Dengan populasi dan produk domestik bruto (PDB) terbesar di Asia Tenggara, Indonesia merupakan pasar potensial bagi sektor ekonomi digital. Pemerintah menargetkan Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di Asia Tenggara pada 2020.
Tahun 2018 ini diprediksi akan menjadi puncak pertumbuhan ekonomi kreatif. Hal ini didasari oleh data survei BEKRAF dengan Badan Pusat Statistik (2016) bahwa Industri ekonomi kreatif di Indonesia pada 2015 lalu tercatat menyumbangkan Rp 852 triliun kepada pendapatan domestik bruto (PDB) nasional, dan di tahun 2016 tercatat naik mencapai Rp 922,58 triliun dengan nilai kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 7,44%.
Saat ini, pasar ekonomi digital Indonesia mencakup e-commerce, sektor financial technology, internet of things (IoT), dan penyedia jasa daring atau on demand service. Sebagai contoh, berkembangnya industri ekonomi kreatif tidak bisa dipisahkan dari e-commerce di Indonesia. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan pertumbuhan e-commerce mencapai 60% – 80% per tahun. Semakin tidak terbendungnya pasar digital menjadikan e-commerce bisa menjadi salah satu pondasi dari kekuatan ekonomi Indonesia.
Konglomerat Tanah Air Masuk ke Bisnis Digital
Potensi ekonomi digital yang terus tumbuh itu telah digarap sejumlah konglomerat di Tanah Air dengan mulai berekspansi ke sektor ini sebagai salah satu sumber pendapatan grup perusahaannya. Selain menjalankan bisnis tradisionalnya yang sudah mapan, mereka membangun perusahaan ventura yang menginjeksi modalnya di sejumlah start-up teknologi.
Mengutip pemberitaan di media, tercatat ada lima keluarga konglomerat yang telah melebarkan sayapnya di bisnis digital yaitu: Djarum Group melalui bendera Global Digital Prima Venture dan Merah Putih Inc.; Salim Group melalui Philippine Long Distance Telephone Company; Sinar mas Group dengan Sinar Mas Digital Venture; Lippo Group yang mendirikan Venturra Capital, serta Emtek yang memiliki KMKLabs.
Kelompok usaha Bakrie Group, Kompas Gramedia Group, serta Medco Group memiliki anak usaha di sektor digital.
Kelompok-kelompok perusahaan ini menginjeksi start-up lokal maupun di luar negeri yang meliputi bidang e-commerce, market place, online sosial media, teknologi pendidikan, hingga mata uang digital. Ekspansi keluarga ini diperkirakan semakin luas, seiring peralihan pengendali perusahaan ke generasi yang lebih muda.
Sektor Perbankan Menggarap Ekonomi Digital
Sektor teknologi juga dilirik sektor perbankan untuk mendongkrak penyaluran kredit. Perusahaan rintisan atau startup yang sedang berkembang merupakan salah satu yang mereka incar.
Perbankan memberikan pembiayaan kepada perusahaan startup dengan dua metode. Yakni, pembiayaan secara langsung ataupun melalui anak usaha.
Bank Mandiri, sebagai bank terbesar di Indonesia, melalui Corporate Venture Capital yaitu Mandiri Capital Indonesia telah membiayai startup di bidang fintech yaitu: privyid, moka, amartha, cashlez, yoke!, dan digital artha media.
Tahun ini Bank Mandiri menargetkan untuk melakukan investasi di empat startup baru kata Eddie Danusaputro, Direktur Utama Mandiri Capital kepada media di Jakarta (5/6).
Saat ini, Mandiri Capital sedang melakukan uji tuntas atau due diligence dengan tiga perusahaan rintisan. Jika tidak ada aral melintang, pembiayaan kepada startup akan selesai di awal kuartal III-2018. Anak usaha Bank Mandiri ini sudah menyiapkan dana sebesar Rp 50 miliar–Rp 500 miliar untuk investasi tersebut.
Bank swasta terbesar, BCA juga berencana menginjeksikan dana Rp 200 miliar ke perusahaan modal ventura miliknya, Central Capital Ventura, di tahun ini. Selanjutnya dana itu akan disalurkan kembali ke perusahaan rintisan.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) juga ingin menyalurkan pembiayaan ke perusahaan rintisan. Untuk mendukung hal itu, BRI sudah membeli 35% saham Bahana Artha Ventura sebagai bagian dari rencana pengembangan bisnis kedepan. Saat ini, BRI sudah mulai menjalankan Bahana Ventura sebagai pemilik baru.














