ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Laporan Nutanix: Adopsi AI Kian Mendesak, di Tengah Meningkatnya Risiko Shadow AI dan Masalah Kesiapan Infrastruktur

Fauzi
2 July 2026 | 13:19
rubrik: Research
Nutanix: Sukses Jangka Panjang Adopsi Gen AI Bergantung Infrastruktur dan Talenta
Share on FacebookShare on Twitter

Nutanix, perusahaan penyedia solusi komputasi hybrid multicloud, hari ini merilis temuan dari survei tahunan Enterprise Cloud Index (ECI) yang kedelapan, edisi sektor kesehatan. Laporan tersebut mengulas kesiapan infrastruktur, adopsi AI, dan tren kontainerisasi di berbagai organisasi kesehatan di seluruh dunia.

Hasilnya menunjukkan bahwa sektor tersebut tengah menghadapi tekanan yang semakin besar. Penerapan AI kini didorong dari level pimpinan, penggunaan shadow AI semakin meluas di berbagai fungsi klinis dan administratif. Sementara infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung beban kerja AI yang aman dan patuh pada regulasi serta, dapat diterapkan langsung di titik layanan pasien (point of care), masih belum tersedia.

Seiring AI bergeser dari pusat data ke titik layanan pasien (bedside), tempat di mana hingga 75% data kesehatan diperkirakan akan dihasilkan, membuat pentingnya kesiapan infrastruktur, kedaulatan data, dan tata kelola klinis menjadi semakin besar. Temuan survei menunjukkan bahwa para pemimpin IT di sektor kesehatan menyadari potensi transformatif AI, termasuk melalui agen AI otonom dan dukungan pengambilan keputusan klinis secara real-time, namun kesenjangan dari sisi organisasi dan infrastruktur yang diperlukan untuk mewujudkan potensi tersebut masih cukup besar.

“Organisasi kesehatan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengadopsi AI. Tetapi besarnya kebutuhan dari para tenaga klinis belum diimbangi dengan kesiapan infrastruktur yang mendasarinya. Dampaknya tidak hanya terbatas pada aspek IT, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan sistem-sistem yang kritikal, akses terhadap data, dan pada akhirnya, keberlangsungan layanan bagi pasien. Karena itu, prioritas para pemimpin di sektor kesehatan kini adalah beralih dari pendekatan yang bersifat reaktif menuju strategi hybrid yang terpadu, untuk menjembatani kesenjangan antara kepatuhan pada regulasi kedaulatan data dan kemampuan menghadirkan insight secara real-time dan berlatensi rendah, yang dibutuhkan oleh pasien,” ujar Daryush Ashjari, Chief Technology Officer dan VP Solution Engineering, APJ di Nutanix.

BACA JUGA:  Waspada, Malware Baru Menyamar Asisten AI Mencuri Data Pengguna

Adapun temuan utama dari laporan Nutanix Healthcare ECI 2026 meliputi:

  • Shadow AI telah digunakan secara luas dan sebagian besar masih belum dikelola dengan baik: Sebanyak 79% organisasi kesehatan menemukan bahwa aplikasi atau agen AI telah digunakan oleh karyawan di luar fungsi IT. Selain itu, sebanyak 83% responden percaya bahwa penggunaan tools dan agen AI di luar pengawasan resmi menimbulkan risiko bagi perusahaan. Persentase yang sama (83%) juga menyatakan bahwa adanya silo atau keterpisahan antara unit bisnis dan IT menyulitkan implementasi inisiatif teknologi secara efektif, sehingga semakin memperbesar tantangan tata kelola seiring meningkatnya adopsi AI.
  • Infrastruktur belum siap mendukung AI di titik layanan pasien: Sebanyak 88% pemimpin IT di sektor kesehatan menilai bahwa infrastruktur yang mereka miliki saat ini belum sepenuhnya siap untuk mendukung penerapan beban kerja AI di lingkungan on-premises. Kesenjangan ini menjadi perhatian serius mengingat proses inferensi AI yang dilakukan langsung di titik layanan pasien, alih-alih hanya mengandalkan pemrosesan di cloud, semakin dianggap sebagai kebutuhan penting untuk menghilangkan risiko latensi dalam layanan klinis. Satu ruang perawatan pasien dapat menghasilkan hingga 7TB data setiap tahun, sementara lingkungan dengan kepadatan perangkat yang tinggi, seperti ruang ICU, dapat memiliki 15 hingga 20 perangkat yang saling terhubung. Kondisi ini menuntut kemampuan pemrosesan AI secara lokal dengan latensi rendah agar layanan klinis dapat terus berjalan tanpa gangguan.
  • AI mempercepat adopsi kontainer seiring organisasi kesehatan memodernisasi strategi aplikasinya: sebanyak 86% organisasi kesehatan menyatakan bahwa AI secara signifikan mempercepat adopsi teknologi kontainer, yang memungkinkan model AI dijalankan secara lokal di sisi layanan pasien, dalam lingkungan yang aman dan mudah dipindahkan. Sebanyak 81% responden memperkirakan tingkat penggunaan aplikasi berbasis kontainerisasi di organisasinya akan terus meningkat, sementara 80% telah membangun aplikasi baru dengan teknologi kontainer. Teknologi kontainer memungkinkan rumah sakit menyimpan data di lokasi tempat data tersebut dihasilkan, yakni di dalam infrastruktur mereka sendiri, sekaligus menghadirkan insight berbasis AI secara real-time tanpa mengorbankan kinerja jaringan.
  • Agen AI dinilai akan membawa perubahan besar bagi operasional layanan kesehatan: sebanyak 58% pemimpin IT di sektor kesehatan meyakini bahwa agen AI akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Sementara 57% memperkirakan agen akan mentransformasi proses bisnis dan operasional, serta lebih dari setengah (55%) melihat potensi agen AI untuk menciptakan produk, layanan, atau sumber pendapatan baru. Dalam tiga tahun ke depan, 57% organisasi memperkirakan akan memanfaatkan agentic AI atau agen AI otonom, bersama dengan AI generatif (62%) dan analitik prediktif atau model machine learning (55%).
  • Kedaulatan data kini menjadi kebutuhan utama, bukan sekadar nilai tambah: Sebanyak 72% organisasi kesehatan menyatakan bahwa kedaulatan data adalah prioritas tinggi atau bahkan persyaratan wajib dalam pengambilan keputusan terkait infrastruktur. Saat ini, 54% organisasi telah menjalankan aplikasi berbasis kontainer di lingkungan on-premises atau private cloud, dan 54% menyatakan perlu mengoperasikan infrastrukturnya di dalam satu negara guna memenuhi harapan pelanggan maupun pemangku kepentingan. Temuan ini mencerminkan tingginya sensitivitas informasi kesehatan yang dilindungi (Protected Health Information/PHI) serta ketatnya tuntutan regulasi yang mengatur lokasi penyimpanan dan pemrosesan data tersebut.
  • Adopsi AI didorong dari level pimpinan dan diperkirakan akan berkembang pesat: sebanyak 55% organisasi kesehatan memperkirakan akan memiliki lebih dari lima aplikasi berbasis AI dalam tiga tahun ke depan, termasuk 12% yang memperkirakan akan menjalankan lebih dari 10 aplikasi AI. Saat ini, 63% organisasi menjalankan aplikasi AI melalui managed service provider, sementara model implementasi hybrid diperkirakan akan tetap menjadi pendekatan utama seiring organisasi berupaya mendukung penerapan AI, baik secara terpusat maupun langsung di titik layanan pasien.
BACA JUGA:  Indonesia Menempati Peringkat Ke-3 Jumlah Serangan Ransomware di Asia Tenggara Sepanjang 2022

Secara keseluruhan, temuan ini menggambarkan satu hal yang jelas: organisasi kesehatan bergerak cepat dalam adopsi AI, namun belum memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukungnya secara aman. Menutup kesenjangan antara pusat data hingga titik layanan pasien membutuhkan perubahan mendasar dalam cara arsitektur IT di sektor kesehatan dirancang, dikelola, dan diperluas skalanya.

Saat data bertemu dengan titik layanan pasien
Temuan ini menunjukkan bahwa sektor kesehatan berada pada tahap krusial dalam perjalanan inovasinya. AI kini bukan lagi sekadar wacana bagi dunia kesehatan, teknologi ini sudah berjalan di lingkungan berbasis kontainer, lintas infrastruktur hybrid, dan semakin sering hadir langsung di titik layanan pasien. Namun, gambaran di baliknya tidak sesederhana itu. Banyak organisasi masih harus mengelola beban kerja secara bersamaan di sistem on-premises, private cloud, dan layanan managed services. Semua berjalan paralel, tetapi sering kali tanpa strategi infrastruktur yang benar-benar terpadu untuk memastikan semuanya bisa berjalan secara konsisten dan aman.

Bagi para pemimpin IT di sektor kesehatan, kondisi ini menghadirkan mandat yang jelas. Beban kerja AI di titik layanan pasien membutuhkan infrastruktur yang mampu memberikan kinerja yang tinggi, menjaga kepatuhan terhadap regulasi, dan mendukung tata kelola klinis. Bukan hanya secara terpusat, tetapi juga secara lokal, di mana latensi dan keberlanjutan sistem secara langsung memengaruhi hasil perawatan pasien. Pendekatan yang hanya mengandalkan cloud tidak lagi memadai.

Kelangsungan layanan klinis dan hasil perawatan pasien sangat bergantung pada kemampuan organisasi kesehatan untuk benar-benar menata ulang cara mereka merancang arsitektur AI, dengan membangun lingkungan data yang aman, komputasi yang skalabel, dan distribusi aplikasi yang andal di seluruh lini organisasi.

BACA JUGA:  Enam Tren Industri Manajemen TI Tahun 2020
Tags: AIGenerative AIHybrid CloudNutanix
Previous Post

Luncurkan SailPoint Agentic Acceleration, SailPoint Modernisasi Cloud Jadi Implementasi Cepat

Next Post

OJK Tegaskan Komitmen Perkuat Keuangan Berkelanjutan dan Bursa Karbon di Forum Global

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Mudah Mengurus Surat Pindah Domisili secara Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • realme P4 Series Meluncur di Indonesia, HP Gaming dengan Baterai 8000mAh Nan Terjangkau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Laporan Nutanix: Adopsi AI Kian Mendesak, di Tengah Meningkatnya Risiko Shadow AI dan Masalah Kesiapan Infrastruktur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Luncurkan SailPoint Agentic Acceleration, SailPoint Modernisasi Cloud Jadi Implementasi Cepat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

Zebra dan Salesforce Perkenalkan Solusi POS Ritel Berbasis Cloud di Android

Dari Logistik hingga Limbah Tekstil: Mengubah Wajah Industri Ritel melalui RFID dan Digital Product Passport

Fauzi
30 June 2026 | 16:58

Oleh: Eric Ananda, Country Manager Indonesia, Zebra Technologies Industri pakaian dan tekstil merupakan motor penggerak utama bagi perekonomian Indonesia. Sepanjang...

Mengurangi ‘Biaya Koordinasi’ untuk Implementasi Private AI yang Lebih Efektif

Fauzi
29 June 2026 | 16:31

Oleh: Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera Private AI sering dipahami sebagai pendekatan yang menjaga data dan model tetap berada...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto