Penulis: Abi Abdul Jabar Siddiq
Di beberapa daerah kawasan industri menjadi fokus pemerintah setempat. Hal tersebut juga berlaku di Batang, Jawa Tengah. Pada Juni 2020 Pemerintah membangun Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang sebagai percontohan untuk pengembangan kawasan-kawasan industri di daerah lainnya. KIT Batang juga merupakan proyek perwujudan pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi virus corona.
KIT Batang dibangun di atas lahan seluas 4300 hektare dengan sebanyak 450 hektare telah selesai dibangun dan siap untuk digunakan. Proyek ini dibangun dengan tujuan memanfaatkan momentum untuk menangkap peluang investasi asing ini ditargetkan beroperasi pada 2023.
“KIT Batang ini dikembangkan sesuai klaster industri, bukan berdasarkan asal negara. Tentunya ini sesuai dengan asas efektifitas dan efisiensi ekonomi untuk memudahkan penyediaan fasilitas pendukung. Di samping itu, sesuai arahan Presiden Jokowi, KIT Batang harus mengalokasikan minimal 5% dari luas lahan untuk klaster Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memperkuat keberadaan rantai pasok dalam areanya,” kata Marketing Manager KIT Batang Brago Adijaya dalam wawancara penjurian TOP Digital Awards 2021 yang berlangsung secara Virtual pada Jumat (19/11/2021).
“Adapun Core business dari PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) adalah sebagai pengelola kawasan industry yang fokus terhadap pemasaran kavling industri, kavling komersial, dan pelayanan (service-based) terhadap investor.Sementara pemasaran dilakukan khusus untuk penanaman modal luar negeri (FDI) yang termasuk dalam klasifikasi Industri 4.0, sesuai dengan KLBI kawasan, berorientasi ekspor dan dapat membuka banyak lapangan kerja baru,” sambungnya.
Brago mengatakan pembangunan KIT Batang merupakan kolaborasi antara pemerintah setempat dan BUMN dengan konsep infrastruktur dasar dan pendukung disediakan oleh pemerintah. Infrastruktur meliputi akses jalan untuk tol dan non-tol, penyediaan air baku dan air bersih, kereta api, listrik, gas, terminal container darat (dry port) dan pelabuhan.
“Pembangunan kawasan industri ini merupakan pola baru karena menggunakan tanah negara dan fasilitas disediakan pemerintah sehingga investor yang datang hanya perlu membangun pabrik dan langsung beroperasi,” tutur dia.
Ia menuturkan karena di bangun di masa pandemi covid-19, KIT Batang dihadapkan pada tantangan di bidang pemasaran. Dimana seperti diketahui pemasaran tidak bisa dilakukan dengan pertemuan langsung secara door to door. Adanya Pandemi Covid-19 ini tentu mengakibatkan tersendatnya proses pemasaran lahan industry Grand Batang City yang saat ini memiliki fokus utama pada investasi asing (FDI).
“Selain dihadapkan pada tantangan untuk pemasaran, kita juga dipatok dalam satu tahun itu serapan tanah yang terjual itu minimal 30 hektar. Dimana kalau kita melihat history kawasan industri yang lain seperti Jababeka dan lain-lain itu rata-rata 25 hektar terserap dalam waktu 5 tahun jadi rata-rata 1 tahun kawasan industri di Indonesia itu hanya mampu menjual 5 hektar. Jadi kita memulai kawasan ini dengan banyaknya kompleksitas Mulai dari kita serapannya harus tinggi tadi 30 hektar per tahun terus investornya harus asing 100 persen dan kita jualannya banyak juga 4300 hektar,” ujar dia.
Menyikapi tantangan tersebut, Brago menuturkan pihaknya lalu mengoptimalkan pemasaran melalui platform digital yang low cost namun dengan seefisien mungkin. Konsep besar pemasaran digital ini adalah bagaiamana tim marketing KIT Batang bisa menawarkan dengan harga paling kompetitif di Asia Tenggara dan didukung juga oleh fasilitas yang komplit.
“Kita memiliki program pemasaran berbasis digital di mana kita punya solusi bisnis dengan nama Transformation through Digital Marketing yang kita implementasikan di awal tahun ini. Solusi ini kiita kembangkan semuanya full in house,” papar Brago
Ia menambahkan Transformation through Digital Marketing ini mendigitalisasi seluruh proses transaksional, pemasaran properti dan pelayanan lainnya menggunakan platform digital secara keseluruhan dari brand awareness hingga proses purchasing dan signing. Adapun solusi memiliki manfaat, salah satunya Low-Costed Marketing Branding and Awareness (dapat melakukan branding dan pemasaran tanpa harus bertatap muka langsung secara efektif dan efisien).
Selain itu, solusi ini juga punya fitur unggulan yakni Marketing funnel through high-performance website dimana pengelolaan digital marketing Terdiri dari 4 tahapan yaitu digital platform, website, tenant form, dan tenant relations.
“Digital platform tersebut dapat berupa media sosial seperti Instagram, LinkedIn, Facebook dll. yang membantu mendongkrak awareness akan Grand Batang City.Namun, setelah dikaji lebih lanjut tool yang paling tepat digunakan pada digital marketing ini adalah website. Dari website inilah nanti akan didapatkan data leads,” terang Brago.
“Sementara Tenant form merupakan formular yang nantinya dikirim oleh Grand Batang City ke calon tenant, dengan output berupa seleksi tenant (tenancy selection). Di tahap akhir, pihak Tenant Relations akan menutup serangkaian transaksi dengan agreement,” pungkasnya.














