Tahun 2023 ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan bisnis PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Betapa tidak, per 1 Januari 2023, PLN EPI resmi beroperasi dengan tugas pokok mengagregasi energi primer, mulai batubara, gas, BBM, dan biomassa untuk kebutuhan seluruh perusahaan PLN Group.
Sebelum itu, anak perusahaan PT PLN (Persero) ini bernama PT PLN Batubara (PLNBB) yang ditugasi melayani kebutuhan batubara beberapa pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di bawah PLN.
Guna mendukung transformasi bisnis tersebut, PLN EPI melakukan sejumlah inovasi bisnis dengan memperkuat tata kelola teknologi informasi (TI) dan keamanan siber. Salah satu inovasi unggulannya adalah melakukan transisi dan integrasi platform tata kelola energi primer dari PLNBB menjadi subholding PLN EPI
“Transisi dan integrasi platform ini sudah kami lakukan sejak 2022,” ujar Adelaido Sufit, Vice President Teknologi Informasi & Digitalisasi PLN EPI dalam presentasi penjurian TOP Digital Awards 2023 yang dilakukan secara daring, beberapa waktu lalu.
Hadir dalam penjurian ini antara lain Efin Febriantoro R. (Direktur Keuangan PLN EPI), Fanina Andini (VP Penagihan dan Pendapatan), Isabela Laksmi Ayu D. (Manager Operasi Teknologi Informasi), dan Leo Nariko (Manager Perencanaan dan Pengembangan Teknologi Informasi). Tim dari PLN EPI ini membawakan materi presentasi berjudul “Bolstering IT Governance and Cyber Security while Executing Innovations During Business and Services Transformation”.
Menurut Sufit, sistem teknologi informasi (TI) di PLN EPI saat ini sudah terintegrasi dengan PLN Holding, dan perusahaan-perusahaan subholding PLN seperti PT Indonesia Power, PLN Nusantara Power, PT Pelayaran Bahtera Adhiguna untuk pengapalan energi primer, serta perusahaan subholding PLN lainnya. “Bahkan sistem kami juga sudah terkoneksi ke Kementerian ESDM untuk data-data pengiriman batubara,” ujar Sufit.
Dengan inovasi tersebut, menurut Sufit, sistem TI PLN EPI mampu menangani lonjakan pemrosesan transaksi energi primer tahun 2023 ini sebesar 670 persen. Sesuai proyeksi, total volume batubara yang ditangani PLN EPI mencapai 56,54 juta ton, sementara pada 2022 hanya 11 juta ton, sehingga naik lima kali lipat. Ini belum ditambah gas, BBM, dan biomassa. Total volume gas bumi yang disalurkan sesuai proyeksi mencapai 898 BBTUD, BBM sebanyak 2,79 juta kiloliter, dan total volume biomassa 1,08 juta ton.
Inovasi IT lainnya adalah digitalisasi tata kelola biomassa yang juga baru diimplementasi tahun 2023. “Biomassa ini menjadi sangat seksi sekarang karena adanya target-target terkait ESG (environmental, social dan governance) yang harus dicapai, di mana 10 persen dari bahan bakar untuk pembangkit PLN itu dari energi terbarukan, salah satunya biomassa,” kata dia.
Sebelumnya, pengelolaan biomassa ini dilakukan secara manual dan tersebar di unit-unit level dua PLN Group.
Pengelolaan operasi biomassa ini mulai dari entry kontrak sampai dengan pengiriman dan penagihan. Adanya platform digital ini, kata Sufit, pengelolaan dan pelaporan operasi tata kelola biomassa menjadi lebih akuntabel. “Ini juga sekaligus merupakan inisiatif PLN EPI dalam percepatan respons terhadap requirement ESG,” ujar dia.
Inovasi TI lainnya yang juga baru diimplementasikan tahun 2023 ini adalah platform big data dan artificial intelligence (AI) untuk perencanaan pasokan energi primer (P2EP) PLN Group. Konteks penerapan teknologi ini terkait transaksi pembelian energi primer di seluruh PLN Group yang bisa mencapai Rp 180 triliun per tahun. “Itu perputaran uang yang sangat besar,” ucapnya.
Menurut Sufit, manfaat platform digital ini adalah kecepatan dan ketepatan pasokan energi primer, cost efficiency rantai pasok, integrasi pengendalian pasokan, fuel mix balance, dan perencanaan pasokan terpusat.
PLN EPI juga memiliki aplikasi konsolidasi laporan keuangan dan inisiasi integrasi pembayaran energi primer PLN Group yang diimplementasikan tahun 2023 dan 2024. Pembayaran energi primer yang mencapai Rp 180 triliun per tahun tadinya dilaksanakan melalui aplikasi-aplikasi yang terpisah di masing-masing entitas PLN Group.
“Selanjutnya akan dilakukan secara terpusat melalui satu aplikasi,” kata Sufit.
Ada beberapa manfaat dari penggunaan aplikasi ini, yakni memberi kemudahan dan peningkatan akurasi dalam konsolidasi laporan keuangan PLN EPI Group. Selain itu juga penegakan SOP pembayaran energi primer gabungan untuk seluruh PLN Group, kemudahan perencanaan dan rekapitulasi biaya energi primer, serta penurunan risiko denda karena pembayaran terlambat.
Sufit juga menegaskan bahwa proses transformasi digital tersebut tetap berjalan di atas koridor tata kelola sesuai standar industri, dan bahkan juga dilakukan up grade referensi dari COBIT 5 menjadi COBIT 2019. Yang paling penting juga, PLN EPI terus berupaya meningkatkan keamanan siber.
“PLN EPI melakukan rapid development di sisi tersebut melalui pembentukan CSIRT (Computer Security Incident Response Team), implementasi teknologi terkait, serta penyusunan IT security roadmap,” ujar Sufit.
Untuk mendukung transformasi digital di PLN EPI, perseroan tahun ini menganggarkan biaya Rp 20,816 miliar. Anggaran tersebut naik dibandingkan pada 2022 yang sebesar R[ 17,92 miliar dan 2021 sebesar Rp 6,55 miliar.
Jumlah SDM dan talent TI pada 2023 ini juga bertambah signifikan menjadi 12 orang untuk karyawan TI tetap, dibandingkan tahun 2022 sebanyak 5 orang. Sedangkan untuk karyawan TI tidak tetap tahun ini berjumlah 3 orang dibandingkan tahun lalu yang hanya satu orang.
Penulis: Nurdian Akhmad














