Ilham Akbar Habibie, Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Nasional (Wantiknas) mengatakan manusia tidak boleh dikuasai oleh kecerdasan artifisial agar fungsi pengawasan tetap bisa dilakukan.
“Memang benar pernyataan, siapa yang menguasai kecerdasan artifisial, itu menguasai dunia. Tapi perlu diingat, harus selalu kita yang menguasai kecerdasan artifisial. Jangan kecerdasan artifisial yang menguasai kita,” tegas Ilham dalam diskusi yang digelar Wantiknas secara virtual, Kamis, 25/03/2021.
Oleh karena itu, ia mengingatkan kepada para pengembang agar dalam mengembangkan kecerdasan artifisial, segala perintah atau tujuan yang ingin dicapai harus terdefinisi dengan baik sehingga fungsi kontrol terhadap teknologi tersebut tetap berjalan.
“Kita harus selalu memastikan bahwa apa yang mau dicapai oleh kecerdasan artifisial itu terdefinisi, itu harus sesuai dengan yang kita inginkan, karena kitalah yang menentukan apa yang harus kecerdasan artifisial kerjakan,” jelas Ilham.
“Jadi, tujuan pengawasan dari kecerdasan artifisial itu penting sekali, dan mungkin bahkan lebih penting dari pada mengembangkan kecerdasan artifisial itu sendiri,” tambahnya.
Baca: Implementasi Stranas Kecerdasan Artifisial Diharapkan Bisa Tekan Impor Teknologi
Dalam acara itu juga, Hammam Riza, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan sejumlah aspek yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kecerdasan artifisial.
“Pengembangan kecerdasan artifisial harus mengacu kepada kepentingan masyarakat.”
“Kecerdasan artifisial juga harus menambahkan elemen tanggung jawab, tidak bertujuan merugikan, serta, meminimalisir adanya bias,” jelas Hamman.
Untuk itu, pembentukan kecerdasan artifisial harus punya sejumlah komponen yaitu keadilan, reliabel, keselamatan, privasi, keamanan, inklusivitas, transparansi, dan akuntabilitas.
Hammam juga minta adanya sinergitas antara para talenta terbaik Indonesia seperti peneliti, perekayasa, akademisi, hingga para pengembang perusahaan rintisan untuk membangun teknologi kecerdasan artifisial yang mumpuni.
“Apabila kita bisa memanfaatkan kecerdasan artifisial itu dengan optimal, kita akan ikut dalam pemulihan ekonomi dan sekaligus kita akan menjadi negara terdepan di dalam pertumbuhan ekonomi untuk masuk ke dalam visi Indonesia 2045 menjadi negara ekonomi terbesar di dunia,” ujarnya.
Baca: Huawei dan BPPT Dukung Pembangunan Ekosistem Kecerdasan Artifisial, Cloud dan 5G di Indonesia














