Jakarta, Itech- Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman berkolaborasi dengan PPI Hamburg menggelar The International Conference of Integrated Intellectual Community (ICONIC) ke II, dengan “Industrial Revival: Optimizing Strategy on Business, Government and Education”, di Hamburg, 29-30 Oktober 2016. Tujuan konperensi adalah untuk berkontribusi pada peningkatan daya saing negara berkembang dalam kompetisi global khususnya di bidang industri.
Konperensi juga di arahkan sebagai sarana dan proses pembelajaran bagi mahasiswa Indonesia untuk menyampaikan gagasan (secara) ilmiah. Pertemuan ini merupakan ajang bertemunya individu dari berbagai macam latar belakang keilmuan dan profesi dalam sebuah konferensi; sebagai sarana untuk saling bertukar pemikiran, berbagi ide dan (mencari) solusi dari berbagai permasalahan baik di regional Asean ataupun global.
Sekaligus, menyaring dan mengumpulkan ide-ide konstruktif dan mempublikasikan ide-ide tersebut kedalam jurnal internasional, untuk dapat dijadikan sebagai referensi atau solusi untuk masalah yang dihadapi oleh Indonesia. Makalah yang mendaftar lebih 200 dan yang lolos seleksi untuk di sampaikan dalam konperensi ini sebanyak 60 makalah
Konferensi ini akan diawali dengan kuliah umum yang disampaikan oleh Prof.DR.BJ.Habibie yang menegaskan pentingnya suatu strategi estafet dalam setiap langkah pembangunan nasional untuk menjaga keberlanjutan momentum pembangunan nasional menghadapi persaingan regional maupun global..
Pembicara tamu DR.Bambang Setiadi, Ketua Dewan Riset Nasional yang hadir dalam acara itu menyampaikan makalah berjudul “Membangkitkan Indonesia berdaya saing dengan Riset dan Inovasi”. pada awal menyampaikan makalah, Ketua DRN mengingatkan karena acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Soempah Pemoeda, maka semestinya tidak hanya disampaikan sebagai informasi, tapi sangat perlu diucapkan untuk meneguhkan suatu komitmen kembali akan makna Soempah Pemoeda, karena itu ia mengajak seluruh peserta untuk kembali mengucapkan kembali Soempah Pemoeda yang diambil dari teks aselinya.
Ketika para pemuda pelajar membaca kembali teks Soempah Pemoeda itu, getaran spirit kebersamaan dalam pengakuan tanah air, bangsa dan bahasa hanya satu, yaitu Indonesia, demikian dalam terasa di ruang konperensi. Beberapa peserta menitikan air mata. Acara ini juga dihadiri oleh para peserta dari pelajar di luar Jerman bahkan juga dari Indonesia. (red)














