Jakarta, ItWorks- Pencemaran udara telah kian menjadi bahaya laten global yang tidak surut, termasuk bagi masyarakat Indonesia. Guna membantu masyarakat mengetahui kualitas udara agar bijak merencanakan waktu dan durasi beraktivitas di luar ruangan, Nafas, sebuah aplikasi pemantauan data kualitas udara lokal, hadirkan layanan untuk mengetahui tingkat polusi udara.
Kali ini, Napas sebagai platform kualitas udara asli Indonesia hadirkan jaringan sensor pantauan udara di Bandung dan Surabaya. Terdapat 5 sensor udara telah ditempatkan di Bandung dan 4 di Surabaya. “Sesuai misi Nafas, sejak awal terus berekspansi ke kota-kota besar di Indonesia untuk memastikan data kami dapat diakses dan memberikan manfaat untuk setiap individu di Indonesia. Kehadiran kami di Bandung dan Surabaya merupakan langkah penting dalam merealisasikan misi tersebut. Ekspansi ini baru menjadi awal dari perluasan kami di kota-kota lainnya pada tahun 2022,” jelas Nathan Roestandy selaku Co-Founder dan CEO nafas dilansir dalam siaran pers (11/10/2021).
Dengan tambahan ini, total terdapat hampir 130 sensor udara Nafas yang beroperasi termasuk di Jabodetabek, Bali dan D.I Yogyakarta. Setiap sensor itu dapat memberikan data kualitas udara secara real-time bagi pengguna melalui aplikasi. Dengan jaringan sensor yang sudah terpasang, diharapkan kualitas udara ini bisa dipakai publik dengan baik dengan aplikasi yang mudah dipakai dan dibaca.
Bandung dipilih karena sering dianggap sebagai kota dengan udara bersih, namun nyatanya laporan terbaru Indeks Kualitas Udara berjudul “Polusi Udara di Indonesia dan Dampaknya terhadap Angka Harapan Hidup” memaparkan bahwa Bandung merupakan kota kedua di Indonesia dengan dampak polusi terbesar terhadap kesehatan masyarakat. Sedangkan Surabaya juga merupakan kota metropolitan di Jawa yang padat dengan kendaraan bermotor, sehingga berkontribusi terhadap polusi udara yang signifikan.
Dengan komunitas pengguna nafas yang terus tumbuh baik melalui aplikasi maupun media sosial, nafas mampu melakukan pin point secara spesifik di lokasi-lokasi di Bandung dan Surabaya sehingga masyarakat lokal dapat mengakses data kualitas udara di lokasi-lokasi tersebut secara akurat. Di Bandung, sensor kualitas udara akan ditempatkan di wilayah Kayuambon, Sukamenak, Kertamulya, Manjahlega, dan Lagadar. Sementara di Surabaya, akan dioperasikan di Medokan Ayu, Kertajaya, Jemur Wonosari, dan Krembangan Selatan.
Siapapun dapat berkontribusi secara sukarela untuk menjadi host sensor udara dari nafas. Caranya mudah, cukup dengan mendaftarkan diri melalui aplikasi nafas yang tersedia di e iOS App Store dan Android Play Store. (AC)














