
Penulis: Agus Haryanto
Editor: Teguh Imam S.
Bank BPD Bali dalam beberapa tahun terakhir telah menjalankan Transformasi Digital. Sebelumnya, bank kebanggaan masyarakat Bali ini telah berinvestasi terkait infrastruktur TI dan security TI. Keduanya mendukung sistem TI internal bank sekaligus jadi tulang punggung dalam memberikan layanan, utamanya digital banking.
Saat Penjurian TOP DIGITAL Awards 2020 yang berlangsung secara online, Kamis (19/11/2020), Anak Agung Indraprasta, Kepala Divisi Teknologi dan Akuntansi, Bank BPD Bali mengatakan bahwa Infrastruktur TI merupakan basis atau sistem yang jadi tulang punggung layanan bank. Jadi, kalau Aplikasi itu adalah otaknya, maka Infrastruktur adalah jantungnya. Infrastruktur ini jadi tempat untuk aplikasi dan sistem TI bank,” terang Gung Indra.
Ia melanjutkan, untuk menunjang bisnisnya, Bank BPD Bali, sebagai bank BUKU II, telah berinvestasi untuk pengadaan infrastruktur TI dalam bentuk data center (DC), solusi hyper converged infrastructure (HCI), dan disaster recovery center (DRC). Kepada dewan juri, Gung Indra mengatakan pihaknya terus mengembangkan DC dan DRC untuk mendukung pelayanan kepada nasabah.
Investasi lain yang telah dijalankan adalah terkait IT Security. Gung Indra menjelaskan, Bank BPD Bali telah menerapkan sejumlah langkah antara lain: menggunakan perangkat Firewall (IDS dan IPS) dan segmentasi Jaringan Komunikasi, menggunakan Jasa Konsultan Security Operation Center (SOC) dan WAF, dan Penggunaan End Point Protection melalui Antivirus.
“Kami juga melakukan Penetration Testing rutin pada infrastruktur dan layanan, baik eksisting dan layanan baru. Juga telah dilakukan Upgrade DB Core Banking untuk peningkatan kapabilitas & availability layanan. Penguatan Compliance TI dilakukan melalui Kebijakan, Standar, dan Prosedur Pengamanan Informasi sesuai POJK 38 tahun 2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko Teknologi Informasi oleh Bank Umum,” terangnya.

Transformasi Digital
Dengan dukungan Infrastruktur dan Security yang handal itu, Bank BPD Bali dapat leluasa mengembangkan bisnisnya. Yaitu menerapkan Transformasi Digital dengan melakukan sejumlah digitalisasi
“Terlebih dengan hadirnya era baru perbankan, dimana Teknologi Mobile saat ini jadi kebutuhan fundamental dalam new banking model. Begitu juga Open API menciptakan satu super-ekosistem financial innovation yang sangat pesat. Untuk itu, kami menerapkan Open Banking System, dalam mengembangkan bisnis bank,” tambahnya,” ujar Gung Indra.
Digitalisasi Eksternal
Transformasi Digital yang kami jalankan meliputi menciptakan Ekosistem Digital yaitu Digitalisasi Core Business: mobile banking, internet banking, internet banking business. Laku Pandai, Loan Origination System dan Loan Collection System, teknologi QRIS, dan mesin ATM.”
“Berikutnya, Digitalisasi Transaksi Pemerintah Daerah dan Stakeholder: E-Retribusi, E-Ticket Pariwisata, dan E-Link LPD. Juga termasuk: PHR Online, SP2D Online, E-Samsat, Integrasi Tagihan (RS, Instansi, Sekolah, Perguruan Tinggi), Sistim Informasi Pemerintah Daerah, Pajak Daerah (PBB, Air Permukaan, dll), dan Portal Love Bali.”
“Kemudian, Interlink berupa pembayaran pajak daerah menggunakan gopay, dan pembayaran market place, Bali Mall.”
Digitalisasi Internal
Digitalisasi berikutnya yang dijalankan Bank BPD Bali ada di Bisnis Proses Internal.
Menurut Gung Indra, ini meliputi bidang Pelaporan ke Regulator menggunakan APOLO, ANTASENA, Pelaporan LPS, PSAK 71 & 73, dan OJK Box. Kemudian digitalisasi di bidang Compliance Management: CMS Kepatuhan, Sistim Aplikasi Profil Risiko, Sistim Aplikasi Risk Limit, APU PPT, GoAML, dan IFTI.”
“Juga di Bidang HR Management dengan SIM SDM, dan E-Slip otomasi pengiriman slip gaji. Termasuk bidang Service Desk Management: Aplikasi Help Desk, Call Center Terintegrasi, E-Doc, dan SIKD.”
Kepada dewan juri, Gung Indra kemudian memaparkan manfaat yang diperoleh dari digitalisasi di internal tersebut.
“Adanya efektivitas, jumlah SDM yang dibutuhkan lebih sedikit, sehingga dapat dialihkan ke unit lain yang lebih membutuhkan. Manfaat berikutnya, efisiensi, yang didapat dari mengurangi jumlah dokumen fisik, juga berperan menjaga ekosistem lingkungan. Juga Otomasi, di kegiatan SI DHN, warkat debet, dan Data warehouse & Business Intelligent.”
Menurut Gung Indra, dengan transformasi digital di layanan dan proses bisnis internal yang sudah dijalankan dalam beberapa tahun terakhir itu, dampaknya positif bagi Bank BPD Bali. “Market share, transaksi e-Channel, dan Fee Based Income kami meningkat,” ungkapnya.
Digitalisasi di Era New Normal
Kondisi Pandemi Covid-19 menuntut perubahan cara kerja berbasis digital. Pembatasan interaksi manusia dan social distancing merupakan tantangan bagi bisnis perbankan.
Terkait hal ini, Bank BPD Bali telah menerapkan E-Antrian. Nasabah bisa melakukan reservasi/booking atau pendaftaran secara online dimanapun dan kapanpun. Nasabah tidak perlu lagi mengantri waktu yang lama untuk mendapatkan pelayanan petugas bank. Nasabah merasa nyaman dan mudah dalam memperoleh haknya untuk dilayani oleh petugas bank.
IT PMO System & Project Collaboration, monitoring progress proyek dan penugasan karyawan serta dapat diakses dimana saja dan kapan saja. Menjaga tingkat produktivitas pegawai yang sama dengan saat bekerja di kantor. Platform yang tepat untuk memungkinkan bekerja secara jauh (remote working).
Cardless Transaction, Era baru transaksi perbankan tanpa kartu. Penarikan pada ATM dengan kode tarik dan kode setor. Melibatkan infrastruktur dan aplikasi eksisting.
Dengan Transformasi Digital, ini artinya TI jadi Business Transformer di Bank BPD Bali, tutup Gung Indra.
Baca: TOP DIGITAL Awards 2019: Transformasi TI PT Bank BPD Bali Berkontribusi Bagi Perekonomian Daerah














