Penulis: Abi Abdul Jabbar
Editor: Fauzi
PT Pegadaian (Persero) terus berupaya untuk melakukan transformasi digital dalam seluruh proses bisnisnnya. Perusahaan meyakini transformasi digital sangat penting di era disrupsi ini dan bahkan bisa menjadi tulang punggung bisnis dalam jangka Panjang.
Urgensi dari transformasi digital di bisnis Pegadaian juga seiring dengan target perusahaan yang bertekad untuk menjadi The Most Valuable Financial Company di Indonesia dan Sebagai Agen Inklusi Keuangan Pilihan Utama Masyarakat.
“Di era revolusi teknologi saat ini Pegadaian harus terus bertransformasi demi meningkatkan perannya di ekosistem keuangan digital dan tetap maju menghadapi persaingan. Transformasi digital ini juga dilakukan sejalan dengan perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat yang memerlukan layanan yang efisien, cepat dan akurat, kapanpun dan dimanapun berada,” kata Direktur Teknologi Informasi dan Digital PT Pegadaian Teguh Wahyono dalam wawancara penjurian Top Digital Awards 2022 yang diselenggarakan Majalah IT Works secara virtual pada Kamis (13/10/2022).
Teguh menjelaskan salah satu faktor yang juga melatar belakangi percepatan transformasi digital di Pegadaian adalah karena perusahaan telah dihadapkan pada sejumlah tantangan. Di antaranya adalah adanya regulasi berupa Peraturan OJK No. 31 Tahun 2016 tentang Usaha Pergadaian dan terjadinya perkembangan teknologi fintech & e-commerce.
“Dengan adanya peraturan OJK Nomor 31 tahun 2016 maka gadai swasta yang selama 118 tahun itu dikuasai oleh Pegadaian sekarang betul-betul terjadi persaingan yang luar biasa. Karena sekarang ada lebih dari 100 gadai swasta yang ada di pasar. Kemudian yang kedua tadi adanya perkembangan fintech dan e-commerce yang menawarkan sesuatu yang berbeda baik itu secara bisnis model, bisnis prosesnya, maupun teknologi yang digunakannya yang pasti semuanya serba digital,” kata Teguh.
Tantangan kedua adalah adanya perubahan perilaku masyarakat dimana saat ini dengan perkembangan teknologi semua bisnis mulai bertransformasi dan menghadirkan beragam kemudahan.
“Nah sementara di pegadaian saat ini nasabahnya masih didominasi oleh kalangan ibu rumah tangga sehingga tingkat akseptasi atas pembaruan teknologi di perusahaan sendiri belum begitu maksimal. Tapi kami juga punya target menyasar segmen nasabah baru di kalangan anak muda yang melek akan digitalisasi,” ujar teguh.
Tantangan terakhir adalah sejalan dengan bergabungnya ultra mikro grup ke Pegadaian, perusahaan ditantang untuk melayani lebih banyak UMKM. “Kami juga diterget dalam 5 tahun ke dapan dapat melayani 65 juta UMKM. Bukan hanya dalam hal finansial tetapi kami juga dituntut untuk mengedukasi mereka sehingga para UMKM bisa bisa naik kelas,” papar Teguh.
Teguh menuturkan dalam menghadapi tantangan tersebut Pegadaian telah merumuskan 4 pilar strategi menghadapi perkembangan cepat teknologi dan bisnis kedepan, Yang pertama adalah agile way of working adoption and customer focus mindset atau bagaimana kita membangun mindset dan culture digitalisasi di perusahaan.
Culture mengubah mindset SDM dan teknologi, sehingga kita butuh waktu untuk memfasilitasi culture digital dengan mengikuti cara kerja yang baru, menyiapkan tools yang mengadopsi cara kerja baru untuk kebutuhan kedepan.” ujar Teguh
Kedua adalah customer journey dimana perseroan mengedukasi costumer supaya mereka bisa mengakseptasi perkembangan digital. “Ini juga mengingat saat ini seperti diketahui nasabah Pegadaian itu didominasi oleh kalangan Ibu-ibu jadi kita berusaha mengedukasi mereka supaya bisa melek akan digitalisasi yang dilakukan sekaligus kita juga mengincar akan menarik segmen nasabah baru di kalangan milenial atau kalangan anak muda,” tutur Teguh.
Sementara itu, untuk pilar ketiga adalah bagaimana Pegadaian melakukan digitalisasi bisnis proses dengan tujuan agar pelayanan lebih baik, lebih murah, lebih aman. Dan yang terakhir adalah mengkesplorasi produk produk masa depan.
“Karena kembali kalau kita hanya bertumpu pada produk gadai akan sangat sulit untuk. Sementara kondisi keuangan kita sangat kuat dengan modal yang lebih dari 25 triliun dan dengan CAR Equity baru menyentuh angka 1,6. Artinya apa modal Pegadaian ini cukup untuk menumbuhkan bisnis Pegadaian sampai 5 kali ke depan. Itulah kenapa kami terus explore untuk mengembangkan produk baru ke depan,” terang Teguh.














