Jakarta, Itech- Melambatnya perkembangan industri bioteknologi (bioindustri) di Indonesia dibandingkan dengan negara Asia lainnya seperti India dan China, selain permasalahan anggaran riset yang masih rendah, hasil kajian teknologi dari lembaga Litbang juga sebagian besar belum siap diaplikasikan di Industri. Padahal Indonesia memiliki sumberdaya hayati yang cukup melimpah dan terbesar Nomor 4 setelah Brazil, China dan Afrika Selatan.
Untuk melakukan akselerasi perkembangan bioteknologi tersebut, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggandeng mitra industri asal Tiongkok Qingdao Vland Biotech Group Co. Ltd untuk transfer teknologi dan riset bersama dalam pengembangan teknologi produksi enzim dan biofertilizer. Dalam kerja sama ini, selain transfer teknologi dilakukan kolaborasi laboratorium.
Kepala BPPT, Unggul Priyanto, mengatakan di era kemajuan teknologi sekarang ini, sangat dikendalikan oleh aplikasi bioteknologi yang memanfaatkan keunggulan agen hidup atau sumber daya hayati mikroba. Sumber tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan produk-produk yang punya nilai ekonomi sangat tinggi. “Sumber daya yang memiliki nilai ekonomi tinggi ini, di antaranya vaksin, enzim dan antiobiotik atau antiviral. Produk tersebutlah yang bakal membanjiri pasar di negara-negara berkembang,” katanya di sela-sela penandatangan kerja sama BPPT dengan Qingdao Vland Biotech Group di Jakarta, Kamis (2/6).
Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT , Eniya Listiani Dewi menambahkan dalam mendorong ketahanan pangan melalui kolaborasi riset ini, akan dikembangkan enzim fitase untuk pakan ternak. Sementara Chief Executive Officer (CEO) Qingdao Vland Biotech Group, Chengang, berharap kerja sama berupa transfer teknologi dan pemanfaatan laboratorium bersama tersebut berjalan sukses serta menguntungkan kedua negara. (red/ju)














