Berbagai inisiatif untuk melahirkan talenta digital Indonesia, tidak terlepas dari perkembangan utama terkini di perekonomian dunia yang mengubah lansekap bisnis dan pasar tenaga kerja.
Pertama, hadirnya Industri 4.0 atau revolusi industri yang keempat. Istilah ini pertama kali dimunculkan pada Hannover Fair, 4-8 April 2011. Istilah ini digunakan oleh pemerintah Jerman, dan dipopulerkan oleh Prof. Klaus Schwab selaku Founder dan World Economic Forum, untuk memajukan bidang industri ke tingkat selanjutnya, dengan bantuan teknologi.
Sederhananya, Industri 4.0 adalah Otomatisasi yaitu kegiatan industri yang berfokus pada digitalisasi seluruh aset fisik dan proses dari awal hingga akhir serta integrasi ke dalam ekosistem digital dengan rekanan rantai nilai. Data & Analitik adalah kemampuan inti dalam Industri 4.0. Penerapan Industri 4.0 digerakkan oleh teknologi yang menjadi sarana utama.
Perkembangan kedua, menurut laporan World Economic Forum 2020, “The Future of Jobs Report 2020”, yaitu pandemi COVID-19 menyebabkan pasar tenaga kerja berubah lebih cepat dari yang diperkirakan.
Laporan dari World Economic Forum itu mengindikasikan telah hadirnya apa yang dapat disebut sebagai “pekerjaan masa depan” atau “future of work.”
“Dan banyak pekerjaan tradisional lainnya akan menjadi “pekerjaan-pekerjaan yang didukung oleh teknologi” atau “tech-enabled jobs”, mengharuskan pekerja yang menempati posisi itu untuk lebih banyak memiliki keahlian digital,” tulis laporan itu juga.
Khusus tentang developer, mengutip laman Indeed, di era modern ini dapat dikatakan hampir semua bisnis (enterprise, UMKM, startup), institusi pemerintah, dan lainnya, membutuhkan jasanya untuk berbagai keperluan. Developer merupakan salah satu pekerjaan yang sedang berkembang di dunia, dengan peningkatan sebesar 22 persen pada tahun 2021 lalu.
Sebagai informasi, developer adalah seseorang yang bertugas untuk mewujudkan desain sebuah produk atau layanan, biasanya berupa software dan website. Ia membuat produk dengan cara menulis baris-baris kode yang rumit dengan menggunakan berbagai bahasa pemrograman seperti Phyton atau HTML.
Developer umumnya dibagi menjadi 3 kategori. Pertama, front-end developer, seseorang yang bertugas untuk menerjemahkan konsep produk ke dalam kode-kode dan bahasa pemrograman tertentu dan mengimplementasikannnya dalam software.
Kedua, back-end developer, pekerjaan mereka berhubungan dengan sejumlah hal yang berkaitan dengan server. Mereka harus membuat kode dan program yang mendukung sebuah software atau server situs. Ini termasuk membuat database dan aplikasi penyertanya.
Terakhir, full-stack developer, ia harus memahami dan mampu melakukan tugas front-end hingga back-end developer. Mereka harus bisa melakukan dua sisi kegiatan development secara sekaligus.
Makin dominannya “tech-enabled jobs”, termasuk developer, sebagaimana dijelaskan di atas juga terlihat di Indonesia.
Laporan LinkedIn, 2020, “2020 Emerging Jobs Report Indonesia, misalnya, menyatakan dari daftar 10 pekerjaan yang tengah banyak dicari, memperlihatkan talenta digital sangat dibutuhkan di Indonesia. Dimana profesi developer seperti DevOps Engineer, Java Script Developer, dan Backend Developer merupakan 3 dari 10 emerging jobs tersebut. Tujuh profesi lainnya yang termasuk dalam daftar itu juga memerlukan ketrampilan digital yang spesifik seperti AI Specialist, Data Scientist, dan Software Quality Assurance.
“Pekerjaan yang paling banyak dicari di Indonesia itu mencerminkan bangkitnya segala sesuatu yang berhubungan dengan digital. Apakah itu peran untuk menjalankan transformasi digital, seperti berbagai software engineer, atau seseorang yang dapat membantu mempromosikan secara online berbagai bisnis, seperti seorang content specialist, maka talenta digital sangat dibutuhkan di Indonesia,” tulis laporan itu.
Menurut LinkedIn, pekerjaan-pekerjaan terkait TI yang makin banyak dicari di Indonesia itu mencerminkan Indonesia sebagai “a digital archipelago”atau Kepulauan Digital.” Dengan tiga faktor utama sebagai pendorongnya, pertama, meningkatnya pengguna internet yaitu 153 juta di tahun 2019, meningkat dari 92 juta di tahun 2015.
“Hal itu mendorong peningkatan sebesar 40 persen ekonomi berbasiskan internet, dimana secara keseluruhan Indonesia diperkirakan menjadi ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2025, dengan nilai sebesar US$ 130 miliar,” tulis laporan LinkedIn mengutip the e-Conomy SEA 2019 oleh Google, Temasek dan Bain & Company.
Faktor kedua, TI dan jasa menjadi sektor yang paling banyak membutuhkan talenta digital. Ini akibat dari banyak digelarnya proyek infrastruktur digital oleh pemerintah. Seperti proyek pita lebar Palapa Ring dengan membangun 35.000 km jaringan kabel optik di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari Making Indonesia 4.0, yang bertujuan menciptakan jutaan pekerjaan baru.
Terakhir, berkembangnya startup dengan status unicorn di Indonesia. Kesuksesan dan cepatnya perkembangan startup-startup dengan valuasi lebih dari US$ 1 juta, juga dikenal sebagai unicorn, menambah lebih banyak “bahan bakar” kebutuhan terhadap talenta digital. Dari 10 posisi teratas unicorn di Asia Tenggara, Indonesia menempatkan 4 startup-nya yaitu GoJek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.
Kesuksesan startup-startup tersebut di Indonesia, khususnya di sektor niaga elektronik (e-commerce) dan pemesan transportasi online (ride-hailing), telah menggaet investasi di seluruh lansekap startup, yang pada gilirannya mengarah ke lebih banyak eskpansi.
“Maka, kebutuhan terhadap talenta digital yang dapat memperluas dan meningkatkan layanan yang diberikan tercermin pada peran-peran kerja yang semakin dicari seperti DevOps engineers, front-end engineers, scrum masters dan full stack engineers,” demikian kesimpulan dalam laporan LinkedIn.
Dibutuhkan Talenta Digital dalam Jumlah yang Masif
Seiring semakin dominannya posisi “tech-enabled jobs” atau talenta digital di lansekap ekonomi dan dunia kerja, jumlahnya pun diperlukan dalam angka yang masif.
Laporan terkait tenaga kerja dari World Economic Forum 2020 juga mengungkapkan bahwa pasar tenaga kerja global dapat menyerap sekitar 150 juta profesi TI sampai dengan tahun 2025 mendatang.
Dari dalam negeri, potensi luas lapangan pekerjaan pun terbuka untuk para talenta digital. Ini karena adanya sejumlah potensi yang mendukung tercapainya Indonesia Digital.
Pertama, sebagaimana disampaikan Kementerian Koordinator Perekonomian yaitu tekad pengembangan ekonomi digital Indonesia tidak hanya untuk jadi pasar. Dimana Indonesia harus jadi pemain global, dengan menjadi kontributor yang signifikan dalam ekonomi digital dunia. Dengan adanya bonus demografi pada tahun 2030, melahirkan kebutuhan 600.000 talenta digital per tahun hingga 2035 mendatang.
Kedua, kebutuhan untuk memperbaiki peringkat Indonesia di dunia dalam hal daya saing, daya saing digital, dan talenta digital untuk memperbaiki peringkat kemudahan melakukan bisnis di Indonesia (easy doing business). Sebagaimana yang disarankan The IMD World Digital Competitiveness (WDC) 2020.
Ketiga, visi Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Dan untuk mencapai visi itu, Indonesia masih membutuhkan 9 juta talenta digital hingga tahun 2035 mendatang berdasarkan data dari Kementerian Kominfo tahun 2020.
Keempat, meningkatnya kebutuhan dari digital native atau startup di Indonesia terhadap talenta-talenta digital untuk memperluas dan meningkatkan layanannya. Saat ini, Indonesia telah menjadi rumah bagi lebih dari 2.000 startup, 8 unicorn, dan 1 decacorn yang berpotensi menjadi kekuatan Ekonomi Digital Indonesia berdasarkan data Greenhouse.co, 2020, “Startup Ecosystem in Indonesia: Key Ingredients, Challenges, and Strategies.”
Kelima, UMKM yang menyerap 97 persen dari total tenaga kerja Indonesia juga semakin memerlukan akselerasi digital untuk on-boarding ke platform online, seperti Gerakan Bangga Buatan Indonesia yang dicanangkan pemerintah, dengan target pada akhir 2023 diharapkan ada 30 juta UMKM on boarding. Begitu pula, dengan perusahaan enterprise, institusi pemerintah, institusi pendidikan, dan organisasi-organisasi lainnya yang gencar mencari talenta digital untuk bergabung.
Terakhir, telah ditetapkannya Roadmap Digital Indonesia 2021-2024 oleh pemerintah, yaitu Kementerian Kominfo, yang menyatakan perlunya percepatan transformasi digital pada empat sektor strategis: infrastruktur digital, pemerintahan digital, ekonomi digital, dan masyarakat digital. Hal itu tentu saja membutuhkan kehadiran talenta digital, termasuk developer, dengan keahlian yang baik terkait TI dan dalam jumlah yang mencukupi.
Semua itu memperlihatkan luasnya potensi lapangan pekerjaan yang terbuka dan masa depan yang cerah untuk para talenta digital di Indonesia.














