Mengejutkan, sebanyak 91 persen usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia mengalami ketidakstabilan tenaga kerja. Termasuk banyaknya pengunduran diri tenaga kerja ahli yang mencari pengembangan karir di organisasi lain.
Hal itu tentu mempengaruhi proses digitalisasi bisnis mereka mengingat, penelitian itu juga memperlihatkan bahwa 81 persen UKM menganggap transformasi digital memiliki peran kritikal bagi keberlangsungan organisasi mereka ke depannya.
Demikian hasil penelitian yang dilakukan SAP bersama Dynata Research bertajuk “Transformational Talent: The Impact of the Great Resignation on Digital Transformation in APJ’s SME’s”. Penelitian ini mensurvei 1.363 pemilik UKM dan pengambil keputusan di delapan negara di Asia Pasifik dan Jepang (APJ), termasuk 210 responden dari Indonesia.
Dalam penelitian ini, UKM didefinisikan sebagai perusahaan dengan jumlah karyawan antara 11 sampai dengan 250 orang berdasarkan prinsip-prinsip OECD (organisasi kerja sama ekonomi dan pembangunan antar pemerintahan).

“Studi ini membuktikan bahwa ketidakstabilan dan krisis tenaga kerja bukan hanya ancaman ekstensial bagi UKM saja, tetapi berlaku juga untuk organisasi lainnya,” kata Andreas Diantoro, Managing Director SAP Indonesia, dalam acara Media Roundtable, di Jakarta, Rabu, 13/04/2022.
Ia menjelaskan bahwa transformasi digital merupakan cara paling dasar bagi UKM untuk dapat membangun ketahanan organisasi dan melakukan strategi inovatif yang dapat mendongkrak pertumbuhan bisnis mereka.
“Tanpa adanya tenaga kerja yang tepat untuk mendukung perkembangan mereka, maka proses transformasi digital pun turut terhalang. Investasi terhadap tenaga kerja juga harus sejalan dengan investasi inovasi, sehingga dapat membantu UKM di Indonesia bertahan dan terus berkembang,” ujar Andreas.
Baca: Pelaku UKM Indonesia Hasilkan Pemasukan Terbesar di Masa Pandemi
Selain adanya ketidakstabilan tenaga kerja, hasil penelitian itu juga memperlihatkan hasil yang positif. Berupa adanya optimisme yang meningkat saat UKM beralih fokus dari bertahan ke pertumbuhan perusahaan.
Dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 71 persen UKM di Indonesia merasa cukup, atau sangat percaya diri akan pertumbuhan perusahaan mereka selama 12 bulan ke depan.
UKM memiliki penting dalam perekonomian Indonesia. Mengutip data dari Kementerian Keuangan Indonesia, UKM berkontribusi sebesar 61,1 persen terhadap perekonomian nasional (PDB) serta menyerap tenaga kerja sebanyak 117 juta pekerja atau 97 persen dari daya serap tenaga kerja dunia usaha di Indonesia.
Menurut penelitian tersebut, seiring UKM yang sedang menghadapi “Great Resignation” atau tren pengunduran diri dari pekerjaan oleh jutaan karyawan di dunia, maka tidak mengejutkan jika banyak dari mereka yang mencari diluar organisasinya, mitra terpercaya untuk berkolaborasi dalam transformasi digital mereka.
Khusus untuk UKM di Indonesia, sebanyak 72 persen dari mereka setuju adanya mitra eksternal yang dapat membantu dalam transformasi digital menjadi satu keharusan bagi perkembangan bisnis mereka di masa depan.
Sayangnya, 54 persen UKM Indonesia, meski mengatakan mereka mempertimbangkan untuk mencari penyedia layanan eksternal, tidak tahu dari mana harus memulainya.
Padahal memilih mitra untuk membantu transformasi digital suatu organisasi adalah komitmen penting yang tidak boleh dianggap enteng.
“Platform SAP Partner Finder adalah salah satu cara untuk melakukan hal itu,” kata Andreas.
Menurutnya dalam memilih mitra, ada sejumlah hal yang perlu dijadikan pertimbangan, antara lain, “Adanya komitmen Service Level; memiliki keahlian di seluruh aplikasi enterprise dan platform cloud; memiliki ekosistem partner; punya catatan sejarah keberhasilan di industri; dan memiliki pengakuan atas inovasi.”
“Dengan adanya mitra, seperti SAP, UKM bisa fokus pada pengembangan bisnisnya, tanpa perlu repot memikirkan hal-hal yang terlalu teknis terkait TI,” tutupnya.














