ItWorks- Pemanfaatan teknologi digital sangat penting sebagai bagian dari adaptasi IKM, termasuk batik di era digital. Di antaranya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang bisa diadopsi untuk mendukung pengembangan desain batik, penggunaan QR-Code, dan lainnya untuk pengembangan pasar dan penjualan.
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk batik, di antaranya dapat dilakukan untuk mempercepat proses desain, memperluas ragam motif, serta menjembatani kolaborasi antar generasi dalam upaya pelestarian batik. Teknologi AI juga dapat dimanfaatkan dalam proses produksi batik secara keseluruhan mulai dari desain hingga kontrol kualitas.
“Potensi batik sebagai warisan budaya perlu terus diperkuat, di antaranya dengan memanfaatan teknologi informasi, seperti AI dan teknologi lain untuk dukung IKM batik agar bisa cepat berkembang di era digital,” ungkap Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Komar dalam dialog pada acara kunjungan kerja Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Reni Yanita di Sentra Batik Trusmi, Cirebon, beberapa waktu lalu, sebagaimana dilansir dalam siaran pers Kemenperin (23/06/2025), di Jakarta.
Dalam dialog bersama juga diikuti kalangan perajin, Komunitas Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (KMPIG), Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon.
Dirjen IKMA menyampaikan harapannya agar Sentra Batik Trusmi selain menjadi model sentra IKM yang berdaya saing tinggi dan berbasis budaya lokal, namun juga adaptif terhadap inovasi dan prinsip keberlanjutan. “Diharapkan dari dialog ini dapat dihasilkan berbagai strategi penentuan program kebijakan yang mampu menjadi bentuk konkret dalam mendukung penguatan industri batik nasional dengan strategi pelestarian warisan budaya, perlindungan kekayaan intelektual, dan akselerasi adopsi teknologi di sektor IKM,” ujarnya.
Pada kesempatan dialog tersebut, KMPIG memaparkan penggunaan QR-code sebagai alat pelacakan produk Batik Tulis Merawit Cirebon bersertifikat IG. QR-code ini memuat informasi secara detail mengenai deskripsi batik, identitas penembok dan pembuat motif, tahun dan lokasi produksi, jenis bahan kain yang digunakan hingga hasil verifikasi mutu batik.
Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan, Budi Setiawan menjelaskan, inovasi yang dihasilkan oleh industri batik di Kabupaten Cirebon menjadi dasar pengembangan tingkat kualitas batik secara digital dan transparan. “Hal ini sekaligus dapat meningkatkan nilai informasi dan autentisitas produk, karena konsumen dapat mengetahui secara pasti asal-usul batik yang dibelinya, termasuk motif, bahan baku, serta perajin pembuatnya,” terangnya.
Potensi batik lain juga diangkat dalam diskusi, antara lain Batik Waleran yang memiliki teknik gradasi warna pada motif klasik Mega Mendung. “Produk ini perlu dijajaki potensinya untuk dapat didaftarkan sebagai IG baru yang perlu ditindaklanjuti dengan sinergi antara Kemenperin dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon,” lanjut Budi.
Oleh karena itu, Kemenperin berkomitmen untuk terus mendorong promosi batik nasional, termasuk batik tulis merawit Cirebon dalam ajang nasional, serta memperluas jangkauan pasar melalui sinergi dengan stakeholder terkait. “Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan konkret terhadap penguatan industri batik nasional, dengan strategi pelestarian warisan budaya, perlindungan kekayaan intelektual, dan akselerasi adopsi teknologi di sektor IKM,” tutur Budi.
Kunjungan kerja tersebut dilanjutkan ke IKM Batik Katura yang mendemonstrasikan teknik batik merawit, IKM EB Batik Tradisional dan diakhiri di IKM Batik Hafiyan, dua pelaku IKM yang konsisten dalam pengembangan motif klasik khas Cirebon.














