agile yang dapat diakses dimanapun dan kapanpun.
Untuk transparansi dan praktik bisnis yang GCG PTPN X juga menerapkan eprocurement. Pengembangan dilakukan oleh PTPN X pada tahun 2014 dan telah digunakan sejak tahun 2015. Setelah sukses diimplementasikan pada tahun 2017, Holding Perkebunan melakukan pengembangan e-procurement dengan framework PTPN X untuk ditarik ke level korporasi lebih besar.
Secara umum perusahan telah menyusun roadmap pengembangan IT yang lebih terencana sebagia bagian dari startegi pengembangan perusahaam ke depan. Saat ini TI berada pada posisi Driver proses bisnis, dengan roadmap 2020 bisa menjadi Transformer proses bisnis. Bukti dokumennya adalah pada penghitungan Maturity level yaitu (3,28). Skor pada domain APO (Align, Plan, dan Organize) = 3.1 yang menunjukkan index alignment TI terhadap proses bisnis sudah mulai mature.
Dalam pengembangan usaha, perusahaan melakukan strategi EDO (Efisiensi, Diversifikasi, dan Optimalisasi). Efisiensi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan energi. Mengatasi berbagai hambatan permesinan, dan mengurangi biaya pemeliharaan pabrik. Diversifikasi Beyond sugar transformasi menjadi industri berbasis tebu (sugarcane based industry) terintegrasi dari hulu ke hilir dengan dukungan teknologi informasi. Sedangkan Optimalisasi dilakukan dengan memacu rendemen dengan menekan sugar losses melalui peningkatan kinerja ekstraksi gilingan dan efisiensi pemrosesan.
Saat ini bisnis utama PT Perkebunan Nusantara X adalah bidang industri gula dan tempai. Industri Gula yang dipasarkan didalam negeri melalui persaingan bebas dan terkoordinir (lelang dan negosiasi), sedangkan pembeli produk tetes adalah pabrikan (End User) dan tender.Tembakau, dilakukan penjualan langsung kepada pembeli industri (pabrikan) dan pembeli pedagang (trader), juga dipasarkan ke luar negeri (ekspor) dengan mengirim produk contoh.
PTPN X memiliki 9 Unit Pabrik Gula (PG) yang tersebar di wilayah Jawa Timur, yaitu PG Kremboong, PG Gempolkrep, PG Djombang Baru, PG Tjoekir, PG Lestari, PG Meritjan, PG Pesantren Baru, PG Ngadirejo dan PG Modjopanggoong. (AC)














