Keamanan siber telah jadi isu prioritas seluruh negara di dunia sejak teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam aspek sosial, ekonomi, hukum, organisasi, kesehatan, pendidikan, budaya, pemerintahan, keamanan, pertahanan, dan lain sebagainya.
Berbanding lurus dengan tingginya tingkat pemanfaatan TIK tersebut, tingkat risiko dan ancaman penyalahgunaannya juga makin tinggi dan kompleks.
Dono Indarto, Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi, BSSN mengatakan, “Kompleksitas tersebut makin meningkat sejak akhir tahun 2019, dimana dunia disibukkan dengan merebaknya kasus Corona Virus yang kemudian disebut sebagai COVID-19.”
“Sejak itu, terjadi akselerasi transformasi digital yang sangat cepat. Didorong dengan pembatasan sosial yang mengurangi pertemuan fisik maka pertemuan secara virtual (digital), bekerja dan bersekolah secara digital jadi hal yang lumrah. Hal ini tentu saja punya implikasi besar terhadap kesiapan organisasi menyiapkan infrastruktur keamanan sibernya,” jelasnya saat menyampaikan keynote speech.
Baca: BSSN: Galang Masukan SKSN Untuk Hadapi Kejahatan Siber
Mengutip riset Trend Micro, Laksana Budiwiyono, Country Manager Trend Micro Indonesia mengatakan, “COVID-19 telah mempercepat tren bekerja dari rumah yang sudah berlangsung pada tahun 2019. Namun, kebijakan keamanan tradisional dalam perimeter organisasi, jadi jauh lebih sulit untuk diterapkan di seluruh jaringan yang lebih luas yang terdiri dari jaringan rumah dan pribadi lainnya serta aset yang tidak dikelola di jalur konektivitas.”
Baca: Trend Micro: Sistem Jarak Jauh dan Berbasis Cloud Jadi Sasaran Penjahat Siber di 2021
“Saat organisasi terus memindahkan aplikasi ke layanan Cloud Computing, terlihat penjahat dunia maya meningkatkan serangan Distributed Denial of Service (DDoS) untuk mengganggu akses pengguna dan bahkan mengaburkan infiltrasi yang lebih berbahaya pada sumber daya organisasi,” ungkap Irwan Wibowo, Regional Channel Lead, Alibaba Cloud.
Baca: Alibaba Cloud Tambah Tiga Pusat Data Super Baru
“Menyikapi fenomena tersebut, maka literasi keamanan digital perlu terus dilakukan untuk menciptakan lingkungan siber strategis dan penyelenggaraan sistem elektronik yang aman, andal dan terpercaya, memajukan dan menumbuhkan ekonomi digital dengan meningkatkan daya saing dan inovasi siber, serta membangun kesadaran dan kepekaan terhadap ketahanan dan keamanan nasional dalam ruang siber,” tegas Setiadi Yazid, Center for Cyber Security and Cryptography, UI.
Baca: Literasi Digital: Bersikap Bijak di Dunia Maya
Demikian disampaikan sejumlah pembicara dalam CyberHub Fest 2021 series ke-3, berupa Webminar “Fondasi Keamanan Siber Untuk Lembaga Finansial”, Selasa, 19 Januari 2020, jam 09.00-12.00 WIB.
Para pembicara lain dalam acara ini adalah Intan Rahayu, Direktur Identifikasi Kerentanan dan Penilaian Risiko IIN, BSN; Andri Purnomo, VP – IT Security, DANA Indonesia; dan Ismu Hadi, Ketua Umum, Asosiasi Fungsional Sandiman Indonesia selaku moderator.
CyberHub Fest adalah platform untuk mendukung ekosistem Cyber Security di Indonesia. Tujuan CyberHub Fest 2021 adalah meningkatkan literasi keamanan siber pada lembaga pemerintah, perusahaan negara, perusahaan swasta dan masyarakat umum; mempromosikan pentingnya keamanan siber dalam proses transformasi digital; mendorong implementasi keamanan siber sebagai fondasi layanan digital; dan mempromosikan berbagai produk atau layanan keamanan siber yang ada di Indonesia.














