Jakarta, Itech- PT Xynexis International bekerjasama dengan Kementerian Informasi dan Telekomunikasi Indonesia (Kominfo) menggelar kegiatan Born to Control yang bertujuan menjaring dan mencetak para tenaga ahli di bidang cyber security.
Hingga saat ini, Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keahlian dan bakat bidang cyber security, baik untuk memenuhi kebutuhan kalangan industri, bidang pertahanan, serta berbagai institusi dan lembaga kepemerintahan. Padahal seiring meningkatnya penggunaan teknologi internet di Indonesia, ancaman cyber crime (kejahatan dunia maya) juga makin besar. Tak hanya menyasar pengguna perseorangan, namun juga mengincar jaringan infrastruktur teknologi informasi para pelaku usaha (industri) hingga institusi dan lembaga pemerintah. Sehingga jika tidak dilakukan sistem proteksi keamanannya, bisa menimbulkan kerugian besar secara ekonomi.
“Sejalan dengan makin pesatnya penggunaan teknologi informasi dan internet di Indonesia, tantangan di bidang penanganan security ini juga makin kompleks. Baik di kalangan perusahaan, industri, serta berbagai institusi lainya. Apalagi hampir semua bidang, kini sudah memanfaatkan TI dan internet. Sehingga ke depan kebutuhan tenaga ahli cyber security ini juga akan terus meningkat. Sayang, hingga saat ini masih sedikit sekali SDM yang memiliki talent (bakat) dan minat bidang cyber security. Padahal prospeknya sangat besar. Nah, melalui kegiatan Born to Control, kita ingin menjembatani gap (kesenjangan) ini dengan mendorong para talent bidang cyber security untuk dididik menjadi tenaga yang exspert di bidang ini,” ungkap Eva Noor, CEO PT Xynexis International dalam acara launching kegiatan Born to Control (30/1), yang dibuka resmi oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, di Jakarta.
Menkominfo Rudiantara dalam sambutannya mengungkapkan, atas nama pemeritah pihaknya sangat mendukung kegiatan ini. Apalagi di tengah makin tingginya ancaman keamanan cyber yang juga terus meningkat. Diakui di era internet (internet of thing), ancaman kejahatan cyber juga makin tinggi dengan berbagai modus dan varian serangan yang juga beragam. Sehingga untuk mengantisipasi hal itu, diperlukan suatu keahlian tersendiri untuk menanganinya.
“Kita akui ancaman serangan cyber ini memang makin luar biasa yang bisa
menimbulkan kerugian ekonomi besar jika tidak dilakukan proteksi dengan baik. Dari data yang kami dapat, serangan cyber di Indonesia tahun 2015 mencapai 28 juta, atau 75 ribu per hari. Tahun lalu, angkanya masih di atas 28 juta. Ini menunjukkan ancaman keamanan cyber memang makin luar biasa. Sementara SDM cyber security di kita masih sangat terbatas, padahal kebutuhan semakin tinggi. Karena itu, saya sangat mendukung kegiatan Born to Control untuk mencari talent baru di bidang cyber security ini,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini hampir semua industri di Indonesia khususnya yang telah menggunakan Sistem Informasi, membutuhkan banyak Sumber Daya Manusia (SDM) yang menguasai Cyber Security atau keamanan informasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan juga bisa meningkatkan tingkat awarness dan kesadaran di kalangan masyarakat dan pelaku usaha maupun berbagai institusi lain, mengenai pentingnya cyber security ini.
“Saya kira bukan untuk mengkontrol, tapi lebih pada upaya menjaga dan menghindari ancaman kejahatan dan ini diperlukan SDM yang mengerti akan cyber security,” tambahnya.
Dalam paparanya, Eva Noor yang juga penggagas kegiatan ini menyatakan Born to control adalah program untuk pencarian bakat cyber security di Indonesia. Ini juga menjadi satu-satunya di Asia yang bertujuan menciptakan keseimbangan SDM yang ada, agar dapat mengatasi permasalahan kemajuan teknologi informatika. Terutama dari aspek keamanannya. Dalam dunia IT, unsur sumber daya manusia (SDM) memegang peranan utama, termasuk mencegah ketimpangan pesatnya perkembangan dan kemajuan teknologi.
“Dari survei yang pernah saya baca, dunia butuh 15 juta tenaga expertis untuk cyber security. Indonesia juga banyak mebutuhkan tenaga ini, karena itu dari kegiatan ini kami mentargetkan bisa menjaring 1000 tenaga ahli yang kami didik menjadi expert di bidang cyber security untuk berbagai kebutuhan instansi pemerintah, dunia industri, perbankan, telko dan lain sebagainya,” ujar Eva Noor.
Guna menjaring para talent di bidang ini, pihaknya menggandeng Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer (APTIKOM) yang akan membantu menyediakan 10 Universitas di 10 kota secara roadshow yang akan mulai April-Mei 2017. Kegiatan awarnes roadshow ke 10 kota di Indonesia meliputi : Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Bali, Samarinda, Makasar dan Manado. Informasi perihal Born To Control bisa dilihat lewat situs resminya https://www.borntocontrol.id/registration atau https //www.borntocontrol.com/registration.
Jika terpilih menjadi kandidat Gladiator Cyber Security Indonesia (GCSI) dalam acara roadshow BTC di 10 kota di Indonesia, maka peserta masuk kedalam talent pool Born to control. Dimana semua yang daftar walaupun tidak menang akan mendapatkan kesempatan online training secara gratis. Seluruh peserta berhak menjadi anggota BTC yang akan mengasah kemampuan cyber security menjadi lebih baik. Pemenang akan mendapatkan Beasiswa dan hadiah-hadiah menarik serta mendapat kesempatan magang di perusahaan ternama di Indonesia serta mendapat kesempatan kerja dan bertemu dengan pimpinan perusahaan-perusahaan ternama.
“Khusus program pencarian bakat di cyber security ini, tidaklah harus mengerti IT. Karena dengan memiliki ketertarikan saja sudah cukup yang kemudian akan dihimpun dan diberikan training khusus di bootcamp yang akan di selenggarakan 2 minggu pada tahapan kedua setelah lolos seleksi awal dalam menjaring para kandidat,” ujar Eva Noor.
Dari 1.000 peserta dalam tiap kota, diharapkan dapat terseleksi 100 orang terbaik dalam tiap daerah dan diberi pembinaan character building serta training khusus dengan standar internasional . Pembinaan bertujuan agar menciptakan tenaga yang baik bukan hanya keahlian IT-nya saja, namun juga menghasilkan sebuah mindset yang baik pula dari seseorang kandidat yang terpilih kelak. (AC)













