ItWorks.id- Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus mendorong inovasi pemanfaatan teknologi digital untuk pengelolaan bank sampah, sebagai bagian dari solusi berkelanjutan mengatasi persoalan lingkungan. Pemkot Tangsel menargetkan program minimal 1 RW 1 bank sampah sebagai indikator keberhasilan kinerja kecamatan dan kelurahan.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan saat meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sekaligus Bank Sampah Gas Berlin di RW 09, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu, belum lama ini. Dalam kunjungannya, Pilar mengapresiasi Bank Sampah Gas Berlin yang dinilai berhasil mengintegrasikan pengelolaan sampah, pemberdayaan ekonomi warga, hingga pemanfaatan teknologi digital. Bank sampah ini bahkan telah meraih sejumlah penghargaan dan menjadi percontohan bank sampah ideal di Tangsel.
“Ini salah satu bank sampah yang dinilai sukses oleh Pemkot Tangsel. Tidak hanya ideal dari sisi pengelolaan, tetapi juga mampu menjadi tolok ukur bagi bank sampah lain yang akan dibangun,” ujar Pilar dilansir melalui portak web resmi Pemkot Tangsel, belum lama ini.
Salah satu keunggulan Bank Sampah Gas Berlin adalah penerapan sistem digitalisasi pendataan. Seluruh aktivitas pengelolaan sampah warga—mulai dari setoran hingga nilai ekonominya—tercatat dalam aplikasi yang dapat diakses secara transparan oleh nasabah bank sampah.
Melalui sistem tersebut, warga dapat memantau langsung saldo tabungan sampah mereka, sehingga meningkatkan kepercayaan dan partisipasi masyarakat.“Ini yang membuat warga semangat. Mereka tahu buang sampah itu ada hasilnya. Model digital seperti ini ke depan harus disebarluaskan agar bank sampah lain bisa meniru,” tegas Pilar.
Selain inovasi digital, Bank Sampah Gas Berlin juga menerapkan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik bernilai ekonomi—seperti botol plastik, kardus, minyak jelantah, dan botol kaca—dikelola secara optimal. Hanya sampah residu yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Pilar mencatat, dari 10 RW di Kelurahan Bakti Jaya, tujuh RW telah memiliki bank sampah. Bahkan, terdapat satu RW yang mengelola dua bank sampah sekaligus.“Artinya tinggal tiga RW lagi. Bahkan ada RW yang punya dua bank sampah, itu lebih bagus lagi. Siapapun yang mau berpartisipasi, ayo kita dorong,” katanya.
Pemkot Tangsel, lanjut Pilar, menargetkan program minimal 1 RW 1 bank sampah sebagai indikator keberhasilan kinerja kecamatan dan kelurahan. Program ini akan didukung melalui berbagai skema pendanaan, mulai dari APBD, swadaya masyarakat, donasi, hingga kolaborasi lintas perangkat daerah.“Kita manfaatkan semua instrumen yang ada supaya bank sampah TPS3R di setiap wilayah Tangsel ini bisa hidup. Minimal satu RW, satu bank sampah,” ujarnya.
Menariknya, pengelolaan bank sampah ini juga terintegrasi dengan kelompok pertanian terpadu masyarakat. Kompos hasil pengolahan sampah dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan, seperti sayuran, yang hasilnya turut menopang ekonomi warga dan ketahanan pangan lokal. Kelompok tersebut bahkan baru saja memanen sekitar 10 kilogram kangkung.“Manfaatnya luas, bukan hanya soal sampah, tapi juga ekonomi warga dan ketahanan pangan. Ini contoh konkret yang harus direplikasi,” ungkap Pilar.
Di akhir kunjungan, Pilar kembali mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan sampah. Ia menegaskan bahwa pelanggaran, seperti membuang sampah sembarangan, dapat dikenakan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku.“Sampah ini tanggung jawab kita bersama. Kalau bisa diselesaikan dari hulu, beban TPA akan jauh berkurang. Inilah kunci pengelolaan sampah yang cerdas dan berkelanjutan,” pungkasnya














