ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Hasil Riset Ini Ungkap Ketidaksiapan Perusahaan dalam Mengelola AI Agentik

Fauzi
28 October 2026 | 14:29
rubrik: Research
Share on FacebookShare on Twitter

ItWorks.id – OutSystems meluncurkan hasil riset bersama CIO Dive dan KPMG tentang kesenjangan antara keyakinan perusahaan dan kesiapan operasional dalam mengelola sistem AI agentik.

Riset yang berjudul Engineering Business Outcomes: The Shift to Agentic Systems tersebut menemukan bahwa 82% eksekutif meyakini perusahaan mereka mampu mengikuti perkembangan dalam mengatur, mengintegrasikan, dan memantau AI agentic saat mulai digunakan di lingkungan produksi. Namun, hanya 26% yang menyatakan perusahaannya sangat siap menyelesaikan konflik di antara agen, sistem, dan alur kerja yang telah terautomasi.

Seiring alat pengembangan semakin mudah diakses dan tekanan ekonomi meningkat, perusahaan mulai beralih dari eksperimen menuju penerapan AI agentik dalam skala lebih luas. Pergeseran ini menandai babak baru bagi AI agentik di lingkungan perusahaan. Dalam lima tahun ke depan, 71% eksekutif memperkirakan aplikasi akan menyelaraskan pekerjaan lintas sistem, tim, dan proses bisnis, sekaligus mendukung workflow multi-langkah yang lebih kompleks. Laporan tahun ini mengulas kapabilitas yang dibutuhkan perusahaan untuk merancang, mengatur, dan mengorkestrasi sistem agentik tepercaya agar dapat mewujudkan potensi tersebut menjadi dampak bisnis nyata.

“Sebanyak 82% eksekutif mengatakan mereka mampu mengikuti perkembangan AI agentik, tetapi hanya 26% yang mengatakan mereka mampu menyelesaikan konflik di antara agen tersebut,” ujar CIO OutSystems, Tiago Azevedo. “Di sinilah tantangan sesungguhnya bagi perusahaan. Dari pengalaman menerapkan agen di berbagai lini bisnis, saya belajar bahwa keamanan harus dibangun ke dalam platform sejak awal, bukan baru diperiksa setelahnya. Dengan menegakkan kebijakan saat agen beroperasi, perusahaan dapat bergerak lebih cepat tanpa harus meragukan keandalan sistem yang mereka bangun.”

Secara keseluruhan, hasil survei terhadap lebih dari 850 pengambil keputusan bidang TI menunjukkan adanya kesenjangan antara keyakinan perusahaan terhadap tata kelola AI dan kesiapan operasionalnya. Meski begitu, 83% perusahaan telah mengandalkan proses TI, keamanan, atau kepatuhan, tinjauan khusus, maupun kebijakan dan pemantauan terpusat untuk mengawasi agen AI yang dapat bertindak secara otonom di berbagai aplikasi dan workflow.

BACA JUGA:  Komdigi-Yandex Gelar Pelatihan dan Kompetisi Machine Learning Gratis

Namun, pengawasan masih sebagian besar dipimpin manusia dan bersifat prosedural; hanya 5% yang telah menerapkan kontrol otomatis, jejak audit, dan titik tinjauan formal oleh manusia. Tantangan saat ini adalah menerjemahkan kebijakan tata kelola tersebut menjadi kontrol runtime yang dapat diterapkan secara konsisten di mana pun agen beroperasi.

Laporan ini juga menemukan bahwa seiring meluasnya adopsi AI agentik, tantangannya bergeser dari membangun agen individu menjadi mengelola ekosistem kompleks yang terdiri atas model, aplikasi, data, dan alat pihak ketiga. Alih-alih berkonsolidasi pada satu vendor, perusahaan memprioritaskan fleksibilitas dan interoperabilitas. Sebanyak 74% menyebut integrasi dengan aplikasi dan sistem yang sudah ada sebagai prioritas, 63% menyoroti orkestrasi agen lintas sistem, dan 62% mengutamakan kemampuan untuk berganti model, vendor, dan platform dari waktu ke waktu.

Temuan utama lainnya dalam laporan ini, termasuk wawasan regional dari 209 responden di Australia, India, dan Jepang mencakup:

● Kepercayaan terhadap AI agentik bergantung pada keandalan seluruh alur kerja: Perusahaan kini lebih menekankan pengujian sistem agentik secara menyeluruh, bukan hanya agen satu per satu. Pengujian ini mencakup interaksi antar agen, penanganan pengecualian, tindakan yang bertentangan, dan mekanisme pemulihan (rollback). Sebanyak 81% eksekutif menilai pengujian, evaluasi, dan validasi perilaku agen sangat penting saat memilih platform atau alat AI.
● Konteks perusahaan merupakan prasyarat AI tepercaya: Lebih dari sepertiga responden (35%) menyebut konsistensi data dan berbagi konteks sebagai hambatan utama orkestrasi. Data ini menegaskan perlunya agen beroperasi dengan menggunakan data perusahaan yang diatur, status aplikasi, dan proses bisnis, bukan hanya mengandalkan pengetahuan model generik.
● Organisasi mengukur AI agentik berdasarkan capaian bisnis: Pengurangan kesalahan menjadi metrik utama (64%), disusul kepatuhan dan pengurangan risiko, produktivitas karyawan, serta penghematan biaya. Di Australia, India, dan Jepang, lebih banyak perusahaan mengukur dampak AI agentik dari produktivitas karyawan (73%) dibandingkan di Eropa (52%) dan Amerika Utara (45%). Namun, secara global, hanya 12% responden mengatakan AI agentik telah mempercepat peluncuran produk, layanan, atau pengalaman pelanggan baru. Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat operasional mulai terlihat, sementara transformasi bisnis yang lebih luas masih berada pada tahap awal.
● Asia Pasifik memimpin dalam kesiapan AI agentik yang dilaporkan: Sebanyak 39% responden di kawasan ini menyatakan sangat siap menyelesaikan konflik agentic AI, dibandingkan dengan 29% di Eropa dan 18% di Amerika Utara. Kawasan ini juga memimpin dalam kontrol tata kelola otomatis. Sebanyak 14% melaporkan telah menerapkan kontrol otomatis, jejak audit, dan titik tinjauan oleh manusia, dibandingkan dengan 3% di Eropa dan 2% di Amerika Utara.

BACA JUGA:  Laporan Work Trend Index 2024 Ungkap Keadaan AI dalam Dunia Kerja di Indonesia

“Jaminan atas sistem agentik harus dirancang sejak hari pertama—jaminan itu tidak bisa sekadar diperiksa setelah semuanya terjadi,” kata Managing Director KPMG, Michael Harper.

“Pencatatan log tradisional dan tata kelola prosedural dirancang untuk perangkat lunak statis, bukan AI yang dinamis. Untuk menjembatani kesenjangan antara keyakinan tinggi dan kesiapan operasional yang sesungguhnya, perusahaan memerlukan kemampuan untuk menjalankan kebijakan sebagai kode dan menerapkan pagar pengaman saat sistem berjalan. Dengan begitu, bisnis memiliki keleluasaan untuk berinovasi sekaligus menjaga keamanan, keandalan, dan fokus pada capaian bisnis di seluruh alur kerja,” tandasnya.

Tags: Agentic AIAIGenerative AIOutSystems
Previous Post

Komdigi Perluas Kolaborasi Inovasi Kesehatan Digital melalui Garuda Spark

Next Post

OttoDigital Hadirkan HelloBill, Aplikasi Kasir Sesuai Karakteristik Industri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

TOP Digital Awards 2026: Kembangkan AI untuk Dukung Kerja Jurnalistik, LKBN Antara Tak Kesampingkan Akurasi dan Tata Kelola

TOP Digital Awards 2026: Kembangkan AI untuk Dukung Kerja Jurnalistik, LKBN Antara Tak Kesampingkan Akurasi dan Tata Kelola

Mi’roji
28 October 2026 | 16:07

TOP Digital Awards 2026: Ciptakan Trusted Intelligent Financial Infrastructure, Artajasa Buktikan Efisiensi Operasional Tembus 90%

TOP Digital Awards 2026: Ciptakan Trusted Intelligent Financial Infrastructure, Artajasa Buktikan Efisiensi Operasional Tembus 90%

Busthomi
28 October 2026 | 13:32

TOP Digital Awards 2026: Tingkatkan Layanan dan Kinerja Bisnis, BRI Danareksa Sekuritas Optimalkan AI dan Otomasi

TOP Digital Awards 2026: Tingkatkan Layanan dan Kinerja Bisnis, BRI Danareksa Sekuritas Optimalkan AI dan Otomasi

Fauzi
27 October 2026 | 21:44

TOP Digital Awards 2026: Perpusnas Perkuat Ekosistem Perpustakaan Digital, Andalkan Integrasi Sistem dan AI Tepercaya

TOP Digital Awards 2026: Perpusnas Perkuat Ekosistem Perpustakaan Digital, Andalkan Integrasi Sistem dan AI Tepercaya

Mi’roji
27 October 2026 | 16:26

TOP Digital Awards 2026: Tingkatkan Kepercayaan Nasabah, Bank Bapas 69 Perkuat Digital Banking dan Humanis

TOP Digital Awards 2026: Tingkatkan Kepercayaan Nasabah, Bank Bapas 69 Perkuat Digital Banking dan Humanis

Albarsah
26 October 2026 | 14:44

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TOP Digital Awards 2026: Tingkatkan Layanan dan Kinerja Bisnis, BRI Danareksa Sekuritas Optimalkan AI dan Otomasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Top Digital: Inovasi Digital PGE Selain Percepat Proses Bisnis Hasilkan Efisiensi Puluhan Miliar Rupiah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rakernas ISAA 2026, Kemenhub Dorong Profesionalisme Layanan Keagenan Kapal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Garmin Luncurkan fēnix 9 dan fēnix 9 Pro di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

Survei: 80% Perusahaan Nyatakan AI Masih Terhambat oleh Tantangan Akses Data

Agen AI Menguji Asumsi Keamanan Perusahaan

Fauzi
2 October 2026 | 15:36

Oleh: Carolyn Duby, Field CTO dan Cybersecurity Lead, Cloudera ItWorks.id - Pembahasan keamanan siber seputar AI sering kali berpusat pada...

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Ahmad Churi
24 September 2026 | 16:30

Oleh: Sheila S. Fauzi Regional Marketing Manager, Concentrix. Dewasa ini perkembangan penggunaan atau adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto