ItWorks.id- Ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tuntutan tata kelola perusahaan mendorong Chief Financial Officer (CFO) di Indonesia untuk mempercepat pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini dinilai bukan sekadar instrumen efisiensi keuangan, melainkan semakin penting untuk menghasilkan insight strategis, mendeteksi risiko lebih dini, dan memperkuat kualitas pengambilan keputusan.
Dorongan tersebut mengemuka dalam laporan Deloitte Asia Pacific CFO Pulse Survey. Survei menunjukkan, CFO di Asia Tenggara masih optimistis terhadap prospek perusahaan dalam 12 bulan ke depan, meskipun keyakinan terhadap perekonomian global jauh lebih rendah.
Optimisme bersih atau net optimism CFO terhadap kinerja perusahaan tercatat sebesar 23%. Angka ini 39 poin persentase lebih tinggi dibandingkan tingkat keyakinan mereka terhadap perekonomian global. Sebanyak 81% CFO memperkirakan laba perusahaan meningkat atau setidaknya tetap stabil dalam satu tahun mendatang.
Namun, optimisme tersebut berjalan beriringan dengan kewaspadaan terhadap berbagai risiko eksternal. Sebanyak 79% CFO memperkirakan konflik Timur Tengah akan berdampak negatif terhadap organisasi mereka. Karena itu, pengendalian biaya menjadi prioritas 73% CFO, sementara 55% lainnya menempatkan likuiditas dan pengelolaan kas sebagai fokus utama.
Di tengah kondisi tersebut, fungsi keuangan dituntut tidak berhenti pada penyajian laporan keuangan. CFO perlu menyediakan informasi yang lebih cepat dan relevan bagi komite audit dan dewan, terutama mengenai perubahan kondisi bisnis, potensi risiko, serta konsekuensi dari keputusan strategis yang ditunda.“Dalam kondisi penuh gejolak, komite audit tidak sekadar membutuhkan lebih banyak data. Mereka juga membutuhkan orientasi yang lebih dini – visibilitas mengenai apa yang berubah, apa yang masih belum pasti, serta keputusan strategis yang dapat mempersempit pilihan apabila ditunda,” ujar HO Kok Yong, CFO Program Leader, Deloitte Southeast Asia dilansir dalam rilis pers (15/09/2026).
Menurut dia, komite audit menentukan arah, sedangkan CFO memastikan organisasi mampu menavigasi perubahan dengan kejelasan dan transparansi.
AI Jadi Pengungkit Tata Kelola
Urgensi modernisasi fungsi keuangan semakin kuat seiring meningkatnya ekspektasi terhadap peran CFO sebagai penghubung strategis antara manajemen dan dewan. Laporan Deloitte, The Audit Committee: A North Star for CFOs Navigating Uncharted Waters, mengungkapkan 90% anggota komite audit berharap CFO menjalankan peran tersebut.
Akan tetapi, masih terdapat kesenjangan dalam frekuensi penyampaian informasi. Sebanyak 62% anggota komite audit menginginkan pembaruan informasi secara berkala hingga berkelanjutan. Sementara itu, hanya 36% CFO yang menyampaikan informasi dengan frekuensi serupa. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa tantangan tata kelola bukan semata-mata terletak pada ketersediaan data. Persoalan yang lebih mendasar adalah kemampuan mengolah data menjadi insight yang tepat waktu dan relevan bagi pengambilan keputusan.
Dalam konteks inilah, AI memiliki peran strategis. Pemanfaatan AI dapat diarahkan untuk membantu fungsi keuangan menganalisis data, mengidentifikasi pola yang tidak biasa, memantau indikator risiko, serta mempercepat penyusunan informasi bagi manajemen dan komite audit.
Dengan dukungan teknologi tersebut, CFO memiliki peluang lebih besar untuk mengurangi waktu yang terserap pada pekerjaan rutin dan memusatkan perhatian pada analisis, pengelolaan risiko, serta keputusan strategis.“Komite audit tidak lagi ingin menunggu hingga laporan kuartalan selesai. Mereka ingin mengetahui sejak dini, apa yang berubah, di mana letak ketidakpastiannya, serta keputusan tertunda mana yang berpotensi membesar menjadi masalah serius,” ujar Liana Lim, CFO Program Leader, Deloitte Indonesia.
Menurut Liana, perkembangan ini menunjukkan semakin matangnya tata kelola perusahaan di Indonesia. Namun, kondisi tersebut sekaligus menuntut perubahan peran CFO, dari sekadar penyaji angka menjadi penghubung strategis yang mampu membaca situasi dan memberikan insight secara tepat waktu.
Adopsi AI Masih Terbatas
Meski kebutuhan terhadap AI semakin mendesak, tingkat penerapannya dalam fungsi keuangan masih menghadapi tantangan. Berdasarkan CFO Pulse Survey, sebanyak 46% CFO baru menggunakan AI secara terbatas pada area tertentu. Hanya 12% yang telah menerapkannya secara meluas.Kesenjangan adopsi ini menunjukkan bahwa peluang AI belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk memperkuat kinerja dan ketahanan organisasi.
Deloitte mencatat, hambatan utama penerapan AI di fungsi keuangan mencakup kebutuhan biaya atau sumber daya sebesar 53%, kesenjangan talenta dan keterampilan 50%, serta persoalan kualitas data 43%.
Artinya, percepatan adopsi AI tidak cukup dilakukan dengan membeli teknologi. Perusahaan perlu memastikan kesiapan infrastruktur data, kompetensi SDM, serta tata kelola yang mampu mengawal penggunaannya secara efektif dan bertanggung jawab.
Langkah pengembangan talenta pun mulai menjadi perhatian CFO. Sebanyak 78% CFO menyatakan akan berinvestasi dalam peningkatan keterampilan atau upskilling tenaga kerja.
Bagi fungsi keuangan, pengembangan talenta menjadi penting agar pemanfaatan AI tidak berhenti sebagai proyek otomatisasi, melainkan berkembang menjadi kemampuan organisasi dalam menghasilkan analisis yang lebih tajam dan keputusan yang lebih berkualitas.
Liana menegaskan, adopsi AI perlu berjalan seiring dengan pengembangan talenta dan perencanaan suksesi. Keduanya merupakan fondasi penting untuk memastikan transformasi digital memberikan dampak berkelanjutan terhadap tata kelola.
“Adopsi AI tanpa rencana suksesi yang kuat ibarat mengotomatisasi kapal tanpa ada nahkoda yang mengendalikannya. Bagi CFO di Indonesia, peluang terbesarnya bukan sekadar efisiensi, melainkan memanfaatkan AI untuk meluangkan waktu bagi pengambilan keputusan krusial, sekaligus secara terarah memperkuat kesiapan talenta penerus,” jelasnya.
Namun, dukungan komite audit terhadap agenda tersebut masih perlu diperkuat. Hanya 15% CFO yang menilai dukungan komite audit terhadap peningkatan teknologi sudah mendekati ideal. Angka ini lebih rendah dibandingkan dukungan terhadap pengembangan talenta yang mencapai 33%.
Sementara itu, perencanaan suksesi baru menjadi agenda prioritas bagi 48% komite audit. Deloitte menilai, kesenjangan tersebut perlu dijembatani melalui tanggung jawab bersama. Komite audit perlu mendukung investasi teknologi dan perencanaan suksesi sebagai bagian dari fondasi tata kelola perusahaan. Di sisi lain, CFO harus membangun mekanisme assurance yang kuat untuk memastikan informasi yang disampaikan jelas, akurat, dan mampu mendukung respons cepat ketika kondisi bisnis berubah.
Dengan demikian, AI dapat ditempatkan bukan hanya sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga sebagai pengungkit tata kelola yang membantu perusahaan menghadapi ketidakpastian, memperkuat pengelolaan risiko, dan menjaga keberlanjutan bisnis.














