Penulis: Nurdian Akhmad
Sebagai BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, PT Bank DKI memiliki visi menjadi bank pilihan untuk Jakarta yang maju dan sejahtera. Untuk mencapai visi tersebut, ada tiga misi yang dilakukan Bank DKI. Pertama, mendukung pertumbuhan Jakarta melalui pengembangan UMKM, kemudahan bertransaksi, dan mewujudkan sistem transaksi nontunai.
Misi kedua, memaksimalkan peran sebagai mitra bisnis seluruh ekosistem Jakarta. Dan, ketiga adalah meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia dan penerapan teknologi serta Sistem Informasi yang handal untuk mendukung pencapaian kinerja bisnis.
Bank BUMD yang berdiri pada 1961 ini saat ini sudah masuk kelompok bank berdasar modal inti (KBMI) 2 dengan hasil pemeringkatan Id AA-(Stable). Berdasarkan data Bank DKI per Agustus 2021 memiliki 295 Kantor Layanan, 21 Kantor Layanan Syariah, dan 238 layanan Syariah (Office Channeling), serta 17 Kas Mobil.
Bank DKI juga mengembangkan layanan digital melalui JakOne Mobile yang saat ini sudah memiliki 1,3 juta pengguna dan 16,1 ribu merchants. Layanan Bank DKI juga didukung 1.090 unit ATM dan 3.964 unit EDC.
Hal itu diungkapkan Direktur Teknologi & Operasional Bank DKI Amirul Wicaksono dalam penjurian TOP DIGITAL Awards 2021 yang dilakukan secara virtual, Jumat (19/11/2021). Dalam penjurian ini, Amirul didampingi Edo Yudhistira (Pemimpin Grup Teknologi Informasi) dan Harun Zaenal (Pemimpin Divisi IT Governance, Risk & Control). Pada kesempatan itu, tim dari Bank DKI membawakan materi presentasi berjudul Accelerating Digital Transformation In Government Support & Business.
Seiring tren digitalisasi layanan perbankan di Indonesia, Bank DKI saat ini sangat serius melakukan transformasi digital untuk mendukung operasional dan bisnis. Bank DKI telah memiliki Rencana Strategis Teknologi Informasi (RSTI) 2020-2025, sebagai acuan dalam melakukan pengembangan dan penerapan TI untuk mendukung operasional dan bisnis.
Ini juga wujud kepatuhan Bank DKI terhadap ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia, yaitu peraturan OJK No. 38/POJK.03/2016, POJK No. 13/POJK.03/2020 dan SEOJK 21 /SEJOK.03/2017
Amirul menjelaskan, RSTI 2020-2025 ini mengacu pada COBIT 2019 dengan menggunakan dua Core Model Item yaitu Manage Strategy dan Enterprise Architectures. Sedangkan untuk Arsitektur Model Business, Data, Application dan Technology mengacu pada TOGAF. “Jadi pengembangan TI kita mengikuti standar-standar yang ditetapkan dalam COBIT 2019 dan TOGAF,” ucap Amirul.
Pemimpin Grup Teknologi Informasi Bank DKI Edo Yudhistira menambahkan, karyawan bagian TI di Bank DKI saat ini ada 84 orang yang melayani semua aspek bisnis yang ada di Bank DKI, mulai kredit, operasional, layanan, dan pengembangan produk-produk digital. Jumlah itu bertambah dibandingkan 2020 sebanyak 72 orang.
Menurut Edo, dari 84 orang karyawan, karyawan tetap 66 orang (78 persen) dan 18 orang karyawan kontrak. Dari jumlah tersebut sekitar 69 persen atau sebanyak 58 orang merupakan generasi milenial (kelahiran 1981-1995), 20 persen atau 17 orang dari generasi Z (kelahiran 1996-2010). Sisanya atau 11 persen (9 orang) adalah generasi X (kelahiran 1964-1980).
Penetrasi ke Komunitas
Saat ini, Bank DKI memiliki beragam produk digital, antara lain JakOne Mobile, JakCard, Kartu ATM & Debit, EDC & MPOS, ATM & CRM, Cash Management System (CMS), JakOne Bill, dan QRIS. Untuk memperkenalkan layanan digital ke masyarakat, BUMD ini memiliki program Bank DKI Bangkit.
“Ini merupakan program untuk menjual layanan digital ke komunitas-komunitas seperti merchant/pedagang, sekolah dan perumahan dengan lima subprogram untuk penetrasi di masing-masing segmen,” kata Edo.
Kelima subprogram itu adalah pertama Bang Jaka (Bangga Ajak-Ajak). Ini merupakan program untuk menumbuhkan budaya menjual produk Bank DKI kepada keluarga, kerabat dan teman karyawan.
Kedua adalah Bu Meri (Serbu Merchant Ritel), program untuk penetrasi ke pasar, Horeka (hotel, restoran dan katering), dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Solusi untuk merchant ini mulai dari funding hingga kredit. Bank DKI menargetkan 10.000 Horeka, 88.946 perdagang aktif dan 32 RSUD.
Ketiga adalah Program Bu Sela (Serbu Sekolah). Ini merupakan program untuk penetrasi ke sekolah swasta maupun negeri melalui OSOA, JakLingko, JakSchool, Mini Bank dan JakOne Bill. Bank DKI menargetkan 500.000 siswa menjadi pengguna produk digital tersebut.
Keempat adalah Program Bu Kokom (Serbu Komplek dan Komunitas) untuk penetrasi ke perumahan maupun apartemen melalui JakOne eRTe dan JakOne Bill. Bank DKI menargetkan 30.749 RT, 2.659.205 kepala keluarga (KK) dan 195 Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (PPPSRS).
Terakhir adalah Program Bergaransi (Bersama Garap Nasabah Inti), program loyalty untuk nasabah eksisting dengan memberikan manfaat transaksi dan bunga yang menarik.
Solusi Bisnis Unggulan
Edo juga menjelaskan, ada beberapa solusi bisnis unggulan yang dihadirkan Bank DKI untuk mempermudah transaksi nasabah dan mendukung optimalisasi pendapatan bagi Pemprov DKI Jakarta. Solusi bisnis tersebut adalah Optimalisasi Pajak Bumi & Bangunan (PBB).
Sebagai salah satu pajak penyumbang pendapatan tertinggi, pembayaran PBB dapat dilakukan di channel- channel Bank DKI (teller, ATM, JakOne Mobile dan CMS Internet Banking) maupun fintech dan e-commerce yang bekerja sama dengan Bank DKI. Mitra kerja sama pembayaran PBB antara lain Tokopedia, gopay, Bukalapak, dan LinkAja. “Kami juga ada promo hadiah handphone untuk pembayaran PBB melalui Bank DKI,” ucap Edo.
Wajib pajak (WP) yang melakukan pembayaran PBB di Bank DKI bisa memanfaatkan QRIS dan E-SPPT. Caranya, WP daftar dan login ke website e-SPPT PBB. Setelah diverifikasi, informasi PBB yang harus dibayarkan akan dikirimkan melalui email. Kemudian, WP dapat melakukan pembayaran cukup dengan scan QRIS Bank DKI yang ada di dokumen e- SPPT.
“Pembayaran dapat menggunakan aplikasi mobile banking atau uang elektronik mana pun yang mendukung QRIS,” kata dia.
Solusi sisnis unggulan lainnya adalah Optimalisasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Selain di channel-channel Bank DKI, pembayaran PKB juga dapat dilakukan secara nontunai dengan berbagai macam cara. Bank DKI telah melakukan pengembangan pembayaran PKB melalui mobile banking Bank DKI yaitu JakOne Mobile. “Pembayaran PKB juga dapat melalui QRIS di loket pembayaran yang ada di setiap Samsat Polda,” ujar Edo.
Pembayaran PKN juga bisa menggunakan aplikasi Signal (Samsat Digital Nasional). Signal merupakan aplikasi kolaborasi antara Bank DKI dengan Korlantas, di mana pengantaran dokumen PKB terkoneksi langsung dengan Pos Indonesia.
“Kami juga mensupport dengan promo untuk pembayaran PKB melalui Bank DKI berkesempatan mendapat hadiah satu mobil dan lima motor,” tutur dia.
Bank DKI juga memiliki solusi bisnis unggulan berupa optimalisasi pajak hotel, restoran dan parkir. Peran Bank DKI di sini adalah melakukan instalasi dan deployment, membangun backend sistem dan dashboard pelaporan. “Kami juga menyiapkan sistem agregator untuk pembayaran pajak online, sehingga bisa dibayar melalui payment channel,” paparnya.
Edo menjelaskan proses pajak online Horeka. Pertama, sistem POS merekam data transaksi. Kemudian wajib pajak atau WP melakukan konfirmasi nilai pajak yang direkam pada awal bulan. Selanjutnya data yang dikonfirmasi menghasilkan ketetapan dan kode Bayar. Lalu, WP melakukan pembayaran melalui Bank penerima. Setelah proses rekonsiliasi & settlement maka dilakukan pelimpahan ke RKUD (Rekon & Settlement) oleh bank aggregator.
Pengukuran IT Maurity level
Bank DKI juga sudah melakukan pengukuran IT Maturity Level untuk masing-masing arsitektur IT yang dikembangkan dan digunakan perusahaan. Pertama adalah arsitektur data dengan hasil skor IT Maturity 1,75/3,75 dan rekomendasinya adalah perlu infrastruktur big data yang advice dan efisien.
Untuk pengukuran Arsitektur Aplikasi skornya 2,8/4,6 dengan rekomendasi Integrasi antar aplikasi perlu ditingkatkan agar mengurangi duplikasi proses. Lalu untuk Arsitektur DC/DRC dengan skor IT Maturity 4,2/5 dan rekomendasinya adalah melakukan review secara berkala daftar aplikasi kritikal. Selanjutnya Arsitektur Jaringan dengan skor 4,7/5 dan rekomendasinya meningkatkan fungsi Capacity Planning. Kemudian, Arsitektur Server skornya adalah 4,3/5 dengan rekomendasi meningkatkan performance server mendasi konfigurasi jaringan harus terstandarisasi.
Untuk Arsitektur Database mendapat Skor IT Maurity 2,5/5 dan rekomendasinya optimisasi database dilakukan secara rutin. Kemudian Arsitektur Client Device mendapat skor 3,5/4,5 dan rekomendasinya tetap menggunakan device yang memiliki realibility yang baik.
Selanjutnya Arsitektur Security dapat skor 3/5 dengan rekomendasi awareness harus dilakukan secara berkala dan mengacu pada ISO 27001. Terakhir adalah Arsitektur Tata Kelola dengan skor 2,5/5 dan rekomendasinya adalah melengkapi guideline tata kelola untuk proses IT.














